Memaknai ‘Art Brut’, Lukisan Karya Difabel Mental

Editor: Koko Triarko

360
JAKARTA – Seni tak hanya karya hiburan semata, tapi juga bisa menjadi terapi jiwa. Demikian mengemuka pada pameran Celebrating Therapeutic Art Activities, dalam rangkaian acara Post Fest 2018. Sebuah pameran yang menampilkan lukisan karya orang-orang disabilitas mental yang sering disebut ‘art brut’.
Bagi orang-orang disabilitas mental, seni merupakan medium terapi kejiwaan. Karya-karya lukisan art brut yang berlangsung sejak 21 Juli hingga 5 Agustus 2018 di Taman Ismail Marzuki (TIM), ini berbeda dengan karya orang-orang normal pada umumnya. Imajinasi mereka lebih tinggi daripada orang-orang normal, meski hidup dengan gangguan mental, tapi justru mereka begitu jujur mengungkap karya kreatifnya.
“Melihat pameran ini, saya merasa imajinasi orang-orang disabilitas mental lebih tinggi dari orang-orang normal pada umumnya, karena mereka punya dunia sendiri,“ kata Nella Indry, pengunjung pameran Celebrating Therapeutic Art Activities di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (4/8/2018).
Nella menyebut, sebuah karya lukisan yang dipamerkan berjudul ‘Sabda Tuhan’ karya Maison. “Justru kami tidak bisa membaca itu, karena tampaknya pelukisnya punya kelebihan dalam mendeskripsikan dunia di luar orang normal,“ bebernya.
Ketika melihat karya lukisan yang dipamerkan, Nella merasakan, bahwa ini menjadi alam yang lebih luas, sampai dirinya diam cukup lama dalam memperhatikan karya lukisan.
“Karya lukisannya ini keren banget, sungguh bagus sekali ada sebuah komunitas yang bisa memfasilitasi karya mereka untuk berpameran, yang tentu bisa meningkatkan kepercayaan diri mereka, bahwa mereka bisa berkarya,“ ungkapnya.
Nella juga mengaku sangat tertarik pada karya-karya lukisan abstrak yang dipamerkan. “Tampaknya, mereka seperti ingin memberikan pesan yang sangat dalam, dan kita jadi banyak bertanya, apa yang sebenarnya mereka rasakan, dan apa yang mereka lihat, sehingga sampai bisa membuat karya yang begitu sangat imajinatif ini,“ ujarnya.
Sebagai orang awam yang tidak bisa melukis, Nella memberi apresiasi yang sangat tinggi. “Saya bisa merasakan kedalamaan emosi yang mereka siratkan dalam kanvas lukisannya, kombinasi warna itu juga bisa memperlihatkan kedalaman emosinya,“ paparnya.
Nella menganggap, imajinasi mereka lebih tinggi dari dirinya sebagai orang normal. “Karena apa yang dilihat orang biasa yang terlihat nyata, tapi ini di luar yang tampak terlihat, deskripsinya adalah repetisi pengulangan dari kegilaan-kegilaan kita yang justru itu membatasi kewarasan kita, bahwa ternyata di dunia ini memang membutuhkan orang gila untuk menjadi kewarasan kita,“ tuturnya.
Menurut Nella, ini bentuk dari contoh dari pemikiran-pemikiran gila yang terdomentasikan dengan baik dan terarah. “Kalau mereka tidak diarahkan dengan baik, mungkin akan menghancurkan keberadaan karya-karya mereka,“ ujarnya.
Dorongan-dorongan motivasi dari lingkungan yang kemudian membentuk warna-warna tersendiri yang tersirat dari lukisannya. “Bahagia-sedih punya warnanya tersendiri, yang secara otomatis keluar dan tersampaikan dari karya lukisannya,“ tegasnya.
Harapan Nela, pameran ini lebih dipromosikan, agar banyak masyarakat tahu bahwa mereka bisa berkarya, sehingga peduli dan memperlihatkan eksistensinya.
“Semestinya memang kita memberikan ruang dan kesempatan untuk mereka memperlihatkan karyanya, bahwa mereka bisa berkarya seperti yang tampak pada pameran ini,“ pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...