Mengenang Sejarah Perangko di TMII

Editor: Koko Triarko

220
JAKARTA – Museum Perangko Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menjadi tempat bernostalgia mengenang kembali perangko, manakala dalam kejayaannya mampu menghantarkan isi hati yang terangkai dalam tulisan pena.
“Museum ini menjadi tempat nostalgia para kolektor perangko dan juga orang yang dulu sering memakainya untuk mengirim surat,” kata Tata Dekor Museum Perangko Indonesia TMII, Sarjono, kepada Cendana News, Sabtu (4/8/2018).
Menurutnya, banyak kolektor perangko yang berkunjung ke museum ini, begitu juga dengan pengunjung lainnya.
Tata Dekor Museum Perangko Indonesia TMII, Sarjono. -Foto: Sri Sugiarti.
Mereka sangat antusias melihat ragam perangko sebagai sejarah bangsa yang patut dibanggakan. Karena setiap perangko yang diterbitkan memiliki tema berbeda, ada perjuangan kemerdekaan, khazanah budaya, pariwisata, dan lainnya.
Museum ini adalah wahana untuk memamerkan perangko yang didirikan atas gagasan Ibu Tien Soeharto. Gagasan itu muncul, saat Ibu Tien mengunjungi pameran perangko PT. Pos Indonesia (Persero) pada acara Jambore Pramuka Asia Pasifik VI di Cibubur, Jakarta Timur pada Juni 1981.
Atas gagasan Ibu Tien Soehato, Museum Perangko ini kemudian dibangun di komplek TMII di atas lahan seluas 9.590 meter persegi. Bangunan berdesain ukiran Jawa-Bali ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 29 September 1983.
“Perangko ini sejarah bangsa, Ibu Tien sangat peduli untuk melestarikannya dengan menampilkan ragam tema perangko di museum ini,” ujarnya.
Dia menjelaskan, bangunan museum ini bergaya Jawa-Bali, menggambarkan khazanah budaya bangsa. Terlihat dengan gapura masuk Candi Bentar. Selain berfungsi sebagai pintu, gapura ini juga menjadi pemisah antara halaman luar dan halaman komplek bangunan.
Di halaman depan terdapat bola dunia dengan burung merpati membawa surat di paruhnya. Ini lambang tugas PT Pos Indonesia (Persero) telah menjangkau seluruh dunia.
Dari halaman depan, lalu melangkah ke pendopo besar yang empat sisinya terbuka. Ukiran Jawa -Bali begitu kental menghiasi pendopo ini.
Di depan pintu masuk ke ruang Museum Perangko berhias suluran, dan terdapat pula patung Hanoman. Dalam pewayangan, Hanoman adalah raja kera atau  dhuta dharma untuk berkirim kabar kepada Shinta yang tengah dikurung Rahwana di Kerajaan Alengka.
“Hanoman adalah duta dharma membawa berita, yang misinya sama dengan PT Pos Indonesia. Museum ini pun membawa berita sejarah perangko Indonesia,” kata Sarjono.
Di samping kiri dan kanan pintu masuk museum, tersaji dua lukisan gaya Bali karya pelukis Wayan Sutha S. Lukisan ini mengisahkan pewayangan versi Bali, yakni pada masa sebelum kertas dikenal seperti sekarang ini. Surat-menyurat menggunakan ron daun tal untuk menceritakan isi hati kepada seseorang yang dituju.
Pemandangan saat masuk Museum Perangko Indonesia disambut perangko berukuran besar gambar Ibu Tien Soeharto, dengan nominal 700, yang dipasang di tengah-tengah ruangan tersebut.
“Persegi delapan bermakna mata angin, di dalamnya terdiri tujuh penyajian sejarah perangko. Saat memasuki ruangan ini, mata kita langsung tertuju pada perangko besar gambar Ibu Tien, itulah mata angin menyejukkan,” ungkap Sarjono.
Museum Perangko Indonesia TMII, di halaman depan terdapat bola dunia dengan burung merpati membawa surat di paruhnya. -Foto: Sri Sugiarti.
Penyajian pertama dalam ruang museum ini, bertema sejarah perangko. Termasuk bagaimana pengiriman kabar dilakukan pada zaman dahulu yang menggunakan daun lontar. Caranya, daun lontar dimasak lebih dahulu sebelum digunakan. Dan, untuk menulisnya digunakan pengutik. Diaroma pohon lontar dan pengutik pun diperlihatkan.
Pameran dalam ruang penyajian kedua, jelas Sarjono, menampilkan materi patung seorang perancang perangko yang dilengkapi dengan peralatannya. Ada silinder cetak perangko seri lukis Raden Saleh, plat cetak perangko semasa revolusi, film positif, foto proses pembuatan perangko, dan contoh perangko di zaman republik yang pernah diterbitkan.
Terdapat juga fiber glass mesin cetak perangko lima warna yang digunakan oleh Perum Peruri, yang dilengkapi motor penggerak.
Ruang penyajian tiga terdapat sejumlah perangko terbitan tahun 1864-1949 pada masa pemerintahan Belanda, Jepang, dan masa perang kemerdekaan.
Salah satu perangko termahal di dunia, misalnya, adalah perangko Hindia Belanda pertama bertahun 1864, berstempel Ngawi, Jawa Timur, dengan nominal 10 sen. Perangko ini, konon oleh kolektor dihargai hingga Rp20 miliar.
Tersaji juga foto perangko bergambar Bung Karno dan Bung Hatta, sebagai latar belakang perangko perjuangan yang dicetak di luar negeri.
Selain itu, ada perangko peta Indonesia, prajurit dan Danau Toba, Angkatan Perang dan Jenderal Sudirman, Ngarai Sianok, Sutan Syahrir, Thomas Jefferson, dan tokoh laginya.
Ruang ini terdapat perangko cetakan Yogyakarta yang terbit pada 1 Juli 1947, dan perangko peringatan kembalinya pemerintah RI di Yogyakarta yang terbit 20 Juli 1949.
Seri perangko peringatan kegagalan blokade Belanda, dan seri penembus blokade Belanda untuk pos udara. Di tengah ruang penyaji ini terdapat lukisan peristiwa penurunan bendera di Hotel Majapahit Surabaya.
Ada pun ruang penyajian keempat, lanjut Sarjono,  yakni menampilkan perangko dan suvenir yang diterbitkan sejak 1950, dengan lima masa penerbitan. Yaitu, antara tahun 1950-1959, tahun 1959-1966, tahun 1966-1973, tahun 1973-1983 dan tahun 1983-1993.
Sedangkan ruang penyajian kelima menampilkan perangko yang disusun berdasarkan periode dan tema tertentu. Dalam ruang ini, disajikan perangko bertema sosial, adat istiadat, seperti busana daerah, pariwisata, flora dan fauna, lingkungan hidup dan kemanusiaan.
Ruang penyajian keenam, kata Sarjono, menampilkan perangko tematik, khususnya kepramukaan dan olahraga. Yang menarik dalam ruangan ini adalah slide Presiden Soeharto dan  Ibu Tien Soeharto dengan seragam Pramuka, ketika menandatangani Sampul Hari Pertama Perangko Internasional VI di Cibubur.
Ruang terakhir, penyajian panel terkait filateli yang menjadi investasi jangka panjang dengan hasil membanggakan dari kegiatan anak bangsa dari Jawa sampai Indonesia Timur.
Di serambi museum ini diletakkan sepeda pos antik merk Falter, buatan Jerman Barat pada 1950. Sepeda ini lazim digunakan oleh jawatan pos di negara-negara Eropa dan Indonesia, sehingga dikenal sebagai sepeda pos.
Tersaji juga contoh stempel pos zaman VOC, Daendels, Raffles, dan Hindia Belanda. Tampil juga miniatur pedati pos, kuda pos, kereta pos, perahu layar pacalang, dan kapal VOC.
Di atas kapal itu ada foto Sir Rowland Hill, yaitu Bapak Perangko Dunia yang mencetuskan gagasan pemakaian perangko sebagai tanda pelunasan biaya pengiriman surat.
Ada pula replika Penny Black, perangko pertama di dunia yang terbit 1840, foto Kantor Pos Batavia yang didirikan G.W Baron van Imhoff pada 26 Agustus 1746.
Di sebelah kanan patung Hanoman, terdapat bus surat kuno dari jawatan pos di zaman kolonial, yang keterangannya masih menggunakan bahasa Belanda, Brievenbus.
Pada 1906, jawatan pos di Hindia Belanda berubah menjadi Posts Telegraafend Telefoon Dienst atau Jawatan Pos Telegraf dan Telepon (PTT). Pada 1923, kantor pusatnya dipindahkan ke Kota Bandung, di bawah Dinas Pekerjaan Umum (Burgerlijke Openbare Werker). Di zaman pendudukan Jepang, Jawatan PTT diambil-alih bala tentara Jepang.
Menurut Sarjono, meskipun pemakaian perangko telah banyak tergantikan email, whatsapp (WA) dan media sosial lainnya, namun PT Pos Indonesia masih mencetak perangko setiap tahunnya. Ini karena para kolektor dan penggemar filateli masih membeli dan menggunakan perangko untuk bertukar koleksi dengan teman mereka di dalam dan luar negeri.
“Kami juga mencetak perangko tema Asian Games 2018, dan sudah terbit. Ini bukti mendukung gelaran pesta olahraga dunia tersebut,” ujarnya.
Dia berharap, ke depan supaya anak sekolah lebih mencintai museum perangko ini yang merupakan sarana edukasi. “Kami berharap, pemerintah mengkampanyekan wajib kunjung museum kepada sekolah-sekolah,” tandasnya.
Baca Juga
Lihat juga...