Pameran Oma Nusantara, Terinspirasi Sejarah Berbagai Daerah

Editor: Makmun Hidayat

256
Winny, Oma Indonesia - Foto Akhmad Sekhu

JAKARTA — Pameran Oma Nusantara, sebuah pameran yang terinspirasi dari sejarah berbagai daerah di seluruh Indonesia. Pameran ini berbeda dengan pameran-pameran pada umumnya, karena karya lukisan-lukisannya digarap bersama oleh tiga orang.

Ketiganya tidak ada yang menonjolkan diri, tapi saling isi dan saling memperkaya serta melebur bersama dalam Oma Indonesia.

Dipandu Glory Oyong, pembukaan pameran yang dibuka oleh maestro Sri Warso Wahono, penulis seni oleh Aisul Yanto dengan hiburan Edi Bonetski & Aman Perkusi dan pembacaan puisi oleh Sihar Ramses Simatupang ini diadakan pada 31 Juli 2018. Sedangkan pamerannya berlangsung dari 31 Juli hingga 6 Agustus 2018.

“Ide pameran ini dari keprihatinan kita pada problem Indonesia saat ini yang terjadi perpecahan disana-sini, dimana kita sebagai seniman berusaha bagaimana untuk dapat menyatukan Indonesia lagi,” kata Winny Wong mewakili Oma Indonesia saat acara pembukaan pameran Oma Nusantara di Bentara Budaya, Jl, Gereja Theresia No. 47, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa malam (31/7/2018).

Winny membeberkan bahwa Indonesia begitu beragam, berbeda-beda tapi tetap satu juga sebagaimana yang tercantum dalam dasar negara kita, Bhinneka Tunggal Ika, maka tercetuslah pameran ini dengan tema ‘Oma Indonesia’.

“Oma kepanjangan dari Oh My Art, tapi secara harfiah itu grandma karena Indonesia itu ibu pertiwi,” bebernya.

Konteksnya, kata Winny, untuk menghormati Indonesia sebagai ibu pertiwi kita. “Dia itu ada legacy-nya, yang diteruskan, kita menghormati orang-orang yang senior, dengan cara mengulang kembali sejarah yang sudah pernah ditorehkan para senior kita,” ungkapnya.

Sebenarnya Winny tidak menggolongkan pameran ini sebagai karya seni lukis karena kebetulan medianya kanvas sehingga jadinya media lukis.

“Kita sudah mulai dengan fashion, tapi untuk sementara sebagai perkenalan pertama, kita launching seni lukis, sebenarnya dari seni lukis ini kita interprestasikan lagi ke seni pakai, yang rencananya tahun depan kita akan keluarkan pada publik nanti seni pakainya,” paparnya.

Menurut Winny, karya lukisan-lukisan ini ada yang dikerjakan satu orang, dua orang, dan bahkan ada juga yang tiga orang, tapi kita tidak mengedepankan nama kita bertiga karena namanya hanya Oma Indonesia.

“Jadi kita semua Oma Indonesia, sedangkan temanya Oma Nusantara,” terangnya.

Lukisan karyanya banyak sekali, kata Winny, tapi yang kita bawa ke pameran ini yang berhubungan dengan Oma Nusantara, dari Sabang sampai Merauke. “Di luar tema Oma Nusantara banyak sekali, baik lukisan maupun seni pakai yang kita buat,” ujarnya.

Winny mengaku lahir di Sumatera, kemudian besar dan sekolah di Sorong, Papua, dan berkarir dan kerja di Jakarta, Jawa.

“Indonesia itu besar sekali, saya keliling Indonesia secara garis besar sudah, tapi secara detail belum,” tuturnya.

Ornamen-ornamen yang tergambar dalam pameran karya lukisan ini, menurut Winny, terinspirasi dari sejarah di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

“Pokoknya dari berbagai sumber di seluruh daerah di Indonesia, yang kita gali dan kita presentasikan dalam karya lukisan ini,” ucapnya.

Harapan Winny terhadap pameran ini, bangsa Indonesia jangan minder dengan luar negeri karena Indonesia punya kekayaan budaya yang sangat luar biasa.

“Bisa kita kemas dengan kualitas baik sekali sehingga waktu kita maju, kita tidak kalah dengan luar negeri karena kekayaan seni budaya dapat kita jual ke negeri dengan harga tinggi dan memang punya daya saing yang tinggi juga,” tegasnya.

Wini melihat perkembangan dunia kesenian agak pelan. Kemudian, alasannya berpameran memilih di Balai Budaya karena Balai Budaya itu rahimnya kesenian budaya Indonesia.

“Banyak seniman budayawan besar yang lahir dari Balai Budaya ini,” tandasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.