Pantai Pasir Putih Riangsunge, Pulau Solor yang Masih Perawan

Editor: Mahadeva WS

195

FLORES – Pantai Raingsunge di Dusun Riangsunge, Kelurahan Ritaebang, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, merupakan sebuah pantai berpasir putih halus. Lokasinya berada di ujung barat Pulau Solor dan berhadapan dengan Selat Lewotobi dan Pantai Utara Pulau Flores.

Bentangan pasir putihnya tergolong panjang, karena terbentang sepanjang satu kilometer lebih, dan bila sampai ke Ritaebang, bentangan pasir putihnya sejauh hampir empat kilometer. Di pantai tersebut, kita tidak akan menemukan sampah plastik. Hanya sampah dedaunan dan ranting, serta batang kayu yang akan ditemui di sepanjang garis pantai.

Namun sayang, pesona pantai yang di era 80-an hingga 90-an, banyak diminati wisatawan asing ini, lambat laun terlihat mengalami mati suri. Hal itu tidak terlepas dari kondisi, tidak ada yang serius mengelolanya sebagai destinasi wisata.

Melihat potensi wisata yang belum digarap, dua orang anggota kepolisian, Aipda Agustinus Niron, selaku Kapospol Ritaebang dan Babinsa Solor Barat, Sertu Melky Monega, mengumpulkan anak muda dan membentuk kelompok pengelola wisata pantai. “Didorong oleh keduanya, kami mulai membentuk kelompok.  Kelompok Tani Penggerak Wisata (Tanpa) yang beranggotakan 18 orang, mulai membersihkan pantai dan melakukan penataan,” ungkap Ambrosius Agolewo Huler, Ketua Kelompok Tanpa kepada Cendana News, Minggu (26/8/2018).

Obyek wisata tersebut diberi nama Wisata Wato Bou, Pantai Raingsunge. Wato artinya batu, sementara Bou artinya berkembang, sehingga diharapkan pantai tersebut dapat kembali berkembang, bersinar dan disambangi wisatawan.

Kelompok Tanpa bergerak cepat membersihkan Pantai Riangsunge, dari sampah kayu dan dedaunan. Secara swadaya dibangun lima buah pondok kayu beratap ilalang, yang akrab disebut lopo, bangku dari kayu serta sebuah kamar mandi dan toilet di lokasi pantai. “Kami membangun seadanya saja dengan bekerja secara gotong royong. Tiga buah Lopo sudah mulai rusak dan kami tidak ada biaya memperbaikinya. Pemasukan juga hampir tidak ada meski hari Minggu ada minimal 50 orang yang bertamasya disini,” sebutnya.

Untuk anak sekolah, pengelola pantai tidak memungut biaya. Sementara untuk wisatawan dewasa, diminta sumbangan sukarela untuk biaya membangun fasilitas, sebab bantuan dana dari pemerintah daerah hampir tidak ada.

Lurah Ritaebang, Urbanus Werang menyebut, di 2018 pihaknya akan mengalokasikan dana untuk membangun lagi sebuah kamar mandi dan toilet. Tahun 2019 pun sudah dianggarkan bantuan dana dari Dinas Pariwisata Flores Timur. Tahun 80-an sampai 90-an awal, ratusan wisatawan asing, dari kapal pesiar sering mampir ke pantai tersebut. Banyak wisatawan yang senang berselancar, karena ombak di pantai ini bisa setinggi 1,5 meter.

“Saya sering ditelepon agen wisata di Larantuka kalau ada wisatawan asing yang ingin berselancar di pantai Riangsunge. Memang sayang sekali kalau pantai ini tidak ditata dengan serius dan kelurahan juga tidak memiliki dana untuk membantu,” ungkap Urbanus.

Gugusan pandan laut (Pandanus odorifer) yang berada di sebelah timur dan barat sepanjang pantai Riangsunge kecamatan Solor Barat kabupaten Flores Timur provinsi NTT. Foto : Ebed de Rosary

Melihat Penyu

Persis di sebelah barat Pantai Riangsunge, terdapat Selat Lewotobi, yang ditengahnya terdapat dua pulau kecil yang dinamakan Pulau Kambing. Sementara di depannya terlihat Pulau Konga, dan gunung api kembar Lewotobi.

Perairan di depan Raingsunge hingga ke Ritaebang merupakan hunian penyu. Pantai tersebut sering dijadikan tempat bertelur penyu sisik, penyu hijau maupun penyu Belimbing. Selain itu sering terlihat hiu paus, karena perairan di teluk ini banyak terdapat plankton. “Banyak wisatawan yang mengaku sering melihat penyu saat diving di perairan ini. Memang benar sebab pantai ini juga menjadi salah satu tempat bertelur penyu, dan nelayan di Ritaebang maupun desa-desa di Kecamatan Ilebura yang berada persis di depan ujung barat pulau Solor pukatnya sering terjaring penyu dan hiu paus,” sebut Aipda Agustinus Niron, Kapospol Ritaebang.

Untuk menjaga kelestarian ekosistem, Agustinus bersama kelompok Tanpa, dibantu para pelajar di Mei 2017 lalu, menanam sekira 5.000 anakan mangrove, di sisi timur Pantai Riangsunge. Tanaman tersebut untuk mengganti bakau-bakau yang sudah tua dan dahulu ditebang masyarakat.

Selain itu ditanam juga, pohon pandan laut (Pandanus odorifer). Ditanam berjejer, di sepanjang pesisir pantai dan dilarang untuk ditebang. Kelompok ini rutin membersihkan pesisir pantai dari sampah sehingga pantai pun menjadi bersih.

“Sayang sekali bila pantai ini tidak ditata dan dikelola dengan baik untuk dijadikan pantai wisata. Harus dibangun rumah-rumah pohon sebab di tempat ini sangat banyak pohon Reo (Kudo) serta pohon asam berusia tua. Pantainya pun bersih dan butiran pasir putihnya sangat halus,” ucap Noben da Silva, Warga Larantuka.

Untuk sampai ke Pantai Riangsunge, pengunjung bisa menumpang kapal motor setiap hari dari pelabuhan Larantuka menuju Pamakayo dengan biaya Rp20 ribu. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor. Bisa juga membawa sepeda motor sendiri dengan biaya sewa kapal Rp20 ribu atau menumpang ojek sebesar Rp50 ribu.

Apakah pesona alam yang indah, dengan potensi wisata baharinya ini akan dibiarkan merana dan tidak ditata. Akankah masyarakat tidak bisa lagi mendapatkan manfaat dari keindahannya?

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.