Mengenal Sejarah Budaya Suku Asmat di TMII

Editor: Koko Triarko

1.022
JAKARTA – Museum Asmat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, dibangun untuk melestarikan khazanah seni budaya suku Asmat, Papua, agar bisa dinikmati masyarakat dunia.
Museum Asmat di kawasan TMII dibangun di atas lahan seluas 6.500 meter persegi, berada berdekatan dengan area Taman Legenda Keong Mas. Museum ini berbentuk kerucut, khas rumah adat Kariwari dari suku Tobati Enggros, penduduk asli di tepi Danau Sentani, Papua.
“Museum Asmat dibangun atas ide cemerlang Ibu Tien Soeharto yang ingin melestarikan budaya Asmat. Pembangunan museum dimulai pada 20 Februari 1986, dan diresmikan pada 20 April 1986 oleh Presiden Soeharto,” kata Kepala Museum Asmat TMII, Suprapti, kepada Cendana News, Sabtu (11/8/2018).
Bentuk bangunan bersegi delapan dengan model berkolong. Bagian atas bangunan terbuat dari bahan GRC (Glass Reserfocis Cement), dan dicat berkesan daun rumbia. Pada beberapa elemen bangunan, diukirkan ragam hiasan khas Asmat dengan warna hitam, putih, dan merah.
Paduan tiga warna ini menggambarkan kehidupan suku Asmat. Yakni, warna hitam didapat dari arang yang dihaluskan, memiliki arti kegelapan. Warna putih didapat dari cangkang kerang yang dihaluskan, bermakna simbol tulang manusia. Sedangkan warna merah didapat dari campuran tanah merah atau getah tumbuhan, memiliki arti darah manusia.
Patung Mbisbu atau nenek moyang suku Asmat di bangunan pertama bertema “Manusia dan Lingkungan” di Museum Asmat TMII, Jakarta. -Foto: Sri Sugiarti.
Disampaikan dia, museum Asmat adalah museum etnografi yang menceritakan keluhuran suku Asmat. Menggambarkan lingkungan tempat tinggal, pandangan hidup, bagaimana mereka beradaptasi dengan alam, hutan rimba, dan sungai berlumpur.
Keunikan museum ini, katanya, adalah menampilkan koleksi benda-benda kebudayaan yang mengandung nilai keperkasaan, yang mengungkap pandangan hidup orang Asmat.
Semua tampilan budaya Asmat tersaji dalam tiga tema yang disuguhkan dalam setiap bangunan “Kariwari”.
Bangunan pertama bertema “Manusia dan Lingkungan”, memamerkan pakaian adat dan aksesoris, diorama mata pencarian hidup, seperti proses pembuatan sagu, patung Mbisbu, pola perkampungan Asmat, dan ragam ornamen simbol yang menceritakan kehidupan.
Pemandu Museum Asmat, Awaluddin, menjelaskan, ada dua bentuk rumah di perkampungan Asmat, yaitu rumah panjang (Jew) dan rumah keluarga (Tysem).
Perahu arwah dan perahu lesung, dengan hiasan ukiran khas suku Asmat tersaji di bangunan kedua bertema “Manusia dan Kebudayaan” di Museum Asmat TMII, Jakarta. -Foto: Sri Sugiarti.
Jew merupakan tempat tinggal pemuda yang belum berumah tangga. Di rumah ini, para pemuda diajari kebudayaan suku Asmat, seperti mengukir. Rumah Jew juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan, dan tempat penyelenggaraan upacara adat.
Bentuk Jew lebih menjorok ke tepi sungai, memiliki ukuran panjang 30 x 60 meter dan lebar 10 meter. Setiap perkampungan memiliki beberapa Jew. Satu Jew dikeliling oleh sekitar 15 hingga 20 tysem.
“Rumah Tysem ini khusus untuk yang sudah berkeluarga. Dalam satu rumah terdapat dua-tiga keluarga, dan setiap keluarga memiliki tungku perapian sendiri,” jelas Awaludin.
Perkampungan suku Asmat berada di sepanjang tepi sungai dan pesisir pantai. Biasanya, tempat tinggal mereka mendekati hutan sagu, yang menjadi makanan pokok mereka. Dalam tema ini, tersaji diaroma pembuatan sagu.
Disampaikan Awaluddin, masyarakat suku Asmat terlebih dahulu menebang pohon sagu di hutan sagu. Lalu, pohon itu dipotong menjadi dua bagian, lalu dibelah lagi. Kemudian pohon yang yang telah dibelah itu diketuk-ketuk dengan kampak batu. Lalu, diambil sarinya dan diperas, lalu dicuci dan selanjutnya dibawa pulang diolah menjadi sagu.
Sagu-sagu itu dibentuk atau dicetak seperti batu yang keras. Setelah dicetak, lalu disimpan di wadah atau piring khusus. Saat berburu ke hutan, mereka membawa secukupnya untuk bekal.
“Pohon sagu ini diibaratkan Ibu,  karena mengeluarkan sari sagu, yang menjadi makanan pokok suku Asmat. Sagu ini makanan tradisional nenek moyang mereka,” ujarnya.
Kepala Museum Asmat TMII, Suprapti. -Foto: Sri Sugiarti.
Di tengah ruangan ini, tersaji patung Mbisbu atau patung nenek moyang. Patung ini gambaran keluarga yang sudah meninggal, diukir secara bersusun dengan hiasan ornamen Asmat penuh makna, seperti buntut kuskus dan cakar kelelawar.
“Patung Mbis dibuat, jika ada permintaan dalam suatu keluarga. Patung ini dipakai untuk upacara Mbis suku Asmat,” tandasnya.
Upacara Mbis diadakan untuk memperingati anggota keluarga yang sudah meninggal terbunuh. Kematian itu harus segera terbalas dengan membunuh anggota keluarga yang membunuh. Jika tidak dilakukan, arwahnya tidak tenang dan menganggu keluarga yang ditinggalkan.
“Kini, kebiasaan membalas dendam itu sudah tidak dilakukan lagi. Mereka hidup damai dan aman menjaga budaya nenek moyang,” ujarnya.
Patung Mbis itu diletakkan di atas panggung bangunan rumah dan di hutan sagu. Dengan harapan, roh-roh yang telah meninggal itu berangkat ke pulau Sirets dengan tenang.
Dalam ruang pamer ini, tersaji asal-usul orang Asmat dimulai dari kehadiran Fumeripits. Yaitu, jelas dia, orang pertama Asmat yang terdampar dalam keadaan sekarat, lalu ditolong oleh sekawanan burung.
Kemudian, dia membangun rumah panjang atau Jew untuk berlindung. Hari-harinya diisi dengan membuat patung. Lalu, patung-patung yang sudah jadi itu, ditempatkan di rumah panjang.
Untuk menghilangkan rasa sepi, Fumeripits membuat tifa dan memainkannya. Tak disangka, patung-patung yang dibuatnya berubah menjadi manusia, dan ikut bergerak mengikuti alunan musik tifa.
Sejak itu, Fumeripits terus mengembara, di setiap daerah yang disinggahi dia selalu membangun Jew, dan menciptakan manusia-manusia baru. Manusia-manusia baru itulah yang disebut As-Asmat atau manusia kayu.
“Fumeripits oleh orang Asmat disebut sebagai sang pencipta”, ujarnya.
Bangunan kedua bertema “Manusia dan Kebudayaannya”. Benda yang disajikan berupa peralatan proses pembuatan sagu, peralatan berburu, senjata, benda-benda budaya, tifa (alat musik kendang), Fuu (alat musik dari bambu), dan kapak batu.
Di ruang ini, tersaji perahu arwah berbahan kayu berbentuk panjang dan ramping, dihiasi ukiran khas suku Asmat. Perahu ini digunakan masyarakat Asmat untuk membawa nenek moyang mereka ke alam kematian.
Jenazah keluarga suku Asmat tersebut ditidurkan di perahu tersebut, lalu dilepas ke sungai terbawa arus ke laut menuju peristirahatan terakhir roh-roh itu.
“Keluarga ikut mengantar jenazah dengan naik perahu itu, dan berbekal sagu. Di tengah sungai, jenazah itu dialungkan hingga terbawa arus ke laut tempat peristirahatan roh,” jelas Awaluddin.
Tersaji juga perahu lesung, bentuknya sama dengan perahu arwah. Ini adalah perahu tradisional yang digunakan masyarakat Asmat dan sekitarnya sebagai alat transportasi.
Topeng Arwah, tradisi seni suku Asmat di Museum Asmat TMII. -Foto: Sri Sugiarti.
Alat penohok sagu, salah satunya piring atau jipai yang terbuat dari kayu berbentuk pipih lonjong berhias pahatan nenek moyang di sisi bagian luarnya, tampil di ruangan ini.
“Pahatan itu mengandung filosofi, agar nenek moyang melindungi makanan yang ada di jipai dari pengaruh jahat atau penyakit,” jelas pria kelahiran 48 tahun ini.
Topeng arwah juga menghiasi ruangan ini. Topeng ini awalnya digunakan oleh anak yatim piatu yang kekurangan makanan, lalu mereka menakuti ibu-ibu yang membawa sagu sepulang dari hutan.
Ibu-ibu ketakutan, lalu sagunya ditinggal dan diambil mereka sebagai bahan persediaan makanan. Berawal dari kisah itu pula, kehidupan anak yatim piatu itu kemudian diperhatikan.
“Topeng arwah, kini digunakan untuk memanggil roh-roh jahat,  bila suku Asmat ingin berakrivitas menebang pohon, membuat rumah atau pertanian,” ujarnya.
Bangunan ketiga bertema “Manusia dan Hasil Kreativitasnya”, memamerkan seni kontemporer hasil pengembangan pola-pola rancangan seni tradisional.
Ruangan ini disajikan seni karya suku Asmat yang telah modern dan mengacu pada permintaan pasar. Tetapi, masih berpijak pada pola-pola rancangan tradisional.
Pengukir Asmat disebut wow ipits. Mereka menggunakan alat-alat sederhana, seperti kapak batu, gigi binatang, dan cangkang siput untuk berkarya. Salah satunya, ukiran Krawangan. Ini hiasan dinding yang dibuat dengan teknik tembus atau krawangan. Bagian muka dan belakang memiliki bentuk sama.
Seni kontemporer ini mengambil bentuk fitur nenek moyang dan lambang-lambang kepercayaan, seperti kesuburan, keberanian, dan keberuntungan.
Tepat dekat pintu keluar ruangan ini, mata pun terpukau pada patung setinggi empat meter. Patung ukiran khas Asmat ini berkisah tentang kehidupan masyarakat Asmat yang khusus dibuat untuk dipersembahkan kepada Ibu Tien Soeharto.
“Patung ini dipersembahkan khusus untuk Ibu Tien, yang meletakkan patung ini di sini tahun 1986, saat Museum Asmat diresmikan oleh Presiden Soeharto,” ujarnya.
Menurut Awaluddin, Ibu Tien berpesan, agar seni budaya Asmat terus dilestarikan, jangan sampai punah. Melestarikannya dengan terus menjaga dan mempromosikan di museum Asmat ini, begitu juga dalam acara budaya lainnya, agar bisa dikenal dan dinikmati masyarakat dunia.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.