Pascagempa Lombok, Pemprov Sumbar Menanti Kabar Perantau Minang

Editor: Satmoko Budi Santoso

462

PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatra Barat terus melakukan koordinasi dengan perantau Minang atau masyarakat Minang yang ada di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pasalnya, sejak kejadian gempa bumi berkekuatan 7 Skala Richter Lombok Utara, Minggu (5/8) sekitar pukul 19.46 waktu setempat itu, telah membuat masyarakat di sana merasa dilema.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, mengatakan, diperkirakan jumlah perantau Minang yang ada di Lombok mencapai ratusan orang. Namun, setelah terus dilakukan upaya komunikasi di sana, belum ada kabar terkait kondisi perantau Minang yang ada di Lombok.

“Kita tengah berkoordinasi dengan Kantor Penghubung di Jakarta untuk memastikan masyarakat perantau Minang yang ada di Lombok Utara, NTB. Bagaimana situasi mereka terkini,” ujarnya, Senin (6/8/2018).

Menurutnya, pascagempa 7,0 SR di Lombok itu, turut membuat keluarga perantau yang ada di Sumatera Barat menjadi khawatir. Untuk itu, Pemprov Sumatera Barat akan terus melakukan komunikasi dan koordinasi mencapai kabar puluhan ribu perantau Minang.

Sementara itu, Kepala Biro Kerjasama Rantau Setdaprov Sumatera Barat, Luhur Budianda mengatakan, dari informasi perantau yang berdomisili di NTB, kini yang merupakan perantau Minang belum ada kabar. Terkait ada kemungkinan perantau mengalami korban jiwa.

“Intinya kita masih terus melakukan up date data berkoordinasi dengan masyarakat atau perantau di sana,” katanya.

Ia menjelaskan, perantau Minang yang berdomisili di NTB tersebar di Lombok Utara, Lombok Timur dan Kota Mataram. “Dari keterangan pengurus Ikatan Keluarga Minang NTB, Edi, kondisi 300 lebih perantau Minang yang tergabung dalam organisasi itu, dalam keadaan baik-baik saja,” sebutnya.

Budi menyatakan, saat ini kondisi masyarakat di Lombok masih trauma pascagempa kemarin. Untuk memastikan data jumlah perantau belum terpikirkan sama sekali, dikarenakan masih memikirkan keselamatan diri mereka dan keluarga masing-masing.

Kendatai demikian, Ikatan Keluarga Minang NTB akan menjanjikan segera berkoordinasi dengan seluruh pengurus IKM setempat, guna mendata jumlah perantau terdampak bencana.

Sedangkan untuk perantau Minang di Bali berdasarkan koordinasi pihaknya dengan Sekretaris Ikatan Keluarga Minang Saiyo (IKMS) Bali, Ferri, tutur Budi, belum ada laporan dari perantau yang menjadi korban, baik itu jiwa maupun materiil.

“Untuk jumlah perantau di Bali lebih kurang 15 ribu orang dan mereka juga merasakan dampak gempa Lombok,” jelasnya.

Kini kondisi perantau yang berada di NTB tengah membutuhkan selimut, lotion, antinyamuk, terpal, mie instan dan mineral. Karena, mereka masih berada di luar rumah dan merasa was-was untuk kembali ke rumah dikarenakan gempa susulan masih sering terjadi.

“Jadi, untuk bantuan nanti seperti biasa akan kita himpun. Untuk meringankan beban bagi mereka yang terdampak bencana gempa di NTB. Baik itu masyarakat setempat maupun masyarakat dan perantau Minang di sana,” katanya.

Untuk itu, terkait kondisi di Lombok, Biro Kerja Sama dan Rantau Setdaprov Sumatera Barat memastikan, masyarakat yang berada di kampung halaman tidak perlu khawatir untuk memastikan keluarganya di Lombok.

Hal ini mengingat masyarakat dapat berkoordinasi melalui Biro Kerja Sama dan Rantau.

“Jadi masyarakat di Sumatera Barat tidak perlu merasa khawatir keadaaan keluarganya di NTB. Untuk memastikan keadaan keluarganya, masyarakat dapat berkoordinasi dengan Biro Kerja Sama dan Rantau terlebih dahulu,” tegasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.