Pabrik Kenangan

CERPEN FITRI MANALU

515

SETIAP kali melintasi pabrik itu, kau melihat antrean orang-orang yang ingin membuang kenangan. Mereka terbagi dalam dua barisan, mereka yang ingin membuang kenangan indah atau kenangan buruk.

Kau bertanya-tanya dalam hatimu: mengapa sebagian dari mereka ingin membuang kenangan indah? Pertanyaan itu terus mengganggu pikiranmu. Hingga pada suatu hari, kau berada dalam barisan itu karena kau ingin membuang kenangan seperti mereka.

Saat kau berada dalam barisan, kau harus memilih untuk membuang kenangan indah atau kenangan buruk. Lalu kau mengingat-ingat, kenangan mana yang paling ingin kau buang dari hidupmu.

Kau lantas berpikir, mereka yang membuang kenangan indah tak lebih dari sekumpulan orang bodoh. Bukankah kenangan indah harus dirawat dalam ingatan? Kau memilih untuk mengantre dalam barisan orang-orang yang ingin membuang kenangan buruk.

Kau ingin melupakan malam ketika ibumu raib dan seseorang yang kau panggil ayah meregang nyawa tanpa bisa diselamatkan.

Barisan bergerak maju. Orang-orang dalam barisan satu per satu masuk ke dalam ruangan sempit berdinding hitam. Kau menebak-nebak dengan hati berdebar. Ketika giliranmu akan tiba, kau nyaris mengurungkan niatmu. Namun, rasa penasaran membujukmu untuk tetap tinggal. Kau melangkah ragu-ragu memasuki salah satu ruangan itu.

“Kau sudah siap?”

Kau menggangguk cemas mendengar pertanyaan itu.

“Kenangan apa yang ingin kau buang?”

Kau menjawab pertanyaan itu dan berpikir, mungkin suatu hari nanti kau akan merindukan kenangan itu.

Seseorang dalam ruangan sempit itu menempelkan sesuatu di kepalamu lalu mengamati layar monitor. Seketika, salah satu kenangan buruk milikmu berpindah ke dalam sebuah kepingan bundar.

Orang itu lalu menempelkan label namamu di atas kepingan. Saat kau meninggalkan ruangan sempit itu, kau menyadari, kenangan buruk tentang malam itu seolah-olah tak pernah terjadi dalam hidupmu.

Kau berjalan melewati deretan ruang-ruang sempit itu dan melihat sebuah gudang besar berisi tumpukan dus-dus besar. Dus-dus itu berisi kepingan-kepingan kenangan milik orang-orang.

Kau bisa membedakan dus berisi kenangan indah atau buruk dengan melihat tulisan besar di setiap dus. Ketika kau melihat hanya ada satu dus berisi kenangan indah, kau tersenyum lega. Orang-orang ternyata memiliki pikiran yang sama denganmu.
***
SEORANG gadis remaja menatap kekasihnya. “Sayang, aku suka yang ini,” katanya sambil bergelayut manja di pundak kekasihnya.

“Sepertinya… ini kenangan tentang indahnya cinta.”

“Kau yakin?” tanya kekasihnya lembut sambil menatap mesra gadis remaja.

Gadis remaja mengangguk cepat. Sepasang matanya terus memandangi kepingan bundar yang diinginkannya.

“Baiklah,” kekasihnya menuruti keinginan gadis remaja, “Pak, kami mau beli yang ini.”

Seorang lelaki mendekati mereka, meraih kepingan itu, lalu membungkusnya. Lelaki itu menyebutkan harga dan kekasih gadis remaja memberi lelaki itu sejumlah uang.

“Terima kasih,” kata lelaki itu, “Lain kali datang lagi, Minggu depan banyak yang baru.”

“Oh ya?” pandangan gadis remaja berbinar, “Pasti, kami akan datang lagi.”

Kekasih gadis remaja itu mengangguk. Mereka berdua lalu bergandengan tangan meninggalkan toko milik lelaki itu.

Setelah sepasang kekasih pergi, lelaki itu merapikan dagangannya. Kepingan-kepingan bundar itu tersusun rapi di sisi kiri dan kanan toko miliknya. Kepingan-kepingan bundar berisi kenangan pahit berada pada sisi kiri, sedangkan kepingan-kepingan bundar berisi kenangan indah berada pada sisi kanan.

Tiba-tiba, telepon di tokonya berbunyi.

“Ya, halo?”

“Halo. Ini pabrik kenangan. Kami ingin menawarkan kepingan-kepingan baru.”

Lelaki itu terdiam sesaat. Sudah lama ia tak mengunjungi pabrik kenangan. Kepingan-kepingan yang dijualnya akhir-akhir ini kurang laku. Kalah bersaing dengan kepingan-kepingan berisi mimpi masa depan.

Karena itu, ia memilih untuk menghabiskan dagangan secara perlahan-lahan. Ia berencana untuk berhenti menjual kepingan-kepingan berisi kenangan. Kalimatnya kepada sepasang kekasih pembelinya tadi, hanyalah cara agar mereka kembali datang untuk membeli kepingan lainnya.

“Maaf, akhir-akhir ini dagangan saya kurang laku. Sekarang, orang-orang lebih suka bermimpi.”

“Sudah lama bapak tidak datang ke mari. Kami mendapatkan kenangan indah dan kenangan buruk yang akan disukai oleh pelanggan Bapak. Datanglah, Bapak pasti tak akan menyesal.”

“Rata-rata pelanggan saya lebih menyukai kenangan indah.”

“Kalau begitu, datanglah dan pilih sesukanya.”

Baca Juga

“Baiklah, saya pikirkan dulu. Terima kasih sudah menghubungi saya.”

Lelaki itu menutup telepon lalu memandang seisi tokonya. Lelaki itu mengenang saat ia mulai membuka toko ini dan mengelolanya selama belasan tahun. Sekarang, kepingan-kepingan dagangan lelaki itu tak lagi sebanyak dulu.

Lelaki itu menyentuh kepingan-kepingan itu perlahan-lahan dengan perasaan kehilangan. Toko akan segera diisi dengan kepingan-kepingan berisi mimpi masa depan. Setelah semua itu terjadi, lelaki itu berniat pergi ke pabrik kenangan untuk membuang kenangan indah tentang kepingan-kepingan itu.

Seorang calon pembeli masuk. Seorang lelaki bertubuh tinggi dan tegap. Aroma alkohol menyengat dari tubuhnya. Calon pembeli itu mengempaskan tubuhnya di salah satu bangku yang ada.

“Berikan aku satu kepingan berisi kenangan paling buruk di dunia.”

“Mmm… tampaknya Anda sedang mengalami masalah berat?” Lelaki itu berusaha bersikap ramah, meski ia merasa mual mencium aroma calon pembelinya itu.

“Apa aku harus memberitahumu?” Raut wajah calon pembeli berubah menjadi kesal. “Pilihkan saja untukku satu, lalu putarkan. Jangan sampai aku salah beli.”

Mendengar kata-kata calon pembelinya, lelaki itu terdiam. Ia lalu memilih-milih kepingan buruk yang dimilikinya, berusaha mencari apa yang diinginkan oleh calon pembelinya. Setelah memilih satu buah kepingan, ia memutarkan kepingan itu. Sungguh tak disangka, calon pembelinya malah marah-marah kepada lelaki itu.

“Menurutmu, ini kenangan paling buruk di dunia? Kau berniat menipuku?”

“Tidak, saya tidak berniat menipu. Menurut saya, inilah kenangan paling buruk yang saya jual di toko ini.”

“Saya tidak mau yang itu! Carikan saya yang lebih buruk dari itu!” bentak calon pembeli kesal.

Lelaki itu menelan ludah. Tidak mudah berurusan dengan orang yang sedang berada dalam pengaruh minuman keras. Karena tidak ingin dagangannya diacak-acak, lelaki itu mencoba memilihkan kepingan yang lain.

Sayangnya, calon pembelinya tetap merasa tidak puas. Lelaki itu pun kehilangan akal.

“Kau pasti menyimpan kenangan paling buruk untuk dirimu sendiri!” tuduh calon pembeli kepada lelaki itu.

“Untuk apa aku menyimpannya? Semua orang ingin memiliki kenangan indah. Jarang sekali pembeli yang ingin membeli kepingan berisi kenangan buruk,” kilah lelaki itu.

Calon pembeli bangkit dari duduknya dan berseru marah, “Jangan main-main denganku! Lalu itu apa?” Calon pembeli menunjuk kepingan bundar yang dibingkai dan digantung di dinding.

“Kepingan itu tidak dijual. Hanya untuk pajangan saja.”

“Aku mau yang itu. Aku akan membayar mahal!” Calon pembeli berjalan terhuyung-huyung lalu berusaha meraih bingkai berisi kepingan di dinding.

Lelaki itu berusaha mencegah. Keduanya saling menarik. Lelaki itu tak mampu berhadapan dengan calon pembeli yang sedang marah. Lelaki itu kalah. Ketika calon pembeli nyaris berhasil meraih apa yang diinginkannya, bingkai yang diperebutkan itu terlepas dan jatuh di lantai.

Prak!

Bingkai itu patah. Kacanya pecah berserakan di lantai. Keduanya terkesiap.

“Ini semua gara-gara kau!” Kemarahan penjual kepingan meledak. Ia mendorong tubuh calon pembelinya dan berjongkok untuk memungut kepingan di antara pecahan kaca. Telunjuknya tergores dan berdarah.

“Pergi dari sini!” usir lelaki itu berang.

Calon pembeli terdiam sesaat, lalu meninggalkan toko dengan wajah penuh penyesalan. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Lelaki itu menaruh kepingan bundar itu di atas meja lalu membersihkan sisa-sisa pecahan bingkai. Setelah semuanya usai, ia duduk menekuri kepingan itu. Kenangan masa muda kembali melintas dalam benak lelaki itu.

Saat itu, ia membuang kenangan paling buruk dalam hidupnya kemudian merindukan kenangan itu. Lelaki itu telah membeli kepingan berisi kenangan miliknya dari pabrik kenangan.
***

Fitri Manalu, penulis kumpulan cerpen Sebut Aku Iblis (2015) dan novel Minaudiere (2017). Cerpennya termuat di sejumlah antologi bersama, media online, dan media cetak. Bergiat di komunitas Rumah Pena Inspirasi Sahabat. Kini tinggal di Medan.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media manapun baik cetak atau online. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com

Baca Juga
Lihat juga...