Pak Harto dan Madrasah Super di Pesantren Tremas-Pacitan

Oleh Mahpudi, MT

1.320

Catatan redaksi:

Dalam catatan Incognito Pak Harto seri 24 ini, Redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito –The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Incognito Pak Harto
Pak Harto berbincang akrab mengenang masa-masa perjuangan kemerdekaan, ketika bersama Kyai Habib Dimyathi bertempur dalam palagan Ambarawa pada Oktober 1945.

Pesantren Tremas menjadi persinggahan penting dalam perjalanan Incognito Pak Harto di wilayah selatan pulau Jawa, pada 23 April 1970, usai melakukan perjalanan melintasi kawasan pegunungan tandus di Pracimantoro dan meninjau proyek pembangunan Waduk Nawangan. Pesantren ini terletak di desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. “Kyai Habib, Pertempuran Ambarawa!” demikian ujar Pak Harto gembira, ketika disambut di halaman pesantren oleh pimpinan Pesantren Tremas saat itu, Kyai Habib Dimyathi.

Tentu saja, Sang Kyai terkesan dengan sapaan akrab tamunya. Lalu, mereka pun larut dalam cerita nostalgia. Terutama, cerita saat mereka bersama-sama menjadi pejuang dan bertempur melawan pasukan penjajah di wilayah Ambarawa pada masa Revolusi Kemerdekaan tahun 1945.

“Kalau aku urus surat-suratnya, sebenarnya aku ini bisa jadi jenderal,” demikian tutur Kyai Habib Dimyathi, seperti yang diceritakan kembali oleh Gus Fuad, putera Sang Kyai. Rupanya, Sang Kyai lebih memilih untuk meneruskan amanah keluarga memimpin pesantren daripada menjadi tentara seperti sahabatnya itu.

Incognito Pak Harto
Kyai Haji Fuad Habib Dimyathi, pemimpin Pesantren Tremas, Pacitan, Jatim.

Gus Fuad, demikian panggilan akrab Kyai Haji Fuad Habib Dimyathi, menceritakan bahwa kala itu, dirinya masih remaja. Tak banyak yang diingatnya saat Pak Harto bertandang. Terlebih, waktu itu, ia tak diijinkan untuk mendekat. Akhirnya, ia hanya bisa melihat ayahnya berbincang dengan Pak Harto dari kejauhan.

Sejak itu, Gus Fuad sangat terkesan dengan tamunya. Kelak, ia pun mencermati kiprah Pak Harto dalam memimpin bangsa ini, dari waktu ke waktu. “Saya berkesimpulan, Pak Harto sangat layak jadi pahlawan nasional.. Saya tidak mengerti, siapa sebenarnya yang menghalang-halangi Pak Harto jadi Pahlawan? Dan saya bersama Mas Ganang (cucu Jenderal Sudirman, Red) terus berjuang agar Pak Harto bisa mendapatkan gelar itu.”

Incognito Pak Harto
Inilah bangunan Madrasah Super yang masih kokoh berdiri dan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar di Pesantren Tremas, Pacitan, Jatim.

Gus Fuad pun bercerita, bahwa ada satu hal yang tak bisa dilupakan para warga pesantren dari kunjungan Pak Harto saat itu. Beberapa waktu setelah kunjungan bersejarah itu, Pak Harto membangunkan sebuah gedung. Bangunannya sangat bagus untuk ukuran saat itu. Bangunan yang kemudian dijadikan sekolah madrasah, begitu kokoh, dan masih digunakan hingga kini.

“Santri-santri di sini menyebutnya madrasah super,” ujar Gus Fuad.

”Super bagaimana, Kyai?” tanya kami.

“Bukan super bangunannya yang memang bagus,” kembali Guas Fuad berkata ”bukan pula kualitas penyelenggaraan pendidikannya. Tapi itu singkatan.”

“Singkatan apa, pak Kyai?”tanya kami penasaran.

“Super itu singkatan dari Sumbangan Persiden,” jawabnya sambil tersenyum.

***

Incognito Pak Harto
Para Santri dari Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur menyambut antusias kedatangan Pak Harto dalam rangkaian incognito pada 1970.

Incognito Pak Harto Incognito Pak Harto

Incognito Pak Harto
Bangunan tempat Pak Harto diterima saat berkunjung ke Pesantren Tremas masih tegak berdiri ketika Tim Ekspedisi Incognito Pak Harto mengunjunginya pada tahun 2012.
Incognito Pak Harto
Tim ekspedisi berfoto bersama dengan Kyai Haji Fuad habib Dimyati sebelum melanjutkan perjalanan ekspedisi.
Baca Juga
Lihat juga...