Pasar Hewan Tradisional Sulit Terapkan Standar Harga Ternak

Editor: Satmoko Budi Santoso

178

YOGYAKARTA – Budaya masyarakat yang terbiasa menggunakan harga taksiran atau dalam bahasa Jawa disebut joggrokan, membuat penerapan standar harga ideal jual beli ternak dengan hitungan bobot per kilogram, sulit diterapkan.

Terlebih masyarakat masih kerap melihat seekor ternak yang dijual di pasar, berdasarkan bentuk perawakan fisik maupun kesenangan masing-masing peternak. Harga jual ternak pun tidak memiliki standar yang jelas.

“Memang budaya masyarakat di sini masih menggunakan joggrokan. Jadi, hitungan ideal harga ternak seperti sapi yang dihitung bobot per kilogram, sulit diterapkan. Padahal, sebenarnya fasilitas seperti timbangan ternak sudah ada,” ujar Yuda Andi Nugroho, Kepala UPT Pasar Hewan dan Rumah Potong Hewan, Ambarketawang, Gamping, Sleman.

Yuda Andi Nugroho, Kepala UPT Pasar Hewan dan Rumah Potong Hewan Ambarketawang Gamping Sleman – Foto Jatmika H Kusmargana

Andi menyebut, penerapan harga ideal berdasarkan bobot per kilogram itu juga tidak bisa diterapkan untuk jual beli ternak yang merupakan bibit atau anakan. Bisa jadi harga seekor anakan sapi atau biasa disebut pedet, memiliki harga lebih tinggi dibandingkan sapi dengan berat yang sama.

“Dari sisi pedagang, penerapan harga taksiran atau joggrokan juga lebih menguntungkan. Sampai sekarang masih dominan digunakan,” katanya.

Menjelang hari raya Idul Adha, aktivitas pasar hewan terbesar di DIY ini, memang mengalami peningkatan signifikan, baik dari sisi harga maupun jumlah pedagang. Andi menyebut, tahun ini harga ternak jenis sapi mengalami peningkatan mencapai Rp1-2 juta per ekor. Yakni dari Rp16-20 juta per ekor tahun lalu menjadi Rp17-23 ekor pada tahun ini.

“Dari sisi jumlah juga meningkat, sejak 3 bulan terakhir. Menjelang hari raya Idul Adha seperti sekarang, jumlah ternak yang masuk mencapai 300-400 ekor per hari. Meningkat sekitar 5-10 persen dari biasanya,” katanya.

Mayoritas pedagang sapi yang menjual ternaknya di pasar ini, dikatakan berasal dari sejumlah wilayah, baik Sleman, Bantul, maupun Kulon Progo. Khususnya untuk jenis jantan yang memang menjadi syarat hewan kurban.

“Biasanya peningkatan ini akan terus terjadi hingga 2 minggu menjelang hari raya,” katanya.

Untuk memastikan hewan yang dijual di pasar merupakan hewan yang sehat, pihak UPT Pasar Hewan Ambarketawang sendiri mengaku, rutin melakukan pengecekan secara umum terhadap ternak yang beredar.

“Khusus untuk pasar hewan, ada 2 orang dokter hewan khusus yang bertugas mengawasi ternak. Mereka selalu siaga untuk melakukan pemeriksaan dan pengawasan secara umum. Selain itu dari Dinas Peternakan juga ada,” katanya.

Selain sapi, di pasar hewan Ambarketawang juga terdapat sejumlah ternak berupa kambing dan domba yang dijual. Yakni mencapai sekitar 50 ekor per hari. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan hari biasa yang hanya berkisar sekitar 20 ekor saja.

“Kapasitas pasar mencapai 1000 ekor sapi dan 3000 ekor kambing, masih sangat mencukupi,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.