Pak Harto, Gajah Mungkur dan Mitos Sisifus

Oleh Mahpudi, MT

8.083

Catatan redaksi:

Dalam catatan Incognito Pak Harto seri 23 ini, Redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan DIam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Hari sudah melewati Maghrib ketika Tim Ekspedisi Inognito Pak Harto memutuskan untuk melanjutkan perjalanan setelah singgah di Wuryantoro. Tak ada pilihan lain, selain karena saat itu sedang mati lampu, tak mudah juga mendapati tempat menginap di kota kecil ini.

Kami bertekad melintasi hutan jati dan perbukitan yang mulai gelap menuju perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Beberapa kali, kami harus bertanya kepada penduduk, ke mana arah yang tepat. Rupanya, kota tujuan berikutnya yang paling mungkin dijangkau adalah Pacitan.

Sambil berkendara, kami membincangkan pembangunan waduk Gajah Mungkur yang mulai menjauh di belakang sana. Pak Subianto yang bersama kami, adalah saksi hidup yang masih ingat bagaimana prosesi peresmian waduk itu dilakukan oleh Pak Harto.

Pak Harto beramah tamah dengan rakyat yang tengah membawa air minum Desa Pratji Mantoro (23/7/1970) – Foto Repro

“Untuk memanfaatkan dan mengembangkan sumber air dari sebuah sungai saja, kita perlukan waktu yang lama, disertai dengan kerja keras dari beribu-ribu orang, serta modal yang besar,” demikian Pak Harto berucap dalam sambutan peresmian bendungan serbaguna Gajah Mungkur di Wonogiri pada 17 November 1981.

Padahal, menurut Pak Harto, pengembangan dan pemanfaatan sumber-sumber air Bengawan Solo ini baru merupakan salah satu dari sekian banyak masalah pembangunan. “Sedang pembangunan yang kita lakukan ini, tidak saja menangani satu atau dua ataupun beberapa masalah, tetapi beratus-ratus bahkan beribu-ribu masalah besar dan kecil. Dan masalah-masalah yang harus kita tangani juga tidak akan pernah selesai, sebab pembangunan selalu membawa persoalan-persoalan dan tuntuan-tuntuan baru,” ujar Pak Harto.

Pak Harto memang sangat peduli dengan permasalahan rakyatnya. Dalam perjalanan incognito yang dilakukan 23 Juli 1970 di sekitar Wonogiri, Jawa Tengah,  ia menyaksikan dari dekat bagaimana rakyatnya berjuang mengatasi masalah hidup.  Betapa sulitnya penduduk memperoleh air bersih, kekeringan yang menyulitkan petani untuk bercocok tanam, serta ketiadaan sumber listrik bagi kehidupan yang layak.

Pak Harto meninjau rencana Waduk Air kali gunung (23/7/1970) – Foto Repro

Maka, dengan segala daya dan upaya, termasuk memindahkan ribuan penduduk dalam program Transmigrasi Bedol Desa, akhirnya, Bendungan Gajah Mungkur berhasil diwujudkan. Bendungan seluas 8800 hektar ini mampu mengairi 23.600 hektar sawah, mampu memasok air minum untuk seluruh penduduk kota Wonogiri, dan membangkitkan listrik sebesar 12,4 Megawatt.

Namun, dalam pidato itu, buru-buru Pak Harto mengingatkan kepada rakyatnya bahwa kehadiran Gajah Mungkur hanya sebuah solusi. Bangsa Indonesia masih memiliki ratusan, bahkan ribuan permasalahan yang harus dicarikan solusinya. Dalam bahasa yang sangat dramatis berbau “mitos Sisifus” (mitologi Yunani tentang Sisifus yang dihukum para dewa mendorong batu ke arah puncak bukit, dan ketika tiba di puncak, batu itu berguling kembali ke bawah, demikian seterusnya), Pak Harto bertutur, bahwa masalah tersebut tak pernah selesai. Sebab, pembangunan selalu membawa persoalan-persoalan dan tuntutan-tuntutan baru.

Dalam perjalanan kami melintasi Hutan Jati, hari makin gelap. Kiri-kanan jalan hanya hutan yang gelap gulita pula. Sesekali, kami berpapasan dengan kendaraan lain. Samar-samar, tertulis papan petunjuk jalan : Pracimantoro. Jalanan inilah yang pernah ditempuh Pak Harto melanjutkan incognito ketika usai melakukan reuni dengan kawan-kawan masa kecilnya di Wuryantoro, empat puluh dua tahun silam. ***

Baca Juga
Lihat juga...