Minim Upaya Konservasi, Kekayaan Pertanian Hilang

Editor: Satmoko Budi Santoso

132

YOGYAKARTA – Kekayaan sumber daya genetik tanaman pertanian Indonesia diketahui terus berkurang akibat minimnya upaya konservasi genetik. Hal itu disebabkan karena pemanfaatan berlebihan pada jenis varietas tanaman tertentu.

Tercatat sekitar 75 persen keanekaragaman sumber daya genetik tanaman Indonesia saat ini hilang dan berkurang.

Hal itu diungkapkan Dosen IPB, Prof. Dr Muhammad Syukur SP. M.Si, dalam Workshop Pengelolaan Sumber Daya Genetik yang diselenggarakan oleh Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, baru-baru ini.

Syukur mengatakan, mayoritas sumber daya genetik pertanian yang hilang didominasi oleh jenis tanaman varietas lokal.

“Varietas lokal yang tidak dimanfaatkan maka akan hilang. Seharusnya petani di indonesia tidak menanam tanaman dengan varietas yang sama,” kata Syukur.

Dosen IPB ini menuturkan, jumlah persentase plasma nutfah yang ada di Indonesia mencapai 17 persen dari total kekayaan genetik tumbuhan yang ada di dunia. Tercatat, ada sebanyak 3.256 spesies tanaman, yang mayoritas merupakan tanaman obat, belum dieksplorasi hingga saat ini.

Hal itu diperparah dengan jumlah peneliti pemuliaan tanaman yang ada hanya sekitar 1500 orang. Jumlah tersebut menurutnya, tidak mencukupi untuk usaha mengkonversi sumber daya genetik tanaman pangan pertanian. Menurutnya, perlu adanya peningkatan kuantitas dan kualitas para pemulia tanaman.

“Perlu ada upaya peningkatan kapasitas, dana dan fasilitas,” ungkapnya.

Padahal, untuk bisa menghasilkan jenis tanaman varietas baru sendiri, dikatakan diperlakukan proses tahapan pemuliaan tanaman yang begitu panjang. Mulai pengoleksian genetik, seleksi, hibridasi hingga pelepasan varietas. “Setidaknya diperlukan 5-10 tahun untuk bisa menghasilkan varitas baru,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, usaha pemuliaan tanaman pertanian sangat penting untuk mengantisipasi ancaman krisis pangan yang akan melanda kawasan Asia pada 2015 akibat pertambahan jumlah penduduk dan sempitnya lahan pertanian.

Ia mengatakan, IPB setidaknya sudah melakukan usaha pemuliaan tanaman dengan mengoleksi sebanyak 316 varietas cabai bahkan beberapa varietas sudah di lepas.

Sementara itu, Direktur Riset dan Pengembangan PT East West Seed Indonesia, Ir. Asep Harpenas, mengatakan, diperlukan bank genetik untuk mengkonversi sumber daya genetik tanaman pertanian yang ada di Indonesia.

Menurutnya, bank genetik, bisa menjadi tempat peneliti dan pemulia tanaman untuk bertukar informasi dan sumber daya genetik.

“Fungsinya tidak hanya menyimpan yang sudah ada namun juga memfasilitasi pemuliaan tanaman salin bertukar sumber daya genetik sehingga bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan,” paparnya.

Kepala PIAT UGM Dr. Ir. Taryono, M.Sc mengatakan, PIAT UGM akan segera mendirikan Bank Genetik Sayuran untuk Mendukung Kedaulatan Pangan Indonesia. Pendirian bank genetik sayuran dikarenakan jenis sayuran varietas lokal saat ini telah tergantikan oleh varietas unggul baru atau tergeser ke daerah marginal. Susah dijangkau sebagai akibat pertanian intensif yang makin pesat.

“Varietas lokal ini diperlukan dalam perakitan kultivar unggul masa depan, sehingga diperlukan langkah penyelamatan salah satunya dengan pembentukan bank genetik sayuran,” katanya.

Pengelolaan sumber daya genetik dilaksanakan melalui kerja sama antarlembaga dalam bentuk konsorsium agar sumber daya genetik tersebut dapat diakses secara luas. Kelak, kata Taryono, bank genetik dapat memfasilitasi permintaan dan pertukaran sumber daya genetik sayuran untuk kepentingan masyarakat global.

Lihat juga...