Pekerja di Daerah Konflik, Rentan Hadapi Serangan Bersenjata

Ilustrasi kawasan Afrika – Dokumentasi CDN

DAKAR – Bekerja di daerah konflik selama bertahun-tahun tak berarti tak menakutkan ketika melihat pria bersenjata menyerbu rumah sakit, kata Colette Gadenne dari organisasi medis Medecins Sans Frontiere (MSF).

Itu terjadi tiga kali dalam tiga pekan mulai Mei sampai Juni di Republik Afrika Tengah, tempat Gadenne menjadi pemimpin misi.

Dalam satu kasus, beberapa petempur melepaskan 21 tembakan sebelum pergi, katanya.

Republik Afrika Tengah adalah contoh sangat buruk, tapi para pekerja bantuan di seluruh dunia menghadapi peningkatan serangan, pembunuhan dan penculikan saat petempur mencemooh hukum internasional yang dimaksudkan untuk melindungi kelompok bantuan, kata pihak perwakilan dari kelompok kemanusiaan.

Itu telah mengubah cara lembaga bantuan beroperasi. Staf bantuan pada semua tingkat dipaksa membiasakan diri dengan tingkat bahaya yang terus-menerus dan mengasah kemampuan seperti berunding dengan kelompok bersenjata, kata banyak ahli.

“Sangat menakutkan. Bahkan jika anda memiliki pengalaman, bahkan ketika anda mengetahui anda memiliki jaringan kerja yang bagus, itu tetap saja menakutkan,” kata Gadenne kepada Thonson Reuters Foundation melalui telepon dan Ibu Kota Republik Afrika Tengah, Bangui.

Hampir 140 pekerja bantuan tewas tahun lalu di seluruh dunia, naik 23 persen dari 2016, demikian data yang disiarkan pekan lalu oleh kelompok peneliti independen Humanitarian Outcomes.

Sudan Selatan adalah negara yang paling berbahaya selama tiga tahun berturut-turut, sementara Republik Afrika Tengah naik ke posisi keempat di dalam daftar tersebut, setelah Suriah dan Afghanistan, setelah terjadi kenaikan serangan sebanyak tiga kali lipat.

Lihat juga...