Pedagang Mie Tek-tek Terhimpit Tingginya Harga Telur

Editor: Koko Triarko

252
LAMPUNG – Naik turunnya harga telur ayam sejak tiga pekan terakhir, dari semula Rp23.000 menjadi Rp25.000, hingga maksimal mencapai Rp27.000 per kilogram, berdampak bagi para pedagang kuliner, salah satunya mie tek-tek.
Sugiarto (49) dan Yayuk (48), pasangan suami istri pedagang mie tek-tek menyebut, harga telur yang naik turun menyebabkan dirinya hanya memperoleh keuntungan minim dari  menjual kuliner berbahan mie dan telur tersebut.
Sugiarto mengaku, berjualan mie tek-tek, sejak masih keliling kampung dengan cara dipikul. Berjualan mie tek-tek dengan ciri khas wajan yang dipukul dengan suara “tek-tek”, membuat mie yang dijual kerap disebut mie tek-tek.
Kini, meski telah berjualan dengan gerobak tanpa memukul wajan, karena sudah memiliki tempat mangkal khusus, dirinya tetap dikenal sebagai penjual mie tek-tek di bilangan Jalinsum KM 79, Penengahan, Lampung Selatan.
Mie tek-tek rebus siap dihidangkan ke pelanggan [Foto: Henk Widi]
Ia mulai berjualan sejak harga telur per kilogram Rp5.000. Selanjutnya harga telur terus mengalami kenaikan, hingga rata rata stabil di angka Rp14.000-Rp15.000 per kilogram di pengecer. Meski diberi harga lebih miring karena akan dijual dalam bentuk olahan kuliner pada Juli hingga Agustus, dirinya membeli telur di atas harga Rp22.000 per kilogram.
“Naik turunnya harga telur ayam tentu sangat saya rasakan, karena satu porsi mie tek-tek menggunakan satu butir telur, artinya kalkulasi modal bahan baku semakin naik saat harga telur naik,” terang Sugiarto, saat ditemui Cendana News, Sabtu (4/8/2018) malam.
Ia menghitung, dengan harga telur yang sempat mencapai Rp27.000 per kilogram isi 16 butir, maka per butir telur sudah mencapai biaya Rp1.600 lebih. Padahal, saat harga mencapai Rp15.000 per kilogram dengan isi yang sama, satu butir telur hanya seharga Rp900 lebih. Kenaikan harga telur tersebut diakuinya cukup terasa, per butir mencapai Rp700 termasuk kenaikan sejumlah bahan bumbu untuk pembuatan mie tek-tek.
Beberapa jenis bahan yang naik, di antaranya cabai rawit yang semula per kilogram Rp35.000 naik menjadi Rp40.000. Harga kol semula Rp8.000 per kilogram menjadi Rp10.000. Kenaikan bahkan sangat dirasakan dari bahan bakar gas elpiji ukuran 3 kilogram bersubsidi yang semula di pengecer dijual Rp22.000 menjadi Rp25.000 per tabung.
Meski sejumlah bahan baku naik, Sugiarto dibantu sang istri tetap menjual satu porsi mie tek-tek rebus dan goreng seharga Rp8.000.
“Saya tidak berani menaikkan harga, karena sejak satu tahun terakhir harga hanya saya naikkan seribu rupiah,” terang Sugiarto.
Sugiarto yang berjualan mie tek-tek sejak pukul 17.00 hingga maksimal pukul 23.00, atau lebih cepat hingga pukul 20.00, pada Agustus ini masih tetap menjaga normalnya harga mie tek-tek buatannya.
Dalam satu kali berjualan, ia menghabiskan sekitar 40 hingga 50 butir telur atau sekitar 3 kilogram telur. Satu malam dirinya bisa menjual 40 porsi saja, ia sudah bisa membawa pulang Rp320.000.
Keuntungan yang tipis, disebutnya tidak menyurutkan untuk berjualan mie tek-tek, karena ia sudah memiliki pelanggan tetap. Rasa yang lezat pada mie tek-tek buatannya sudah disukai oleh beberapa generasi, karena dirinya sudah berjualan mie tek-tek sejak 1990 mulai, dari cara dipikul hingga menggunakan gerobak.
Yayuk, sang istri, menyebut idealnya harga telur berkisar Rp15.000 per kilogram, seperti yang pernah terjadi pada 2016. Sedangkan, saat ini masih mencapai harga Rp24.000 di toko langganan.
Kenaikan harga telur dan sejumlah bahan untuk pembuatan kuliner mie tek-tek disiasati dengan cara merelakan keuntungan tipis. Sebab, mengurangi porsi atau bahkan menaikkan harga justru berimbas pada pergilnya pelanggan.
Untuk menambah penghasilan keluarga, saat pagi hingga sore hari, Yayuk membantu suami berjualan jamu tradisional. Penjualan jamu tradisional dengan menggunakan kendaraan roda dua secara keliling membuat dirinya bisa membantu ekonomi keluarga.
Sebagai cara memutar ekonomi keluarga bersama suami, ia bahkan masih tetap berbagi waktu membantu suami berjualan mie tek-tek, meski dirinya harus tetap berjualan jamu tradisional.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.