Mata Air Negeri Pandan, Tumpuan Warga Kalianda

Editor: Mahadeva WS

116

LAMPUNG – Kekeringan yang melanda Lampung Selatan, memaksa warga harus mencari sumber mata air hingga jauh ke wilayah lain. Kemarau berdampak pada debit mata air di sumur gali milik warga di Kecamatan Kalianda, Penengahan.

Khoirul (50), salah satu warga Desa Sukaratu, Kecamatan Kalianda menyebut, Dirinya mengandalkan mata air Negeri Pandan, sebagai sumber air bersih untuk keluarga. Meski berada di desa tetangga, mata air tersebut bisa dipergunakan untuk minum dan memasak.

Air sumur yang masih bisa dipergunakan, sengaja dihemat untuk kebutuhan mandi, mencuci dan keperluan lain. Kondisi air mulai berwarna kecoklatan, karena sudah mencapai dasar. Kemarau yang sudah terjadi selama tiga bulan, membuatnya harus mengangkut air menggunakan jeriken berkapasitas 35 liter.

“Beruntung kami masih bisa mengambil air secara gratis ke mata air negeri pandan yang selanjutnya disalurkan melalui pipa, mengalir terus menerus. Bahkan airnya mengalir ke sungai jika tidak digunakan warga,” terang Khoirul saat ditemui Cendana News tengah mengambil air bersih, Sabtu (25/8/2018).

Khoirul memiliki sumur gali, dengan kedalaman sekira lima belas meter. Pada kondisi normal, air bisa mencapai kedalaman empat meter. Namun saat kondisi kemarau, air surut hingga mencapai dua belas meter. Penghematan, penggunaan air bersih masih bisa diantisipasi dengan rutin mengambil air bersih dari mata air negeri pandan.

Debit air bersih di mata air negeri pandan saat kemarau mencapai dua liter permenit, sementara, saat musim hujan, bisa mencapai lima liter permenit. Pada musim kemarau, Khoirul memastikan, sejak pukul 05.00 pagi, sudah banyak warga mengantri mengambil air bersih.

Beberapa wilayah di Kalianda yang sama sekali tidak mendapatkan akses air bersih, memanfaatkan air dari mata air Negeri Pandan. Hingga siang warga yang mengambil air bersih masih terus bertambah, bahkan sering harus mengantri menunggu giliran. Air bersih yang mengalir terus menerus bisa diambil secara gratis, tanpa harus membayar. “Oleh pemilik air bersih yang mengalir secara alami boleh diambil asal tidak untuk diperjualbelikan,” beber Khoirul.

Warga Desa Kekiling, Santoso (38), juga secara rutin mengambil air dengan cara mengangkut air (ngangsu) menggunakan jeriken. Dua jeriken dengan kapasitas 35 liter, untuk membawa pulang air yang ditampung ke bak penampung plastik. Santoso harus bolak balik selama lima kali dalam sehari, untuk menampung air bersih yang bisa digunakan selama tiga hari.

Air bersih yang diambil secara gratis, kondisinya baik, dan bisa langsung diminum tanpa harus dimasak. Khusus untuk kebutuhan air minum, ia menggunakan galon khusus untuk dihubungkan dengan alat dispenser. Penggunaan air bersih mata air Negeri Pandan cukup menghemat pengeluaran, karena tidak perlu membeli air bersih dari pedagang air isi ulang.

Saat kemarau, sejumlah pedagang air bersih isi ulang menjual air 19 liter dengan harga Rp3.000. Sementara pedagang air keliling, menggunakan tangki dengan harga Rp175.000 untuk kapasitas 600 liter. Air bersih yang dibeli dengan menggunakan tangki, pada musim kemarau oleh warga kerap dipergunakan untuk keperluan mandi dan mencuci. Meski kemarau, harga air bersih dijual dengan harga normal oleh para pedagang air.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.