Musim Menikah, Penjualan Furnitur Lokal Meningkat

Editor: Satmoko Budi Santoso

227

BANJARMASIN – Banyaknya masyarakat Banua yang menggelar kegiatan perkawinan sebelum momen Idul Adha, membuat permintaan furnitur lokal dari pasangan pengantin baru mengalami peningkatan.

Dari pantauan di salah satu pusat penjualan furnitur lokal di Banjarmasin, yakni di daerah Kampung Melayu, para pedagang furnitur lokal mengklaim sudah ada kenaikan permintaan berbagai jenis furnitur hingga 20 persen dibanding hari biasa sebulan terakhir.

“Kalau biasanya 8-9 buah furnitur lokal bisa kita jual, kini naik menjadi belasan buah satu bulan terakhir. Kenaikan ini sendiri kami prediksi terus berlanjut hingga akhir tahun nanti,” jelas Owner Mebel Berkat Usaha, Raffi’i, Selasa (7/8/2018).

Mebel hasil kerajinan furnitur lokal di Banjarmasin – Foto Arief Rahman

Untuk jenis furnitur lokal yang banyak dibeli didominasi oleh jenis lemari pakaian, tempat tidur, meja rias hingga meja televisi. Lalu untuk harga, lemari pakaian dibandrol Rp950 ribu-Rp1,2 juta, tempat tidur dari Rp600 ribu – Rp1 juta, meja rias sebesar Rp450 ribu dan meja televisi dari Rp250 – Rp400 ribu per buah.

“Kami juga menerima desain sendiri dari konsumen. Namun harganya menyesuaikan dengan bentuk, ukuran dan tingkat kesulitan dalam pembuatan,” ungkapnya.

Walau mengalami kenaikan permintaan, jika dibandingkan dengan 10 tahun silam, kenaikan permintaan sekarang turun hingga mencapai 50 persen. Hal itu mengingat 10 tahun lalu saat musim kawin penjualan furnitur lokal bisa tembus hingga mencapai puluhan unit per bulan.

Berkurangnya permintaan futnitur lokal sendiri mengingat kalah bersaing dengan furnitur modern yang kini banyak dijual di pasaran dengan menawarkan desain dan konsep yang lebih menarik bagi konsumen.

“Kalau furnitur lokal memang modelnya itu-itu saja, berbeda sekali dengan furnitur modern yang beragam model. Namun kalau dari sisi kualitas furnitur lokal jauh lebih awet dan tahan lama,” tambahnya.

Sementara itu, pedagang furnitur lokal di daerah Kampung Melayu lainnya, M Arsyad, juga mengakui, jika kini masyarakat sudah mulai beralih meninggalkan furnitur lokal ke furnitur modern.

Bahkan, walau kini sudah memasuki musim kawin, pihaknya tidak berani membuat furnitur lokal yang lebih banyak. Mengingat takut, barangnya tidak laku sehingga membuat modal tertahan.

“Kami kini lebih banyak menunggu orderan dari konsumen saja, baru membuat. Lagi pula kini masyarakat lebih senang minta dibuatkan furnitur lokal dengan desain sendiri ketimbang desain yang biasa kami buat,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...