Ndaru

CERPEN AKHMAD SEKHU

336

DI puncak bukit yang sepi nan wingit, pada malam yang begitu hitam kelam tiba-tiba muncul cahaya kuning, seperti kunyit sebesar buah kelapa. Sebuah cahaya perpaduan cahaya emas, perak dan besi, yang terbang di langit Desa Karanglo dan kemudian jatuh ke arah barat.

Orang-orang kampung mempercayai cahaya kuning itu adalah ndaru sebagai isyarat alam yang akan menunjukkan siapa pemenang dalam pemilihan kepada desa alias Pilkades.

Arman yang punya daya linuwih (punya kepekaan berlebih) menggunakan ngelmu titen (kepekaan untuk mengingat atau mencatat peristiwa) itu melihat ndaru jatuh ke arah barat, ke arah rumah Bardah, salah satu calon dalam Pilkades Karanglo.

Apakah dengan demikian Bardah akan jadi pemenang, sebagaimana para orang tua zaman dulu sangat mempercayai bahwa alam senantiasa memberikan pertanda untuk manusia?

Ndaru adalah pertanda gaib yang bentuknya berbeda-beda. Kadang ndaru berbentuk sesosok bayangan, kadang terlihat seperti bidadari, tapi lebih sering terlihat seperti cahaya kuning, seperti kunyit sebesar buah kelapa yang melesat dari langit. Di rumah siapa ndaru itu jatuh atau terlihat maka diyakini penghuni rumah itulah yang akan menang.

Tapi yang pasti Arman tetap mendukung Herdi, teman akrabnya, yang kini menjadi salah satu calon lainnya dalam Pilkades Karanglo. Arman percaya teman akrabnya itu bersih dan tidak money politic.

Lain halnya dengan Bardah, yang termasuk keluarga kaya raya, punya banyak uang, tentu bukan rahasia umum, sudah jelas money politic. Bahkan begitu terang-terangan memberikan uang pada masyarakat desa agar mau memilih dirinya pada saat pencoblosan Pilkades Karanglo.

Seperti kesaksian dan penututan cerita Sugeng, tetangganya, yang sudah seringkali menerima uang.

“Apa daya Mas Arman, uang sudah di tangan,“ begitu penuturan Sugeng, kemarin, tampak begitu pasrah dan jujur menuturkan keadaan apa adanya pada dirinya.

“Terima saja uangnya, tapi jangan pilih orangnya, “ ucap Arman mencoba memberi sebuah nasihat.

“Ah, Mas Arman ini kayak tidak tahu Bardah saja yang sudah tiga tahun ini begitu baik sekali pada keluarga kami dengan sering memberikan sembako,“ sahut Sugeng tampak mengelak dengan telak pada kenyataan yang mengharuskan dirinya memilih Bardah.

“Lagi pula saya sudah janji untuk memilih Bardah, masa sih saya harus ingkar janji, kalau ingkar janji kan dosa Mas,“ imbuh Sugeng semakin memantapkan diri terpaksa harus memilih Bardah dalam pencoblosan Pilkades nanti.

“Kalau nanti ketahuan saya ingkar janji tidak memilih Bardah, bisa-bisa saya dijadikan perkedel oleh para pendukung Bardah yang rata-rata para preman yang bisa bertindak kejam membantai siapa saja yang berani ingkar janji,“ pungkasnya, tampak bergidik membayangkan kejadian pembantaian pada dirinya. Kalau ingkar janji tidak memilih Bardah, yang itu tentu sama sekali tidak diinginkannya.

Arman hanya bisa pasrah, geleng-geleng kepala dan tidak bisa berbuat apa-apa pada Sugeng, tetangganya, yang tak berdaya karena keadaannya memang sudah sedemikian terpaksa harus memilih Bardah.

Sedangkan Herdi, teman baiknya, tentu tidak melakukan hal itu, karena Arman tahu betul sifat dan karakter teman akrabnya itu yang ingin masyarakat dengan kesadaran sendiri memilih calon Kades yang pantas dan juga bersih.

Dalam hati, Arman menyayangkan Herdi yang sudah telanjur maju dalam Pilkades Karanglo dan harus berhadapan dengan Bardah, lawannya, yang sudah terang-terangan sekali melakukan money politic.

Sedangkan pesaing lainnya, Parto, sama saja tetap money politic, meski dari segi keuangan tidak sekaya Bardah, tapi tentu tidak menutup kemungkinan ia akan nekat melakukan berbagai cara untuk dapat mengalahkan Bardah, pesaing beratnya.

Untung, Marhamah, teman dekatnya, pada Pilkades tahun ini sudah tujuh belas tahun dan sudah punya KTP sehingga sudah punya hak untuk mencoblos. Arman tentu saja menyarankan Marhamah untuk memilih Herdi.

Marhamah dengan kesadaran sendiri memang memilih Herdi yang dinilainya paling pantas jadi Kades karena pintar, bersih dan punya kemampuan untuk memimpin desa dengan baik.

“Keluarga saya juga memilih Herdi, meski Bardah dan Parto berulangkali menyuap dengan sembako, tapi dengan halus keluarga saya menolaknya,“ ungkap Marhamah membuat Arman terasa begitu lega.

Dalam hati, Arman semakin mantap menjatuhkan pilihan hatinya pada Marhamah, yang sejalan dengan pemikirannya.

“Terima kasih, Marhamah,“ ucap Arman sambil kemudian memegang tangan Marhamah erat-erat.

Marhamah membalas dengan memberikan senyuman paling manis dan kemudian menggenggam erat-erat tangan Arman. Keduanya memang tampak cocok dan serasi menjadi pasangan kekasih.
***

MENYAKSIKAN ndaru jatuh ke rumah Bardah, Arman tampak pasrah, mungkin itu sudah isyarat alam, Bardah akan menang dalam Pilkades. Tapi tiba-tiba Arman ingat pada pesan Mbah Tuk, ahli metafisik yang dikatakan masyarakat sebagai orang pintar. Bahwa mungkin jatuhnya ndaru ke rumah Bardah baru tahap penjajakan. Jadi Arman menunggu ndaru lagi.

Meski matanya sudah lima watt karena diserang rasa kantuk yang begitu sangat suntuk, tapi Arman berusaha sekuat tenaga untuk tetap terjaga dengan doping sampai tiga cangkir kopi hitam pahit.

Benar juga, beberapa saat kemudian, entah dari mana datangnya, tiba-tiba ndaru muncul di langit Desa Karanglo dan kemudian jatuh ke arah timur, yang itu berarti ke arah rumah Herdi, yang membuat Arman kemudian begitu senang bukan alang-kepalang.

Arman jadi membayangkan kalau Herdi menang dalam Pilkades Karanglo tentu desanya jadi maju. Karena ia tahu sekali Herdi yang paling pantas, pintar dan punya kemampuan untuk membangun desanya menjadi lebih baik.

Lebih jauh, Arman membayangkan dirinya sudah menikah dan punya anak dengan Marhamah, menikmati kemajuan desa. Tampak masyarakat desa merasakan kemakmuran. Seluruh infrastruktur desa ditata dengan teratur. Jalan-jalan pedesaan tidak lagi berbatu, tapi sudah halus dan beraspal.

Arman dapat menaiki sepeda onthel dengan tenang. Sementara mobilnya tetap terparkir di garasi dan hanya waktu-waktu tertentu saja dipakainya kalau memburu waktu dan benar-benar diperlukan untuk mengangkut semua anggota keluarga.

Sedangkan tiap hari berangkat kerja, ia bersama rekan-rekan kantornya cukup dengan mengayuh sepeda onthel. Hemat, berkeringat dan tentu saja menyehatkan.

Begitu juga dengan Mathamah tampak begitu senang menyirami tanaman tiap hari. Suasana rumah tampak asri, indah, dan berseri-seri. Ada pun anak-anak tampak begitu ceria bermain di halaman dengan udara pedesaan begitu sejuk, bersih dan segar.

Kesuksesan Herdi menjadi kades Karanglo dinikmati bukan hanya pada keluarganya saja, tapi juga seluruh masyarakat Karanglo yang merasakan kenyamanan, keamanan, dan ketenteraman.

Pada saat hari Minggu tiba, Arman menaiki mobil karena harus membawa serta seluruh anggota keluarga. Sang istri duduk di muka di samping dirinya yang menyetir. Sedangkan anak-anaknya duduk di belakang saling bersendau gurau penuh keceriaan.

Sungguh Arman sangat mendambakan Herdi jadi kades Karanglo, yang memberikan kebahagiaan bagi keluarganya dan seluruh masyarakat Desa Karanglo.

Tiba-tiba pundak Arman ditepuk oleh seseorang, yang dengan demikian langsung membuyarkan lamunannya membayangkan hidup bahagia menikah dengan Marhamah.

“Wah Mas Bro Arman kok tidur!“ ucap Anto mengingatkan.

“Masa sih aku tidur?” Arman tak percaya.

“Iya, aku lihat begitu ndaru jatuh ke rumah Herdi kamu langsug tersenyum tampak begitu sangat senang tapi kemudian langsung tidur dan senyum-senyum terus dalam tidur,“ terang Anto memaparkan keadaan Arman sebenarnya memang ketiduran.

“Lalu bagaimana ndaru-nya, apakah masih di rumah Herdi?” bertanya Arman tampak kali ini sangat penasaran.

Baca Juga

Pos Parkir

Halte

Anto tak menjawab, tapi hanya menggeleng saja.

“Ayo Mas Bro Anto bikin kopi lagi,” pinta Arman tampak langsung bangkit dan sangat bersemangat.

“Hah, bikin kopi lagi? Kamu kan sudah minum tiga cangkir,” Anto mengingatkan, “Ndak baik minum kopi banyak-banyak!”

“Ndak peduli minum kopi banyak-banyak ndak baik untuk kesehatan,“ Arman tampak keras kepala, dan kemudian melanjutkan bicaranya penuh semangat, “Aku ingin minum kopi lagi, kalau perlu seember kopi agar aku tidak ngantuk dan tetap bisa terjaga untuk tetap bisa mengamati ndaru itu.”

Anto kini tak bisa mengelak. Sebagai penjual kopi tentu dirinya sangat senang kalau ada orang yang terus-terusan minum kopi di kedai kopinya. Meski ia sangat khawatir pada diri Arman yang terlalu sangat bersemangat mengharapkan ndaru jatuh ke rumah Herdi.
***

ARMAN tampak begitu sangat menikmati kopinya, tapi tak dapat dipungkiri hatinya begitu cemas mengamati ndaru yang turun di malam H pencoblosan. Sebagaimana pesan Mbah Tuk, bahwa ndaru pada awalnya turun sebagai masa penjajakan.

Benar juga, karena setelah turun ke rumah Bardah, ndaru pindah turun ke rumah Herdi yang membuat dirinya senang bukan alang-kepalang sampai ketiduran pun senyum-senyum terus.

Tidak lama kemudian, kali ini tiba-tiba ndaru muncul langi di langit Desa Karanglo dan kemudian jatuh ke arah selatan, yang itu berarti ke arah rumah Parto membuat Arman jadi kaget bukan alang-kepalang.

Arman nyaris tak percaya keajaiban isyarat alam itu begitu cepat berpindahnya dan sangat nyata di depan matanya.

Seiring turunnya ndaru jatuh ke rumah Parto, Arman kini merasakan ada sekelebat orang-orang bergerak begitu cepat lewat di belakang dirinya. Arman cepat-cepat melirik tapi tidak tampak, betapa orang-orang itu bergerak sangat cepat.

Di belakang dirinya kini sudah tidak ada apa-apa lagi, selain angin malam yang begitu dingin terasa semakin membekukan tulang-belulangnya.

Arman merasa curiga kalau mereka yang berkelebat begitu cepat itu sangat terlatih dan akan melakukan serangan fajar di malam H pencoblosan. Sungguh, Arman penasaran dan segera saja akan bertanya pada penjaga kedai kopi. Tapi, tiba-tiba dari arah belakang ada sebuah benda begitu keras mengenai lehernya hingga Arman pun langsung pingsan.
***

BEGITU siuman dari pingsan, Arman tiba-tiba sudah di tempat lain yang begitu asing. Ya, Arman sudah tidak lagi di kedai kopi, tapi diculik anak buah Bardah ke sebuah tempat yang sangat dirahasiakan.

“Saya di mana? Mengapa saya diculik begini?” bertanya-tanya Arman seraya mencoba melepaskan diri dari tali yang tampak begitu erat mengikat.

“Jangan banyak tanya, tapi diam saja di sini!” ucap salah seorang penculik yang tampangnya begitu sangat sangar.

Arman jadi penasaran, “Mengapa saya harus di sini? Besok kan pencoblosan jadi tolong lepaskan saya karena saya harus mencoblos!”

“Tenang saja di sini sampai pencoblosan selesai!” ucap penculik lainnya seraya dengan telak memukul leher Arman dari belakang hingga Arman langsung pingsan.
***

SAAT pencoblosan Pilkades Karanglo tiba, masyarakat tampak bersuka cita menyambut pesta demokrasi itu. Ada tiga gambar dalam Pilkades Karanglo, yaitu calon 1 bergambar padi untuk Herdi, calon 2 bergambar kelapa untuk Parto dan calon 3 bergambar ketela untuk Bardah.

Masyarakat begitu antusias sekali melakukan pencoblosan dari pagi hingga siang. Mereka tampak begitu tenang karena mendapat “pesangon” dari Bardah saat serangan fajar. Memang tak seberapa banyak, tapi cukup untuk membeli beras dan lauk pauk sehari saja.

Di antara masyarakat yang begitu banyak menyemut di lapangan bola, yang menjadi tempat pencoblosan pilkades Karanglo, ada beberapa orang yang sangat kehilangan dengan menghilangnya Arman, yaitu Herdi.

Kini ia merasa sudah tidak ada teman lagi berdiskusi politik paling asyik dan pendukung paling setia dan utama pada dirinya. Juga ayah ibunya, dan tidak ketinggalan tentu Marhamah, kekasihnya.

“Tiba-tiba Arman harus pergi ke Jogja untuk ketemu dosen pembimbing skripsinya,“ begitu jawaban Pak Marbun, ayah Arman, ketika ditanya keberadaan Arman.

Herdi tentu tidak percaya begitu saja dengan jawaban Pak Marbun, yang nada bicaranya bergetar dan tampak penuh keterpaksaan menjawab karena memang dalam ancaman anak buah Bardah yang tentu atas perintah Bardah untuk tidak buka mulut mengenai keberadaan Arman sebenarnya.

Herdi tidak bertanya lagi karena konsentrasinya kini hanya pada pencoblosan. Ada pun Mahhamah tampak begitu amat sangat resah karena gadis manis yang dikenal sebagai kembang Desa Karanglo itu benar-benar amat sangat kehilangan Arman.
***

SAAT siang menjelang petang tiba, Arman baru dibebaskan, tapi tetap dalam pengawasan anak buah Bardah yang begiru sangat ketat. Meski sudah dibebaskan Arman belum bisa menampakkan diri datang ke tempat pencoblosan Pilkades Karanglo.

Arman tidak tahu harus ke mana dengan dirinya dilepas di tengah hutan belantara yang begitu sangat luas. Sungguh Arman berusaha keras untuk bisa datang ke tempat pencoblosan pilkades Karanglo dan ingin menyaksikan penghitungan suaranya.

Karena kalau ikut pencoblosan tentu tidak mungkin. Hari sudah petang dan tentu sudah waktunya penghitungan suara.

Sementara itu di kejauhan sana di tempat pencoblosan pilkades Karanglo sedang dilakukan penghitungan suara. Awalnya hasil suara yang dibacakan adalah gambar padi yang itu berarti jatuh pada Herdi yang membersitkan harapan kalau Desa Karanglo sudah berani memilih sesuai dengan hati nurani.

Tapi, kemudian segera disusul dengan hasil suara Bardah bergambar ketela yang dibacakan terus-menerus tiada henti. Sedangkan hasil suara Parto jarang sekali dibacakan, bahkan bisa dibilang sangat kecil sekali.

Kemenangan telak pada kubu Bardah yang mengantongi suara 71 persen, kemudian disusul Herdi 25 persen dan sisanya 4 persen untuk Parto.

“Sebuah hasil penghitungan hasil suara yang sungguh begitu sangat memuaskan!” ucap Bardah tampak begitu bangga membusungkan dada.

“Terima kasih untuk seluruh masyarakat Desa Karanglo yang telah memilih aku dan aku sekarang sudah menang, menang, menang, hahaha,“ imbuh Bardah dengan ketawa lepas dan nada suara sengaja dikeras-keraskan tampak begitu sangat angkuh.

Meski Bardah menang, tapi warga masyarakat Desa Karanglo tampaknya tidak senang karena uang sogokan hanya di masa kampanye Pilkades untuk memenangkan Bardah saja. Setelah Pilkades selesai dan Bardah sudah menjadi kades Karanglo, seperti masa jabatan kades Bardah sebelumnya, masyarakat hanya bisa gigit jari karena nasib dan taraf hidupnya tidak berubah menjadi lebih baik. Bahkan semakin terjepit dalam kenyataan pahit. ***

Akhmad Sekhu, lahir 27 Mei 1971 di Desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jateng. Buku puisinya: Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000), Yang tak Selesai Dibisikkan (manuskrip kumpulan puisi, siap terbit). Novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (manuskrip novel, siap terbit). Alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY), kini tinggal di Jakarta.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media manapun baik cetak atau online. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com

Baca Juga
Lihat juga...