Pakan Pabrikan Mahal, Peternak Olah Keong Jadi Pakan

Editor: Mahadeva WS

972

YOGYAKARTA – Sebagai upaya mengatasi ketergantungan terhadap pakan ternak pabrikan, Kelompok Ternak Ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan) Sawung Maju Jogotirto, Brebah, Sleman berinovasi membuat pakan ternak mandiri. 

Memanfaatkan hama keong, yang banyak ditemukan di kawasan lahan pertanian di sekitar mereka, Kelompok ternak tersebut mampu memproduksi pakan ternak unggas berprotein tinggi. Bahkan kandungan gizinya, jauh lebih tinggi dibandingkan pakan ternak buatan pabrik.

Ketua Kelompok Ternak Ayam KUB Sawung Maju, Sumarjo mengatakan, mahalnya harga pakan ternak pabrikan seperti konsentrat, menjadi alasan membuat pakan ternak mandiri. Dengan pakan mandiri, diharapkan kebutuhan biaya pakan dapat ditekan, sehingga keuntungan peternak dapat semakin meningkat.

“Di daerah sini banyak sekali keong yang menjadi hama dan menjadi musuh petani. Dari situ kita mencoba mengolah keong itu pakan ternak pengganti konsentrat. Karena keong dikenal memiliki kandungan protein cukup tinggi,” katanya, Senin (6/8/2018).

Proses pengolahan keong menjadi pakan ternak dilakukan dengan menggiling hama tersebut. Setelah digiling halus, daging keong kemudian difermentasi dengan menggunakan campuran tetes tebu dan larutan EM4 selama 24 jam. Setelah itu, adonan tinggal dikeringkan dengan dijemur untuk selanjutnya dimanfaatkan sebagai pakan.

“Ternyata kadar kandungan protein pakan dari keong ini lebih besar dibanding konsentrat. Yakni bisa mencapai 40 persen, lebih tinggi dari kandungan protein pada konsentrat yang hanya mencapai 38 persen” jelasnya.

Kelompok Ternak Sawung Maju sendiri selama ini, mempergunakan pakan ternak buatan pabrikan untuk memenuhi kebutuhan. Dengan metode campuran yang dilakukan, untuk pakan pabrikan jumlahnya 25 persen dari total kebutuhan pakan. 50 persen kebutuhan pakan, dipenuhi dengan penggunaan katul atau dedak dan 25 persen lainnya dipenuhi dengan jagung.

“Memang untuk ayam KUB, kebutuhan pakan pabrikan berupa konsentrat atau BR tidak sebanyak peternakan ayam boiler. Hanya butuh sekitar 25 persen saja. Namun dengan membuat pakan mandiri ini, kita bisa sepenuhnya tidak tergantung pada pakan pabrikan. Karena semua bisa dipenuhi sendiri,” jelasnya.

Sebagai salah satu kelompok binaan dan percontohan budidaya ayam KUB di Sleman, Kelompok Ternak Sawung Maju, rutin memproduksi bibit ayam KUB. Bibit ayam tersebut biasa disetorkan pada kelompok ternak khusus pembesaran di sejumlah wilayah baik DIY, Jateng hingga Jabar.

Memiliki delapan anggota, Kelompok Ternak Sawung Maju, hanya mampu memproduksi 300-400 bibit ayam KUB setiap minggunya. Memanfaatkan mesin penetas, kelompok ternak ayam KUB Sawung Maju, menjual bibit ayam KUB berumur tiga hari dengan harga Rp6.500 per ekor. Dengan harga yang relatif stabil, mereka pun mampu mengantongi omset hingga Rp2,6 juta per minggu.

Baca Juga
Lihat juga...