Marang, si Manis dari Hutan Kalimantan

Editor: Mahadeva WS

500

BOGOR – Bagi penyuka nangka atau cempedak, harus mencoba salah satu buah saudara jauh nangka, buah Marang. Buah dengan rasa manis dan kulit yang sangat mudah dibuka tersebut, banyak dicicipi oleh pengunjung Taman Buah Mekarsari. 

Staf Produksi Kebun Taman Buah Mekarsari,  Anna Serikat Hutapea mengatakan, Marang berasal dari hutan Kalimantan. Buah tersebut termasuk keluarga nangka-nangkaan. “Marang ini mirip seperti cempedak. Buahnya menggantung di tengah, dengan daging buah yang putih dan biji yang kecil. Rasanya pun manis. Yang membedakannya dengan nangka dan cempedak, baunya yang cukup menyengat dan menyisakan rasa sedikit getir usai memakannya,” kata Anna saat menemani Cendana News menyusuri area buah Marang di Taman Buah Mekarsari, Kamis (30/8/2018).

Buah Marang Matang – Foto Ranny Supusepa

Seperti nangka, Marang juga termasuk pohon yang produktif.  Dalam satu kali masa panen, Marang bisa menghasilkan 25 kilogram buah. Dengan berat maksimal per buah bisa mencapai satu kilogram.

Marang bisa berbuah banyak. Meski dalam setahun, panen hanya sekali. Panen baru bisa dilakukan setelah tanaman berumur lima tahun. “Bisa menghasilkan buah yang banyak pada masa panen. Dengan masa berbuah yang hanya tiga bulan dari fase bunga,  lebih pendek dari nangka,” tambah Anna.

Dari fisik pohon, Marang memiliki kemiripan dengan nangka. Kayu batangnya juga seperti pohon buah nangka. “Kuat dan bagus untuk diolah menjadi bahan baku perabot. Hanya daun Marang tidak seperti nangka. Daunnya lebih lebar dan memiliki bulu halus dibagikan belakangnya,” jelasnya.

Penjaga Kebun Marang, Rendra menyatakan, buah Marang berbau sangit atau seperti bau terbakar. Hal tersebut membuat banyak orang tidak menyukai Marang, meskipun dari rasa, buah Marang rasanya enak. “Kalau ditaruh di pasar, Marang ini bisa nutupin bau buah sepasar mbak. Dan proses browning-nya juga cepat. Lebih cepat dari cempedak,” kata Rendra.

Alasan bau sangit tersebut juga membuat Marang belum masuk ke dalam jajaran buah komersial di Taman Buah Mekarsari.  “Baunya itu banyak bikin orang jadi tidak suka. Selain itu, buah Marang ini terletak di ujung batang pohon. Sehingga agak menyusahkan saat masa panen. Jadi sementara masih untuk koleksi dan pameran saja,” tambahnya.

Tidak tertutup kemungkinan melakukan pemuliaan tanaman, agar baunya bisa hilang. Namun hal tersebut akan menghilangkan ciri khas dari buah Marang itu sendiri. “Marang ini kan monoseus, artinya dia mampu melakukan penyerbukan sendiri. Bisa saja, kita bantu dengan melakukan penyerbukan silang dengan varietas lainnya. Kemungkinannya ada, walaupun butuh beberapa kali percobaan. Tapi karakteristik Marang ya baunya ini,” pungkas Anna.

Baca Juga
Lihat juga...