Mantan Buruh Migran, Ajarkan Bahasa Inggris Gratis

Editor: Mahadeva WS

135

LAMPUNG – Bekerja di luar negeri sebagai buruh migran, memberi bekal bagi Siti Amsaroh (35), untuk fasih berbahasa Inggris. Kemampuan tersebut, kini diupayakan untuk bisa ditularkan ke anak anak di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengah, Lampung Selatan tempat tinggalnya.

Wanita yang akrab disapa Aam tersebut, memberi pelajaran tambahan, melatih anak-anak di desanya belajar Bahasa Inggris sejak satu tahun terakhir.  Meski hanya lulusan SMP, Dia mulai mahir berbahasa Inggris setelah bekerja di Singapura dan Hongkong. Bekerja di Singapura selama lima tahun sejak 2003 hingga 2008 melalui PJTKI. Setelah sempat pulang, kembali bekerja sebagai buruh migran di Hongkong dari 2010 hingga 2017.

Aam semakin mahir berbahasa Inggris setelah tinggal di Hongkong. Percakapan sekaligus kosakata lebih mudah diperoleh saat bekerja pada majikan dari London, Inggris, yang menjadi native speaker (penutur asli) Bahasa Inggris (English British). “Sebelum berangkat ke Hongkong, saya harus tes wawancara dengan agensi yang akan mempekerjakan saya, termasuk dengan majikan, salah satunya skill percakapan bahasa Inggris dan saya lolos,” ujar Aam kepada Cendana News, Kamis (9/8/2018).

Siti Amsaroh dengan tekun mendampingi salah satu anak usia SD yang belajar bahasa Inggris secara khusus [Foto: Henk Widi]
Kemampuan berbahasa Inggris pasif dan aktif, diperoleh dari pekerjaan sebagai perawat anak-anak ketika di Singapura dan Hongkong. Setelah kembali ke Indonesia, keinginan untuk mengajari anak-anak usia sekolah lancar berbahasa Inggris muncul.

Berbekal hasil bekerja di luar negeri, Aam membuka toko serba ada (Toserba) di desa-nya. Disela-sela menjaga toko tersebutlah, aktivitas memberi tambahan pelajaran dilakukan. Saat sore hari, sejumlah anak meminta diajari Bahasa Inggris saat ada pekerjaan rumah dari sekolah. “Karena sebagian orangtua anak tersebut tahu saya sudah bisa  Bahasa Inggris, ada yang minta diberi les atau pelajaran tambahan,” terang Aam.

Pada awalnya, les Bahasa Inggris diberikan untuk dua anak usia SD. Selanjutnya mulai bertambah menjadi lima orang, termasuk untuk anak usia SMP. Kini, aktivitas tersebut telah diikuti sepuluh orang anak, beberapa diantaranya sudah masuk usia SMA.

Metode belajar Bahasa Inggris yang menyenangkan, menjadi cara belajar bagi anak yang belajar pada Aam. Menulis aktivitas di rumah sejak bangun pagi, hingga tidur malam diceritakan dalam bahasa Indonesia, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Dasar tata bahasa (Grammar), Kosakata (Vocabulary) hingga Percakapan (Conversation), diberikan kepada peserta belajar. “Saya melatih keberanian, rasa percaya diri anak untuk berbicara memakai bahasa Inggris, karena selama ini anak belajar bahasa Inggris pasif,” terang Aam.

Dengan tahapan yang diterapkan, anak-anak mulai mahir berbahasa Inggris. Tekhnik pengucapan huruf dan kalimat, percakapan langsung, diajarkan dengan tutorial, lagu, film, dan buku berbahasa Inggris. Cara tersebut cukup efektif membuat anak-anak menyenangi Bahasa Inggris, yang bisa dimanfaatkan untuk keahlian khusus.

Siti Amsaroh tidak pernah meminta bayaran dengan aktivitas pelajaran tambahan tersebut. Baginya, aktivitas membagi ilmu tersebut, memberikan kesempatan memiliki lawan bicara, seperti saat masih tinggal di Singapura dan Hongkong. Bahkan meski gratis, Aam membuat ruang khusus untuk belajar, yang dilengkapi peralatan layaknya sebuah kelas, karena selama ini anak-anak masih belajar di teras toko miliknya.

Kini, sebagian anak sudah bisa bercakap-cakap dengan Bahasa Inggris. Latihan sekaligus ujian, setiap pekan diberikan sebagai penguji keberanian anak-anak untuk bercakap-cakap dengan Bahasa Inggris. Sejumlah anak yang ikut les, memperoleh nilai cukup baik di sekolah untuk pelajaran Bahasa Inggris.

Aam meyakinkan anak-anak tersebut, Bahasa Inggris bukan sebuah mata pelajaran. Kemampuan untuk menguasainya, akan menjadi sebuah ketrampilan penting. Di Lampung Selatan, ada beberapa destinasi wisata yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara seperti, Gunung Anak Krakatau, Makam Raden Inten II serta sejumlah wisata pantai. Berbekal keberanian melakukan percakapan Bahasa Inggris, anak-anak tersebut bisa menjadi pemandu (guide) untuk wisatawan.

Fitra (13), salah satu siswa SMP yang mengikuti les Bahasa Inggris menyebut, Dia mulai banyak mendapatkan kosakata baru setelah ikut tambahan pelajaran tersebut. Sembari bermain, Dia bisa belajar berbincang dengan menggunakan Bahasa Inggris. Mendapat dukungan dari orangtua, Fitra terus meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris-nya dengan selalu mengajak Aam berbincang dengan Bahasa Inggris.

Belajar setiap sore, di Selasa, Kamis dan Minggu, membuat anak-anak semakin menyenangi Bahasa Inggris. Fitra bahkan mulai banyak membaca sejumlah buku berbahasa Inggris, untuk memperlancar kemampuannya tersebut.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.