Naiknya Harga Jagung di Lamsel Untungkan Petani dan Buruh Angkut

Editor: Koko Triarko

177
LAMPUNG – Kenaikan harga komoditas jagung hasil pertanian warga di Kabupaten Lampung Selatan, mulai terjadi sejak Mei, lalu. Sejumlah petani menyebut, harga jagung terus merangkak naik seiring kualitas jagung yang membaik, ketika panen bersamaan di musim kemarau.
Sumadi (40), petani jagung varietas  hibrida Bisi, DK 9, warga Desa Tanjugsari, Kecamaan Palas, mengatakan, kenaikan terus terjadi pada masa panen akhir Juli hingga awal Agustus. Harga jagung menyesuaikan faktor cuaca, dan kebutuhan jagung dominan dijadikan bahan baku pembuatan pakan.
Ia menyebut kenaikan harga tersebut terjadi setelah harga pakan ternak unggas, naik, sebagai dampak pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Harga jagung yang dijual petani ke pengepul dan pabrik, katanya, sempat bertengger di angka Rp3.050 per kilogram di bulan Mei. Selanjutnya memasuki bulan Juni, naik di level Rp3.500, dan pada akhir Juli mencapai Rp3.800.

Sumadi, petani jagung di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Lampung Selatan. [Foto: Henk Widi]
Kenaikan harga jagung semakin terlihat seiring dengan kenaikan harga daging ayam dan telur, yang ditengarai imbas dari naiknya harga pakan unggas. Kebutuhan akan jagung sebagai pakan unggas, setelah melalui proses pengolahan membuat harga jagung di level petani mencapai Rp4.100 per kilogram.
Sumadi bahkan memilih menjual jagung dalam bentuk pipilan, dengan hasil per hektare menghasilkan tujuh ton jagung.
“Saya menjual dalam bentuk pipilan, memanfaatkan jasa mesin perontok jagung, karena harga sedang membaik dengan kualitas jagung saat kemarau memiliki kadar air minim dan proses penjemuran lebih cepat memakai sinar matahari,” terang Sumadi, saat ditemui Cendana News, Sabtu (4/8/2018).
Ia juga menyebut, selama ini faktor anjloknya harga jagung merupakan imbas dari tingginya kadar air, terutama saat panen bertepatan dengan musim hujan. Sejumlah pedagang kerap membeli jagung dengan kadar air maksimal hingga 20 persen, sehingga pembelian jagung kerap dipotong sesuai kondisi kadar air. Pada masa panen sebelumnya dengan kadar air cukup tinggi, sebagian petani menjual jagung dengan harga Rp2.900/kg. Beruntung, saat panen pada Juli bertepatan dengan kemarau, sehingga kadar air turun.
Kenaikan harga jagung tersebut, diakuinya cukup menguntungkan, meski hasil penjualan dipakai untuk menutupi modal. Biaya operasional sejak pembelian bibit hingga pascapanen, bisa mencapai Rp10 juta, untuk lahan seluas satu hektare.
Ia bahkan harus mengupah pekerja penanaman hingga pemanenan. Hasil penjualan sekitar Rp28,7 juta disebutnya masih harus dikurangi biaya operasional, termasuk menebus pupuk, obat, dan benih yang sebagian masih diutang.
“Harga naik setidaknya biaya operasional bisa ditutup, meski keuntungan masih lumayan musim panen bulan Agustus lebih baik dari sebelumnya,” beber Sumadi.
Selain bagi petani jagung, kenaikan harga jagung yang sudah tembus hingga Rp4.000/kg juga menguntungkan buruh petik dan buruh angkut.
Andi (35) salah satu warga yang biasanya menganggur, mengaku sudah satu bulan terakhir menjadi buruh angkut atau ojek jagung. Sang istri, Ismiati (30), juga menjadi buruh petik selama musim panen jagung berlangsung.
Keuntungan disebutnya dengan dinaikkannya upah buruh petik dan angkut jagung per karung, dari semula Rp3.000 per karung menjadi Rp4.000 per karung untuk buruh petik.
Buruh angkut dengan motor, semula Rp4.000 per karung, menjadi Rp5.000 bahkan hingga Rp6.000/kg, menyesuaikan jarak tempuh ladang jagung dengan lokasi pengumpulan sekaligus tempat perontokan jagung dengan mesin.
“Petani yang sudah mendapatkan kepastian harga naik ikut juga memperhatikan nasib buruh petik dan angkut dengan menaikkan upah,” terang Andi.
Satu hektare lahan jagung, disebut Andi kerap menghasilkan sekitar 500 karung, dan mengerahkan sekitar lebih dari sepuluh pekerja petik dan enam buruh angkut.
Setelah jagung dipetik dan dimasukkan dalam karung dengan cara dijahit oleh pemilik, buruh angkut membawa jagung ke lokasi yang ditentukan.
Andi bersama buruh angkut maksimal bisa membawa tiga karung, dua di bagian depan dan satu karung di bagian belakang.
Bersama kawan-kawannya, rata-rata dirinya bisa mengakut 70 karung. Dengan upah rata-rata Rp5.000, dirinya per hari sudah bisa mengantongi uang Rp350.000.
Nominal tersebut diakuinya cukup besar, namun dengan bahan bakar minyak jenis premium menjadi tanggungan pemilik motor sekaligus risiko kerusakan motor, ia memastikan sehari bisa mendapatkan uang bersih sekitar Rp150.000 per hari, dengan makan serta minum ditanggung pemilik.
Hasil tersebut diakuinya cukup menjanjikan, apalagi jika pemilik jagung menaikkan upah saat harga jagung naik pada musim panen Agustus. Puluhan petani jagung lain yang menunggu giliran, bahkan sudah memintanya menjadi buruh angkut bersama kawan-kawan sesama buruh angkut.
Satu lahan jagung disebutnya bisa diselesaikan dalam waktu satu hingga dua hari. Jika lancar, dalam satu pekan dirinya bisa mendapat hasil bersih lebih dari Rp1 juta dari beberapa pemilik kebun jagung sebagai buruh angkut.
Baca Juga
Lihat juga...