NTT Miliki Road Map Atasi ‘Sampar Babi’

220
KUPANG – Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Danny Suhadi, mengatakan, pemerintah daerah telah memiliki peta jalan (road map) dalam menangani penyakit hog cholera.
“Kita sudah memiliki road map, dan dalam road map itu ada sembilan langkah pencegahan dan pengendalian hog cholera di NTT,” katanya, di Kupang, Kamis (30/8/2018), terkait penanganan hog cholera yang masih menjadi ancaman bagi peternak babi di daerah ini.
Langkah pertama yang diambil pemerintah adalah melakukan surveilans epidemiologi, sebagai rangkaian kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan dalam pengumpulan, analisis, dan interpretasi data.
Setelah itu, menyampaikan informasi dalam upaya menguraikan dan memantau suatu penyakit yang sedang menyerang ternak babi.
Kegiatan surveilans epidemiologi ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi kelompok risiko tinggi, memahami cara penularan penyakit serta berusaha memutuskan rantai penularan.
Kedua adalah vaksinasi, peningkatan tindakan biosecurity di peternakan babi, pengawasan dan pengendalian lalu lintas ternak babi hidup dan produknya. Ketiga, peningkatan kualitas ternak babi bibit dan manajemen perbibitan, peningkatan manajemen pakan, kesehatan dan penyakit pada ternak babi, penguatan kelembagaan dan sumber daya manusia (SDM).
Langkah keempat adalah pengembangan database peternakan babi di NTT melalui optimalisasi Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional yang terintegrasi (SIKHNAS), monitoring serta evaluasi.
“Memang, penyakit ini sangat berbahaya karena setiap ternak yang terserang tidak bisa diselamatkan, bahkan ternak sekitar pun ikut terserang,” katanya.
Hog cholera dikenal sebagai Classical Swine Fever (CSF) atau sampar babi yang masuk ke Indonesia pada 1995, melalui Sumatera Utara (Sumut).
Virus ini masuk ke NTT pada 1998 di Kupang, dan mulai 1999 menyebar ke Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah dan Sumba Barat serta Sumba Timur dan Kabupaten Flores Timur.
Mulai 2001-2017, virus ini mulai masuk dan menyerang ternak babi di Timor Tengah Utara, Malaka, Belu dan seluruh wilayah di daratan Pulau Flores, Alor dan Lembata.
Pada pertengahan 2017, wabah hog cholera sempat menyerang ternak babi di Pulau Flores dan menewaskan sekitar 10.000 ekor babi milik peterenak, dengan nilai kerugian mencapai Rp25 miliar.
Danny Suhadi berharap, upaya penanganan yang sedang dilakukan saat ini dapat mendorong tumbuhnya industri peternakan babi di NTT, sehingga NTT dapat menjadi salah satu lumbung babi bagi Indonesia. (Ant)
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.