Nama Unik dan Kemasan Dongkrak Nilai Jual Produk

Editor: Koko Triarko

172
PADANG – Gubernur Sumatra Barat, Irwan Prayitno, mengatakan, perkembangan usaha ekonomi kreatif di Sumatera Barat sejauh ini bisa dikatakan cukup bagus. Hanya saja, persoalan kemasan masih menjadi kendala bagi pelaku usaha. 
Menurutnya, sangat diperlukan bagi pelaku usaha di Sumatra Barat untuk meningkatkan kualitas produk, serta kemasan atau pengepakan produk yang akan dijual di pasaran.
Irwan mengakui, bahwa saat ini pelaku usaha di Sumatera Barat sudah kreatif dalam meningkatkan kualitas produknya. Terutama, pelaku usaha kuliner. Misalnya, usaha rendang, bahan utama rendang tidak hanya daging, tapi juga ada rendang lokan, rendang telur, rendang paru dan berbagai jenis rendang yang dikombinasikan.
“Itu bentuk kreatif pelaku usaha untuk menarik konsumen. Dengan mencampurkan rendang dengan berbagai jenis kombinasi. Tak hanya rendang daging,” katanya, Selasa (28/8/2018).
Selain itu, pengemasan produk juga dinilai perlu jadi perhatian bagi pelaku usaha, karena dengan bagusnya kemasan yang ada, akan menambah daya tarik konsumen. Kemasan turut menentukan laris atau tidaknya suatu usaha.
Tak hanya itu, kata Gubernur, untuk merambah pasaran di secara global bagi pelaku usaha jangan hanya berpatok untuk berjualan dari gerai atau pun warung untuk memasarkan. Namun, juga merambah dunia teknologi dengan mempromosikan atau menjual produk secara online.
“Sekarang kan banyak situs penjualan produk yang menampung pelaku usaha untuk memasarkan produknya,” katanya.
Untuk itu, perlunya pemasaran produk secara online, agar dapat bersaing di pasaran secara luas. Sebab, pelaku usaha yang ada di negara lain sudah menggunakan teknologi untuk memasarkan produknya. Maka, tidak perlu takut bersaing. Karena produk Sumatra Barat juga memiliki kualitas yang dapat bersaing.
Ia juga mengatakan, terkait perkembangan usaha di Sumatera Barat, juga ada sebuah Riset Bidang Bisnis dan Managemen, Irwan menyambut baik adanya pertemuan terkait riset bidang bisnis dan managemen yang disampaikan banyak fakultas ekonomi dan bisnis berbagai perguruan tinggi di Indonesia, beberapa waktu lalu.
“Dulu di Sumatra Barat ini ada sebuah pertemuan terkait riset bisnis. Hal itu, bagi saya merupakan langkah yang bagus untuk memajukan perekonomian, dan memacu produktivitas daya saing daerah dalam globalisasi ekonomi,” ujarnya.
Selain itu, adanya pertemuan yang dihadiri fakultas ekonomi dan bisnis berbagai perguruan tinggi di Indonesia tersebut, Irwan menilai tentu akan memberikan solusi dan pandangan tentang perekonomian.
“Jadi, akan memacu potensi daerah dalam meningkatkan daya saing produksi dengan standar yang diinginkan pasar,” tegasnya.
Sementara itu, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Provinsi Sumatra Barat, melihat usaha ekonomi kreatif tidak hanya bicara kemasan. Tapi, kini tren adalah nama unik dari usaha yang dijalani.
Seperti di Sumatra Barat, cukup banyak tersebar di daerah, mulai dari usaha yang bersifat pedagang kaki lima, hingga usaha cafe. Seperti Mie Goreng Api Neraka, Pecel Ayam Neraka, Mie Terbang, Mie Caruik, Ayam Gepuk, dan banyak lainnya.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sumatera Barat, Zirma Yusri, mengakui cukup banyak pelaku usaha di Sumatra Barat yang kreatif dalam memberikan nama atau merk usahanya.
Ia menyebutkan, nama yang melekat pada sebuah usaha sangat menentukan maju atau tidaknya usaha tersebut. Kebanyakan, lahirnya usaha yang memiliki nama unik itu, dari kreativitas anak muda.
“Menurut saya, tidak ada yang dipermasalahkan dari sebuah nama itu, seperti yang menyebutkan neraka. Karena masakannya normal saja, masih sama dengan masakan pada umumnya. Seperti halnya pecel ayam,” katanya.
Zirma menilai, memiliki nama usaha yang unik merupakan bentuk penyesuaian selera generasi anak muda zaman sekarang, yang lebih cenderung dengan hal yang berbau unik.
“Meskipun usaha yang dijalani merupakan usaha pedagang kaki lima. Dengan memiliki nama yang unik, bisa memiliki konsumen yang banyak. Hal ini buktinya, nama unik mampu menarik konsumen,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengaku tidak mengetahui pasti jumlah pelaku usaha yang menggunakan nama unik tersebut. Ia memperkirakan, cukup banyak usaha baru yang bermunculan menggunakan nama yang menimbulkan rasa tertarik masyarakat untuk mencicipi rasa masakan di tempat yang memiliki nama unik tersebut.
Meski dinilai tidak ada yang dipermasalahkan dengan nama itu, namun Dinas Koperasi dan UMKM mengimbau kepada pelaku usaha untuk tidak meniru nama usaha lainnya. Karena ada kerugian yang bisa ditimbulkan, jika ada pelaku usaha yang meniru nama atau merk usaha lainnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.