Museum Timor Timur, Bukti Sejarah Persaudaraan Dua Negara

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

1.156

JAKARTA — Museum Timor Timur yang berada di lingkungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dahulunya merupakan sebuah anjungan. Bangunan dibangun tahun 1979 di lahan seluas 43.988 meter persegi ini diresmikan pada tanggal 20 April 1980 oleh Presiden Soeharto.

Bangunan panggung Uma Lautem di area Museum Timor Timur yang berada di TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Posisinya tepatnya berada di sebelah utara Istana Anak-anak Indonesia (ISAAI) menghadap kearah Museum Perangko Indonesia dan Museum Fauna Indonesia dan Taman Reptile Komodo.

“Pemakarsa TMII, Ibu Tien Soeharto begitu luhur baktinya dalam melestarikan budaya bangsa hingga anjungan ini hadir dan berubah nama jadi museum,” kata stap Museum Timor Timur, Purwono kepada Cendana News, Kamis (2/7/2018).

Anjungan ini pernah menerima kunjungan Perdana Menteri India, yang mulia Sanjiva Reddy beserta isteri pada tanggal 4 Desember 1981. Pada kunjungannya itu, Sanjiva Reddy melakukan penanaman pohon beringin di halaman anjungan sebagai pertanda persahabatan antar kedua negara.

Purwono. Foto : Sri Sugiarti.

Namun, setelah Timor Timur lepas dari Indonesia pada tahun 1999 dan berubah menjadi Timor Leste, maka anjungan tersebut dijadikan sebuah Museum Timor Leste, tidak dibuang dari TMII.

“Tujuannya agar masyarakat tetap mengenang dan mencintai khazanah budaya Timor Timur yang pernah menjadi bagian Negara Kesatuan Indonesia (NKRI),” tambahnya.

Museum ini menampilkan rumah penduduk Los Palos, terdiri atas sebuah bangunan pendukung. Bangunan utama rumah dinamakan Uma Lautan atau dagada.

“Bangunan ini berupa rumah panggung dengan empat tiang setinggi tiga meter, dan beratap ijuk,” ujarnya.

Dia menjelaskan, bentuk bangunan ini segi empat dengan atap ijuk ramping menjulang dan berdinding kayu dengan banyak jendela yang berfungsi sebagai penerangan di siang hari.

Balok utama bangunan ini menggunakan kayu besi, sedangkan tiangnya berbahan kayu eucalyptus yang diikat dengan tali dari rotan.

Ketika memasuki ruang Uma Lautem, pandangan mata tertuju pada keunikan barang-barang khas tradisi Timor Timur. Di antaranya, busana daerah, alat musik tradisional, peralatan makan, senjata tradisional, dan hasil kerajinan tangan.

Tersaji juga kain tenun khas Timor Timur (tais), aneka keong dari pulau Atauro dan keramik atau mamatutu. Bahkan foto-foto tentang keindahan Timor Timur menghiasi ruangan ini, seperti pantai pasir putih dan monumen patung Kristus Raja. Mata ini juga terfokus pada tampilan foto sejarah bahwa Timor Timur pernah menjadi bagian NKRI.

Bangunan pendukung uma latem berupa bangunan panggung kembar beratap bulat dan tidak berdinding.

“Bangunan kembar ini dinamakan Uma Laku, yang berfungsi sebagai balai pertemuan adat,” katanya.

Bangunan kembar Uma Laku di Museum Timor Timur di kawasan TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Namun sebut dia, setelah berubah jadi museum, bangunan ini digunakan sebagai tempat untuk istirahat pengunjung. Mereka bisa bercengkrama bersama keluarga di bangunan tersebut sambil menghirup udara segar.

Bangunan pendukung lainnya adalah berupa panggung yang digunakan untuk pergelaran seni budaya. Semisal, masyarakat umum ingin menggelar pentas seni bisa menggunakan panggung ini.

“Para penonton bisa duduk santai di lantai dasar Uma Lautem sembari menikmati hiburan seni yang ditampilkan,” tambahnya.

Purwono mengatakan, museum ini tidak pernah sepi pengunjung, mulai dari pelajar, mahasiswa, masyarakat, maupun wisatawan mancanegara (wisman). Mereka sangat tertarik dengan keunikan budaya Timor Timur.

Kepala Bidang Humas TMII, Jerry Laham. Foto : Sri Sugiarti

Senada, Kepala Bidang Humas TMII, Jerry Lahama juga menyebutkan, anjungan tersebut dimanfaatkan sebagai museum. Ini karena managemen menyadari bahwa sangat banyak kenangan antara Indonesia dan Timor Leste.

Meskipun telah terpisah dari Indonesia, TMII masih terus memperkenalkan seni budaya Timor Leste kepada generasi muda.

“Tujuannya agar mereka mengetahui dan menyaksikan bahwa Timor Leste pernah jadi bagian dari NKRI, ada romantisme sejarah yang terbangun,” ujar Jerry kepada Cendana News, Kamis (2/8/2018).

Dikatakan, dijadikan museum agar wisatawan domestik maupun asing masih bisa menikmati koleksi khas kebudayaan Timor Timur yang ada di dalamnya.

Jerry menegaskan, bahwa Museum Timor Timur adalah bukti persaudara di antara dua negara hingga kini tetap terjaga. Yakni selaras dengan wejangan Presiden Soeharto yang senantiasa mengajarkan kita tentang pentingnya menjalin persahabatan dan persaudaraan dengan negara tetangga.

“Museum Timor Timur ini, bukti persaudaraan kami tetap terjaga dalam bingkai rasa cinta budaya,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...