Museum Perangko TMII Programkan Budaya Menulis Surat

Editor: Koko Triarko

1.666
JAKARTA – Museum Perangko Indonesia Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mengadakan program budaya menulis surat bagi siswa sekolah yang berkunjung ke museum ini.
Menurut pemandu Museum Perangko Indonesia TMII, Elysabeth, program ini bertujuan memberikan edukasi kepada anak-anak sekolah, khususnya yang masih duduk di Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) untuk belajar menulis surat dan meningkatkan kreativitas.
“Anak-anak yang ikut program budaya menulis surat sangat antusias. Mereka, kita ajarkan bagaimana menulis surat dan mengajaknya ke kantor pos yang berada di samping museum ini untuk berkirim surat,” kata Ely, sapaannya, kepada Cendana News, Sabtu (4/8/2018).
Pemandu Museum Perangko Indonesia TMII, Elysabeth. -Foto: Sri Sugiarti.
Di kantor pos tersebut, lanjut dia, anak-anak mengetahui bagaimana cara menempel perangko, termasuk melihat cara kerja petugas kantor pos saat membubuhkan stempel pada surat yang mereka tulis. Mereka juga mengetahui surat itu dikirim dengan kendaraan atau pesawat, hingga dalam waktu cepat surat itu bisa diterima.
“Kegiatan penulis pada dasarnya merupakan edukasi yang baik untuk anak. Dengan menulis, kreativitas anak dapat ditingkatkan,” ujarnya.
Dengan menulis, seorang anak ibarat membenamkan diri dalam proses kreatif. Dari kegiatan menulis ini,  anak dapat memperoleh manfaat, seperti  menyatakan perasaannya tentang apa yang dialami dalam bentuk tulisan.
Selain itu, si anak juga dapat menyatukan pikiran saat menuangkan ide dengan kata-kata dalam tulisan itu. Anak juga menunjukkan kasih sayang dengan mengucapkan terima kasih, atau ulang tahun kepada ayah ibunya atau kakaknya, juga teman.
Menurutnya, tradisi menulis, mengirim dan mengantar surat lewat pos mempunyai sejarah yang panjang dan mampu membangun peradaban manusia.
Tata Dekor Museum Perangko Indonesia TMII, Sarjono, menambahkan, budaya menulis ini juga termasuk dalam pelajaran bahasa Indonesia. Sehingga budaya menulis bagi anak tentu harus ditumbuhkembangkan sejak dini. Karena menulis adalah menumbuhkan kecerdasan berbahasa.
Namun, kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi membuat tradisi menulis surat lalu mengirimnya melalui kantor pos saat ini hampir terkikis. Karena terlindas kebiasaan menggunakan telepon seluler mengirim sms atau whatsapp (WA) atau email dalam mengungkapkan perasaan.
Padahal, kata dia, dengan menulis, anak akan mampu mengekspresikan isi hati dan jiwanya. Emosi, kebahagiaan dan kesenangan bisa dituangkan anak dalam tulisan surat.
Ely dan Sarjono berharap, program budaya menulis surat ini tetap diminati sekolah-sekolah. Karena tujuan program ini untuk edukasi, tidak hanya membuat surat, tetapi juga dikenalkan tentang sejarah perangko, proses pembuatan perangko dan jenis atau tema-tema perangko Indonesia.
“Tema perangko itu banyak ragamnya, ada budaya daerah, busana daerah, kuliner, pariwisata, tokoh, dan lainnya. Ini khazanah budaya bangsa, anak-anak harus mengenalnya,” ujar Ely.
Program budaya menulis surat ini bisa diikuti dengan menyesuaikan waktu kunjungan pihak sekolah ke Museum Perangko Indonesia TMII. Keduanya berharap, setiap bulan pengunjung museum meningkat.
Mereka juga berharap pemerintah wajib menerapkan wajib kunjung museum kepada sekolah-sekolah. Sehingga generasi muda lebih mengenal sejarah dan khazanah budaya bangsa yang ada di museum.
Ada pun program 2018 lainnya adalah kegiatan perangko kreatif. Yaitu, sebagai contoh, kegiatan menyusun perangko kebudayaan ditambahkan dengan asesoris gambar.
Baca Juga
Lihat juga...