Ngatawi Al-Zastrouw: Jangan Tinggalkan Kebudayaan

Editor: Makmun Hidayat

538
Ngatawi Al-Zastrouw - Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA — Kebudayaan sungguh sangat penting dalam kehidupan, karena memang kebudayaan adalah sumber kehidupan. Untuk itu, Ngatawi Al-Zastrouw mengingatkan agar jangan sampai meninggalkan kebudayaan.

Pameran Oma Nusantara memberi angin segar dalam dunia kesenian Indonesia. Kebudayaan harus kembali dihidupkan karena ini yang bisa menjadi manusia untuk tetap menjadi manusia sehingga tetap bisa menjaga Indonesia.

“Terus terang, orang-orang seperti Romo Mudji yang membuat kita tetap tegar, optimis dan setia berada di jalan sunyi karena tidak banyak diminati orang-orang yang selama ini hidup dalam hiruk-pikuk keglamoran, “ kata Ngatawi Al-Zastrouw mengawali paparannya sebagai pembicara dalam acara diskusi ‘Seni Oase Jernih Keberagaman’ di pameran Oma Nusantara di Bentara Budaya, Jl. Gereja Theresia No. 47, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (5/8/2018).

Bagi Ngatawi, budaya adalah cermin kehidupan sebuah bangsa. Masihkah bangsa ini tetap menjadi manusia atau berubah menjadi makhluk yang lain?

“Entah menjadi Tuhan, malaikat atau iblis sekalipun. Kalau manusia tetap menjadi manusia kalau dia berbudaya, tapi kalau dia sudah tidak berbudaya, dia turun pangkat menjadi hewan atau naik pangkat menjadi malaikat, dan kemungkinannya hanya satu, dia menjadi hewan,” ungkapnya.

Keprihatinan Ngatawi selama ini melihat Indonesia yang sekarang sudah begitu carut-marut. “Saya melihat cermin yang semestinya memantulkan suatu keindahan, suatu keberagaman, tamansari dimana mawar, melati, kenanga, dan kamboja, bisa tumbuh di taman yang damai, aman dan nyaman,” paparnya.

Menurut Ngatawi, taman itu sekarang sudah retak-retak, sudah terpotong-potong, sudah tersekat-sekat sehngga kita sudah tidak bisa kembali melihat wajah asli kita. “Karena retakan-retakan itu membuat wajah kita menjadi bopeng,” tuturnya,

Hal itu karena budaya yang bisa membisa membuat tamansari untuk tetap menjadi indah, yang bisa membuat cermin menjadi bening sehingga bisa membuat wajah kita tampak sebagaimana wujud wajah aslinya.

“Ketika kebudayaan ditinggalkan, ketika kebudayaan dinafikan, Ketika kebudayaan tidak dipedulikan maka taman yang indah menjadi sepihan-serpihan yang terkotak-kotakkan antara mawar, melati, kenanga, dan kamboja, menjadi tidak tumbuh secara baru, tidak berkembang secara normal karena dia disekat-sekat dalam ruang sempit,” terangnya.

Hal itu terjadi karena kebudayaan ditinggalkan, karena ruang-ruang kesenian tidak dipedulikan, padahal ini yang mestinya bisa mengolah rasa, mengolah batin, mengolah laku hidup manusia untuk bisa tetap menjadi manusia.

“Kesenian harus kembali dihidupkan karena dekat dengan rasa, batin dan jiwa manusia. Kebudayaan harus kembali dihidupkan karena ini yang bisa menjadi manusia untuk tetap menjadi manusia sehingga tetap bisa menjaga Indonesia,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...