Masyarakat Adat Bantu Kelola Kawasan Konservasi TN Wasur

1.163
Masyarakat yang mendiami Kampung Wasur di kawasan Taman Nasional Wasur - Foto: btnwasur.blogspot.com

PADANG — Taman Nasional (TN) Wasur merupakan salah satu kawasan konservasi yang istimewa, karena kearifan lokal empat suku asli yang bermukim di dalamnya, terasa sangat kuat melindungi dan mengelola sumber daya alam di dalamnya.

“Selain membantu mengelola sumber daya alam, suku asli ini juga menjadi daya tarik wisata,” kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (2/8/2018).

TN Wasur memiliki kekayaan dan keunikan luar biasa secara ekologi, sosial dan budaya yang membentang pada kawasan seluas 413.810 hektare (ha).

Potensi faunanya tercatat 80 jenis mamalia, di mana 34 spesies telah teridentifikasi dan 32 spesies diantaranya merupakan satwa endemik Papua.

TN Wasur juga menjadi surga bagi 403 spesies burung, dengan 74 jenis diantaranya merupakan burung endemik Papua dan 114 spesies termasuk yang dilindungi.

TN Wasur yang terletak di Merauke, kawasan paling timur Indonesia ini merupakan Ramsar Site (Situs Lahan Basah) yang ditetapkan sejak 2006 berperan untuk melindungi kelestarian dan fungsi lahan basah di dunia, serta telah menjadi anggota East Asian Australian Flyway (EAAF) Site Network karena dianggap berperan penting sebagai tempat persinggahan dan tujuan migrasi bagi burung-burung migran.

“Hampir setengah tahun kawasan ini terendam air pada musim hujan dan selebihnya berubah menjadi kering. Padang rumput dan savana tempat merumput kanguru dan rusa berubah menjadi rawa dan kolam, menjadikan kawasan ini kaya dengan keanekaragaman hayati,” ujar Kepala Balai TN Wasur, Donal Hutasoit.

Secara umum jenis vegetasi di dalam kawasan ini merupakan ekosistem hutan, terdiri dari Hutan Dominan Melaleuca, Hutan Co-Dominan Melaleuca, Eucalyptus, Hutan Jarang, Hutan Pantai, Hutan Musim, Hutan Pinggir Sungai, Hutan Bakau, Savana, Padang Rumput, dan Padang Rumput Rawa. Jenis flora yang mendominasi antara lain Melaleuca, Acacia Leptocarpa dan Eucalyptus.

Beberapa jenis anggrek langka diantaranya jenis Yohanes (Dendrobium yohanes), Kelinci (Dendrobium antenatum) dan Bawang (Dendrobium) juga ditemukan dan ditangkar oleh masyarakat asli dengan binaan dari TN Wasur.

“Luar biasa TN Wasur dengan keanekaragaman hayatinya. Anggrek langka masih bisa ditemukan dan berhasil ditangkar. Ini (penangkaran anggrek) tentu harus didukung dan terus dibina sehingga species anggrek langka ini tidak punah,” kata anggota Komisi IV DPR, Agustina Pramestuti, yang telah melakukan kunjungan kerja ke TN Wasur.

Sebelumnya, kunjungan kerja rombongan Komisi IV DPR mendapat sambutan dua kepala adat yaitu dari suku Kanume dan Marori Men-Gey, diiringi dengan Tari N’Gatsi, tarian adat untuk menyambut tamu agung.

Kepala adat hadir sebagai bentuk apresiasi masyarakat adat setempat kepada pemerintah pusat yang telah mengunjungi dan memperhatikan eksistensi mereka. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...