Memorabilia Petilasan Tempat Tidur “Laku Presiden Soeharto” di Rumah “Lurah Soeharto” Glonggong Madiun

Oleh Mahpudi, MT

2.416

Catatan redaksi:

Dalam catatan Incognito Pak Harto seri 26 ini, Redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan Diam-Diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

“Lho, kok sama ya,” demikian komentar Presiden Soeharto sambil tersenyum, ketika berkunjung ke rumah Kepala Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, Madiun, pada 24 Juli 1970 lalu. Ternyata, sang tuan rumah juga memperkenalkan nama dirinya, bernama Soeharto.

Pak Harto (membelakangi-Kanan) tengah berbincang dengan sejumlah pihak saat beristirahat menginap di ruma Kepala Desa Glonggong, Dolopo, Madiun, Jawa Timur dalam perjalanan incognito di wilayah Jawa Timur pada 24 Juli 1970

Saat tim Ekspedisi Incognito Pak Harto pada 7 Juni 2012 meniti napak tilas Pak Harto di Desa Glonggong, saya dan tim bertemu dengan saksi langsung kejadian tersebut, yang tak lain adalah Yon Harsono, putra dari sang Kepala Desa saat itu.

“Memang, nama ayah saya adalah Soeharto. Beliau pada masa itu adalah kepala desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, Madiun,” ungkap Yon Harsono.

Menurut Yon, saat itu, kesamaan nama itu, membuat sang Presiden dan sang Lurah, segera menjadi akrab. Terlebih lagi, keduanya memiliki kesamaan lainnya, yakni sangat menghayati nilai-nilai luhur budaya Jawa.

Rumah Kepala Desa Glonggong, Soeharto, masih mempertahankan kekhasan rumah tradisional Jawa Timur. Di dalamnya masih tersimpan bale-bale (tempat tidur) yang pernah digunakan Pak Harto beristirahat ketika menginap di sini.

Saat kunjungan tersebut, Pak Harto menginap di rumah yang ditinggali oleh Yon Harsono bersama keluarga pada 24 Juli 1970.

“Ya, saya mendapati ayah bersama Pak Harto berbincang semalaman di ruang tengah rumah kami,” tuturnya lagi, sambil memperlihatkan kepada kami, tempat Pak Harto beristirahat pada malam itu.

Ternyata, pada 1970 itu, Pak Harto menginap di sebuah rumah tradisional khas Jawa Timur, dilengkapi gebyog berukir, dengan tanda tahun pembuatan 1837. Pada bagian tengah, terdapat sebuah relung, yang menurut pemiliknya, digunakan sebagai tempat sesaji. Tampaknya, sang pemilik terus mempertahankan keaslian rumah, serta merawat dengan baik rumah tersebut.

“Tempat tidur di mana Pak Harto istirahat waktu itu, juga masih kami simpan. Kami gantung agar tak ada yang melangkahi,” kata Yon kepada Tim Incognito, ketika menunjukkan bahwa keluarga tersebut masih merawat dan mengabadikan memorabilia (benda kenangan) yang ditiduri Presiden Soeharto saat itu.

Pagi hari Pak Harto berfoto dengan sejumlah petugas beserta istri di depan rumah kepala desa Dolopo, Madiun, sebelum melanjutkan perjalanan Incognito pada 25J uli 1970.

Bagi keluarga Yon Harsono, kehadiran Pak Harto ke rumah mereka, memang teramat berkesan. Dengan mata menerawang, Yon berkisah, bahwa setelah kunjungan itu, antara ayahnya dan Pak Harto, terjalin hubungan persahabatan yang akrab.

Dalam sebuah kesempatan, ayah dan ibu dari Yon Harsono, diundang Pak Harto ke Jakarta. Namun, ketika berada di Jakarta, kesehatan ibunya memburuk. Sehingga, atas bantuan Pak Harto, sang Ibunda dirawat di rumah sakit Gatot Subroto.

Sayang tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ternyata, kesehatan istri “Lurah Soeharto” semakin memburuk, sehingga wafat dalam perawatan. Ketika mengetahui lelayu yang sangat mengagetkan tersebut, Presiden Soeharto langsung mengutus pejabat yang menjadi bawahannya, untuk mengurusi jenazah “Ibu Lurah Soeharto” hingga ke pemakaman di kampung halaman. Bahkan, Presiden Soeharto juga menulis surat ungkapan belasungkawa kepada “Lurah Soeharto” sahabat dekatnya.

Pak Harto masih sempat bercengkerama dengan pejabat setempat maupun warga sebelum melanjutkan perjalanan, pada bagian belakang tampak Soeharto, kepala desa Glonggong, Dolopo.

Pada bagian lain penuturannya kepada Tim Incognito, Yon Harsono menyatakan, bahwa perjalanan yang dilakukan Pak Harto saat itu, bukan semata-mata perjalanan formal seorang presiden untuk menemui rakyatnya. Baginya, Pak Harto sedang menjalani sebuah “laku” dalam metode kepemimpinan Jawa ala Mataraman, sebuah tirakat dengan berjalan kaki mengunjungi tempat-tempat dan orang-orang yang memiliki kekuatan spiritualitas.

Dalam amatan Yon Harsono, dengan “laku tirakat kepemimpinan” yang demikian, harapannya, seorang pemimpin Jawa mampu mengendalikan negara dan bangsanya dengan sebaik-baiknya.

“Itu memang seharusnya dilakukan oleh siapa pun yang memimpin negeri ini,” pungkasnya.**

Pak Yon Harsono (tengah) putera dari kepala desa Glonggong, Madiun, didampingi tim ekspedisi Incognito Pak Harto dari kiri ke kanan; Bakarudin, Lutfi, Mahpudi, dan Pak Subianto.
Baca Juga
Lihat juga...