Patung GWK Setinggi 212 Meter di Bali, Tahan Gempa, Angin dan Petir

Editor: Koko Triarko

409
BADUNG – Setelah melalui proses panjang selama 28 tahun, Garuda Wisnu Kencana (GWK) di lahan seluas 67 hektare, akhirnya rampung dibangun. Hal tersebut dibuktikan dengan pemasangan modul kerangka patung terakhir yang dilakukan pada 31 Juli, kemarin.
Patung yang berdiri megah setinggi 212 meter atau setara dengan 271 meter di atas permukaan laut ini, secara resmi menjadi ikon baru milik Bali.
Seniman sekaligus perancang patung GWK, Nyoman Nuarta, menjelaskan, patung ini merupakan salah satu hadiah untuk kemerdekaan tahun ini.
Menurut Nuarta, awal gagasan dari proyek maha besar ini dimulai sejak 1989, oleh Nuarta bersama Joop Ave, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi.
Proyeksi GWK mengalami lima kali perubahan besar, hingga akhirnya bentuk terakhir seperti yang terlihat saat ini.
Seniman sekaligus perancang patung GWK, Nyoman Nuarta. -Foto: Sultan Anshori.
“Proyek yang dimulai pada masa pemerintahan Presiden Soeharto ini pun sempat tertunda pada 1998, ketika Indonesia dilanda krisis moneter. Dan, kembali dilanjutkan pembangunannya pada 2002, ketika  PT. Alam Sutera, TBK menggelontorkan dana untuk melanjutkan mega proyek ini,” ucap Nuarta kepada Cendana News, Minggu, (5/8/2018).
Pembangunan patung GWK tidak hanya menjadi suatu karya seni dan diproses secara kesenian, tapi juga menjadi suatu terobosan ilmu dan teknologi. Dunia pengisahan tradisi dan kandungan kosmologinya, menjadi berada di zaman sekarang dengan sebenar-benarnya, dengan menumbuhkan dirinya lewat perkembangan terkini dan mewujudkan inti gagasan dan semangat ke tingkatan berikutnya.
Tidak salah, katanya, jika proyeksi GWK untuk menjadi daya tarik yang besar, membuatnya harus dirancang dengan teliti, dan memenuhi standar pelayanan publik.
Beragam solusi rekayasa diaplikasikan pada pembangunan patung GWK. Strukturnya dibuat tahan gempa, fisiknya mampu menahan hembusan angin kuat, dan GWK sebagai bangunan tinggi menangkal petir dengan sekaligus berfungsi sebagai sangkar Faraday, dengan semua listrik akan diserap oleh kulit patung yang terbuat dari tembaga dan kuningan.
“Ini rasanya juga mimpi besar dari masyarakat kita, dan sepanjang menghayati hidup sebagai bangsa. Sebagaimana juga gagasan-gagasan pendahulu yang menyatukan kepercayaan orang-orang sebagai suatu masyarakat yang berdaya, dan bebas menentukan nasibnya sendiri, dalam arus zaman yang merdeka,” kata seniman asli Bali ini.
Nuarta juga menjelaskan, kontur GWK dirancang dalam sistem lapis-berlapis, patung diiris secara horizontal untuk dipotong menjadi segmen-segmen yang lantas dibagi lagi menjadi modul-modul berukuran 3 x 4 meter, dengan kedalaman bervariasi.
Pemodelan GWK ini menghasilkan paten kekayaan intelektual tersendiri, dengan hak paten bernomor 009388 tahun 1993, tercatat di Kementerian Kehakiman Republik Indonesia.
“Ini hadir dari tantangan untuk melakukan pembesaran bentuk dari model skala kecil kepada bentuk asli, dengan tanpa deformasi atau distorsi. Ketika itu, belum ada cara untuk mengaplikasikannya kepada bentuk-bentuk tiga dimensi yang sulit dan rumit”, katanya.
Namun, sambungnya, dengan sistem pembagian irisan dari cetakan model GWK, persoalan ketepatan bentuk menjadi terpecahkan. Landasan teknologi dan ilmu memungkinkan kelancaran dan keselamatan konstruksi GWK.
“Itulah sebabnya, besaran patung, biaya, sistem, struktur dan lain-lain dapat diputuskan dengan akurasi yang tinggi”, katanya.
Ia melanjutkan, beban patung tidak dibiarkan ada pada platform dari bangunan penyangga. Seluruh beratnya disalurkan melalui konstruksi core atau inti pada beton bertulang di pedestal yang berukuran 30 x 30 meter, dengan ketebalan dinding inti atau shear wall mencapai 50 cm.
Inti tersebut mencapai ketinggian tertentu, untuk dipadukan dengan konstruksi baja. Dengan baja yang bersifat lebih lentur, maka keseluruhan konstruksi tidak akan bergoyang, bila mendapat dorongan angin atau gempa.
“Kombinasi ini membuat patung menjadi cukup rigid atau kaku, namun dengan sedikit sekali kemungkinan terjadinya fatigue logam atau kelelahan akibat struktur yang terlalu sering bergerak,” ujar Nuarta.
Bahkan, katanya, dua kali uji terowongan angin juga dilakukan di Melbourne (Australia) dan Toronto (Kanada). Dari uji terakhir di Toronto, didapatkan masukan-masukan untuk penyesuaian bentuk. Sebab, besarnya dinamika bentuk GWK dapat menyebabkan perbedaan tekanan angin atau turbulensi.
Kemudian untuk pembuktian kekuatan material patung juga diputuskan untuk melakukan tes hancur pada satu bagian modul ukuran 4 x 3 meter di laboratorium PUSPIPTEK (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) di Serpong, Tangerang Selatan.
Kulit patung baru hancur setelah mendapatkan hempasan angin 250 kilometer per jam, setara tiga setengah kali hembusan angin terkuat yang terekam di Bali sebesar 70 kilometer per jam.
Pemilihan logam tembaga dan kuningan sebagai bahan muka kulit yang menentukan rupa GWK, ditentukan dengan pertimbangan dari segi ekspresivitas, sekaligus kekuatan struktural.
Tembaga adalah bahan terbaik untuk dapat menghadirkan lekuk-lekuk organik dan detail-detail karakter dari patung GWK. Tembaga bersifat lentur, tidak mudah sobek, atau patah, mudah dibentuk dan dipilih sesuai keinginan pematungnya.
Namun, katanya, sifat lentur tidak selalu menguntungkan, bila menghadapi patung yang mempunyai luas permukaan seperti GWK, yang kulitnya mencapai dua setengah hektare atau 25.000 meter persegi. Tembaga yang mudah dibentuk ini juga mudah berubah, bahkan pada suhu-suhu panas dan tekanan yang tidak terlampau tinggi.
“Maka, perlu diciptakan struktur yang lebih detail lagi untuk memperkuatnya, yakni dalam segitiga-segitiga bingkai dari kawat las kuningan, yang menyambung lempengan-lempengan kecil tembaga itu”, jelasnya.
Proses tersebut, kata Nuarta, dikerjakan perlahan dan teliti, dengan menyambung satu per satu lempeng oleh tangan-tangan terampil, dari modul ke modul, lapisan ke lapisan, hingga sebagaimana telah disusun sepenuhnya kini.
Nuarta juga mnengatakan, penempelan kulit ini ke dalam struktur raksasa juga menjadi tantangan tersendiri. Tim perancangan harus membuat struktur rangka yang presisi untuk menopangnya, seperti potongan-potongan puzzle raksasa.
Pilihan warna hijau turquoise yang ada pada patung GWK, yang disebut sebagai patina, merupakan sebuah proses oksidasi yang melindungi logam dari korosi, sekaligus memberi warna pada logam tembaga atau kuningan secara artistik. Wama pirus atau biru-hijau pada GWK merupakan warna alami yang terbentuk akibat kandungan eter.
“Hanya saja, proses alami ini memerlukan waktu yang cukup panjang, sekitar 15 tahun. Proses patinasi pada GWK memanfaatkan bahan kimia yang memerlukan waktu beberapa jam saja,” pungkas Nuarta.
Baca Juga
Lihat juga...