Mahasiswa Universitas Brawijaya Temukan Alat Mempercepat Fermentasi

Editor: Satmoko Budi Santoso

172

MALANG – Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) membuat sebuah alat Integrated Machine Fast Fermentation of Lemna minor sp. as High Protein Feed (In-Minded) guna mempercepat fermentasi tanaman mata lele untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak ikan lele.

Mereka adalah Daman Budi Priyanto, Hermin, Shifaaun Najihah, Lina Nur Faizah, dan Muhamad Ainul Yaqin.

Daman menjelaskan, tanaman mata lele yang juga memiliki nama latin Lemna minor sp. Ini banyak tumbuh di area persawahan maupun di genangan sungai yang tenang. Hanya saja selama ini tanaman tersebut justru dianggap petani sebagai tanaman pengganggu sehingga belum di manfaatkan secara maksimal.

Padahal tanaman mata lele jika dimanfaatkan bisa dijadikan sebagai pakan ikan lele karena memiliki kandungan protein yang tinggi.

“Berdasarkan literatur yang ada menyebutkan, bahwa kandungan protein pada tanaman mata lele cukup tinggi dan akan meningkat jika difermentasi. Dari yang awalnya hanya 25 persen, bisa menjadi 35 persen, jika telah difermentasi,” jelasnya, Kamis (9/8/2018).

Namun, masalahnya menurut Daman, selama ini proses fermentasinya masih dilakukan secara konvensional sehingga memakan waktu cukup lama. Seperti halnya yang dilakukan mitra mereka UPT Pelatihan Teknis Perikanan Budidaya dan Peningkatan Daya Saing Produk Hasil Kelautan dan Perikanan (PTPBP2KP), Kepanjen.

“Di mitra kami PTPBP2KP masih menggunakan metode fermentasi konvensional sehingga waktu fermentasi yang dibutuhkan untuk mencapai kadar protein 35 persen bisa menghabiskan waktu selama 72 jam. Namun dengan menggunakan alat In-Minded melalui metode kontrol suhu dan bakteri yang sesuai, waktu fermentasinya bisa dipercepat menjadi hanya 8 jam,” ungkapnya.

Disampaikan Daman, In-Minded sendiri merupakan teknologi fermentasi cepat berbasis Mix-Proporsional Ingredient dalam pembuatan pakan lele berprotein tinggi yang terdiri dari tiga komponen alat yaitu fermentor, pencampur bahan tambahan pembuat pakan, dan pencetak pelet.

“Setelah difermentasi, mata lele kemudian dicampurkan dengan bahan lainnya seperti tepung ikan untuk kemudian diaduk agar menjadi adonan. Dari adonan tersebut selanjutnya dicetak hingga menghasilkan keluaran berupa pakan ikan lele berbentuk pelet,” terangnya. Pelet inilah yang menjadi output dari teknologi In-Minded, tandasnya.

Lebih lanjut, disebutkan Daman, dalam sekali produksi In-Minded dapat menghasilkan pelet sebanyak 10 kg dalam kurun waktu 8 jam.

Melalui teknologi In-Minded, ia berharap, dapat menekan biaya sekaligus mengefisiensi waktu dalam pembuatan pakan ikan. Sehingga UPT PTPBP2KP dapat meningkatkan produktivitas dalam pembuatan pakan ikan menuju Indonesia Mandiri Pakan Ternak.

“Selama ini kita memang belum bisa menandingi pelet impor dari Thailand. Namun dengan adanya In-Minded diharapkan bisa menghasilkan pakan pelet ikan lele yang memiliki kualitas sebanding dengan pelet impor,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...