Mobil Damkar Dikerahkan Atasi Kekeringan Tanaman Hias

Editor: Koko Triarko

1.994
LAMPUNG – Kemarau berimbas keringnya sejumlah lahan pertanian serta tanaman. Tidak kecuali, sejumlah tanaman bunga dan pohon perindang di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan.
Bonari, petugas pemelihara taman di pelabuhan PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry cabang Bakauheni, menyebut, selama musim kemarau ini, pihaknya terpaksa melakukan penyiraman setiap sore, menghabiskan air 1000 liter untuk sejumlah taman dan pot berisi bunga hias.
Penyiraman secara otomatis juga dilakukan pada sejumlah bunga gantung. Pendistribusian air ke setiap pot gantung untuk jenis tanaman Lee Kwan Yew (Curtain Creeper). Tanaman juntai tersebut digantung pada sejumlah pagar dan bangunan di kawasan pelabuhan sebagai penyejuk.
Menurut Bonari, tanaman juntai tersebut diberi saluran air menggunakan pipa pvc yang disiram setiap pagi dan sore. Air yang dialirkan berasal dari saluran sumur bor yang terkoneksi dengan bak penampungan khusus.
Penyiraman secara otomatis dilakukan dengan memutar kran air yang sudah disediakan. Meski demikian, untuk jenis bunga bugenvil, penyiraman dilakukan secara manual selama kemarau.
“Untuk memenuhi kebutuhanair ini berasal dari sumur bor, dan sebagian disalurkan oleh PDAM Tirta Jasa untuk kebutuhan pelabuhan,” terang Bonari, Senin (27/8/2018).
Selain pemeliharaan taman bagian luar, pemeliharaan taman bagian dalam selama musim kemarau juga mengandalkan air dari sumur bor.
Bonari, petugas pertamanan di Pelabuhan Bakauheni yang dikelola oleh PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan cabang Bakauheni, saat melakukan penyiraman bunga bugenvil selama musim kemarau [Foto: Henk Widi]
Burhanudin, petugas pertamanan, menyebut selama kemarau mobil pemadam kebakaran, bahkan dikerahkan.
Mobil pemadam kebakaran tersebut dipergunakan untuk menyedot air dengan kapasitas sekitar 8.000 liter. Selain untuk menyiram taman air, juga dipergunakan untuk mengisi air mancur taman.
Penyiraman sejumlah tanaman selama kemarau, juga dilakukan di area dermaga 1, 2, 3, 5 dan 6. Sejumlah tanaman, di antaranya palem, bugenvil, kaliandra serta berbagai jenis pohon peneduh rutin disiram menggunakan mobil pemadam kebakaran.
Kapasitas tangki air yang memadai, membuat sejumlah tanaman di kawasan pelabuhan masih tetap segar, karena rutin disiram setiap pagi dan sore.
“Semua jenis tanaman bunga dan pohon peneduh rutin kami siram, agar tidak layu dan mati, air diambil dari reservoir milik pelabuhan untuk kebutuhan air bersih kamar mandi, toilet dan penyiraman bunga,” beber Burhanudin.
Penggunaan air yang terus meningkat, tidak sebanding dengan debit air saat kemarau, diakui Bambang Herwinsyah, Kepala Cabang Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Jasa cabang Bakauheni.
Menurut Bambang Herwinsyah, salah satu konsumsi terbesar dalam penggunaan air bersih adalah PT ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni. Kebutuhan tersebut untuk sejumlah kapal roll on roll off (Roro) yang dipakai untuk satu kali berlayar.
Permintaan untuk Kapal Roro yang sandar di dermaga pelabuhan Bakauheni, pada hari normal membutuhkan sebanyak 500 kubik air bersih per kapal. Kebutuhan untuk sebanyak tiga bunker air tawar (reservoir) dan hidrant sebanyak 33 unit, selama ini dipasok dari PDAM Tirta Jasa.
Beruntung, dalam beberapa tahun terakhir PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni sudah memiliki sumur bor, dan reservoir yang dikelola sendiri, sehingga mengurangi beban.
“Kebutuhan yang sebagian sudah bisa dipasok sendiri akhirnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan pelanggan air bersih yang baru,” terang Bambang Erwinsyah.
Bambang Erwinsyah melakukan pemeriksaan saluran pipa di PDAM Tirta Jasa cabang Bakauheni selama kemarau dengan debit air yang mulai menyusut [Foto: Henk Widi]
Meski pasokan air dari mata air Gunung Rajabasa mulai menurun debitnya, Bambang Erwinsyah yakin kebutuhan air bersih tetap masih bisa dipenuhi. Semula, debit air bersih dari mata air mencapai 25 liter per detik, kini hanya 15 liter per detik, dan masih bisa digunakan untuk kebutuhan sekitar 747 pelanggan rumah tangga dan instansi.
Darmawan, petugas taman di PT Bandar Bakau Jaya Muara Piluk, menyebut sebagian besar tanaman bunga dan pohon peneduh masih menghijau. Hal tersebut karena selama musim kemarau, petugas seperti dirinya masih rutin melakukan penyiraman.
Air dari sumur bor yang ditampung di bak penampungan pelabuhan, membuat kebutuhan air untuk lingkungan pelabuhan dan taman masih bisa terpenuhi.
Baca Juga
Lihat juga...