Pasar Talibura, Sikka Bertahan Dalam Kesederhanaan

Editor: Mahadeva WS

176

MAUMERE – Pasar tradisional menjadi ajang silaturahmi masyarakat. Spirit barter masih digenggam, meski uang kerap menjadi primadona alat tukar zaman modern.

Mengusung pesan senada, Pasar Talibura bergeliat dalam kesederhanaan di pinggir jalan negara Trans Flores. Penjual dan pembeli tumpah ruah, meski mentari belum menyembul di ufuk timur. Wanita-wanita tua terlihat tertatih, membawa hasil kebun dan bermacam hasil pertanian ala kadarnya dalam wadah anyaman daun lontar bergegas menuju pasar.

Tali tas atau bakul (teli)  di letakan di kepala, sehingga bakul (teli)  berisi aneka hasil bumi tergantung di punggung. Wanita-wanita renta Tana Ai (Tana Ai adalah suku yang mendiami kecamatan Talibura dan Waiblama) seakan tak peduli beratnya beban yang menggelayut di punggung.

Sedikit membungkuk, mereka terlihat bersemangat menuju tempat berjualan. Meski harus bersaing dengan pedagang besar lainnya, hal tersebut tidak menyurutkan niat untuk mengais rezeki. Tampak beberapa wanita usia 30-an hingga 40-an tahun berbaur bersama. Dua helai karung palstik atau zak semen bekas pakai digelar di tanah menjadi alas berdagang.

Satu persatu hasil kebun disusun di atas bentangan karung atau zak semen tersebut, Kapur sirihpun di keluarkan dari Teli Wua atau wajak (tempat sirih pinang yang dianyam memakai daun lontar), sembari menunggu pembeli atau orang yang mau membarter, tak henti mulut mereka mengunyah sirih pinang.

Bagi masyarakat Tana Ai, pasar Talibura di 80-an menjadi pasar barter terbesar di wilayah timur kota Maumere. Minimnya kendaraan zaman  itu mau tak mau membuat masyarakat yang hendak ke pasar Talibura harus berjalan kaki.

Menunggang kuda, hanya dilakoni oleh saudagar atau petani besar yang memiliki kebun kelapa berhektar-hektar. “Hampir semua orang yang datang kesini berjalan kaki dari kampungnya. Mobil hanya satu dua,itupun mobil milik misi  (gereja Katolik) berupa truck kayu,“ tutur Vinsensia Pase, wanita asal Desa Nangahale, Kecamatan Talibura. Sabtu, (26/8/2018).

Vinsensia sedang sepi pembeli. Ubi keladi (talas) yang dijual, dibelinya di pasar Geliting Kecamatan Kewapante. Satu karung talas dibeli Rp65 ribu, kemudian dijual kembali secara eceran. Satu kumpul talas ukuran kecil berjumlah 6 buah, dijual Rp5.000. Untuk ukuran yang lebih besar, satu kumpul berisi tujuh atau delapan buah dihargai Rp10.000.

Sekarung, Vinsensia bisa meraup keuntungan Rp20.000 hingga Rp30.000. “Saya juga tukar (barter) dengan garam dan ikan. Hampir semua penjual dari desa sering melakukan barter,” jelas wanita renta tersebut.

Pisang dan singkong mendominasi hasil kebun yang dijual. Delfina (50) menyebut, pasar Talibura aktifitasnya bergeliat sejak mentari menyembul di ufuk timur. “Kalau jam 9 atau jam 10 pagi, sudah banyak orang yang pulang, karena jarak ke kampung jauh apalagi harus berjalan kaki,” kata Delfina, warga Desa Nangatobong, Kecamatan Talibura.

Mengitari pasar Talibura, Cendana News melihat para pedagang menggelar dagangan di kiri-kanan jalan semen selebar  tiga meter tersebut. Mereka mempergunakan karung bekas, zak semen dan terpal sebagai alas menggelar aneka jualan. Sebagian pedagang membuat tempat berjualan (tedang/bale-bale) dari kayu beralaskan bambu belah (halar).

Los pasar  yang tersedia panjangnya ± 20 meter dan lebar ± 8 meter.Tanpa dinding, los terbuka beratap seng ini dipenuhi pedagang pakaian. Selain sembako dan hasil kebun, ikan, garam, alat rumh tangga, dan ayam. Harga sewa tempat jualan cukup terjangkau, hanya Rp1.000 perhari.  “Kami tidak merasa terbebani dengan harga sewa. Kami bersyukur  pemilik tanah yang halamannya kami pakai mengisinkan kami berjualan disini,” sebut Delfina.

Aktivitas jual beli maupun barter, beberapa tahun belakangan mulai dilakukan dua hari menjelang hari pasar. Meski Sabtu, merupakan hari resmi, aktifitas pasar Talibura, sejak Kamis sore dan Jumat, sudah terlihat. Masyarakat di pelosok Kecamatan Talibura, Waiblama dan Kecamatan Waigete, berbondong-bondong menyambangi pasar tersebut.

Ada yang rela tidur di los pasar, dan kembali setelah hasil kebun mereka habis terjual atau dibarter. Kalau dari beberapa pulau seperti Kojagete, Pemana, Kojadoi dan Parumaan, yang masuk kecamatan Alok dan Alok Timur, biasanya datang menggunakan perahu saat hari Sabtu subuh.

Siapapun yang melintasi pasar Talibura setiap Sabtu, akan menyaksikan aktifitas di pasar karena letaknya persis di samping jalan Negara Trans Maumere–Larantuka, tepatnya di Desa Talibura, Kecamatan Talibura, yang berjarak ± 50 kilometer arah timur kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.