Pelaku UMKM Masih Tak Anggap Penting HaKI

Editor: Mahadeva WS

134

DENPASAR – Kepemilikan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), penting untuk pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Keberadaanya, untuk melindungi produk yang dihasilkan.

Namun hingga saat ini, kesadaran pelaku UMKM untuk melindungi produk yang dihasilkan dengan HAKI masih kurang. Hal tersebut berimbas, banyak produk UMKM yang diklaim orang lain atau negara lain.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Denpasar, Made Erwin Suryadarma Sena mengatakan, di era digital seperti saat ini, banyak terjadi pembajakan produk, yang berpotensi menimbulkan kerugian. Di Denpasar tercatat saat ini baru ada 75 UMKM yang mendaftarkan produknya.

Tercatat dari 67 merek, dua hak cipta, enam disain industri, yang diajukan tersebut, ada 38 yang sudah mendapatkan persetujuan. “Jumlah itu membuktikan rendahnya animo pelaku UMKM dalam pendaftaran HaKI, dibandingkan jumlah UMKM yang mencapai 30.840 usaha,’’ ujar Erwin.

Erwin menyebut, meski HaKI memiliki peran penting, masih banyak yang tidak tahu cara mengaksesnya. Hal tersebutlah yang mendorong Dinas Koperasi UMKM Kota Denpasar berupaya melakukan sosialisasi. Erwin menyebut, pengurusan HaKI dilakukan gratis, dan prosesnya cepat serta mudah.

Untuk mendapatkan HaKI disain, cukup dengan mendaftar dengan kelengkapan syarat berupa surat pernyataan materai 6.000, yang diisi pernyataan bahwa disain yang dibuat murni hasil karya bersangkutan. Apabila ada yang menuntut mereka siap untuk dibatalkan. ‘’Sekarang tidak ada sanksi hukum, jika ada yang mengajukan namun ternyata ada terlebih dulu yang miliki, maka HaKI-nya dicabut.  Sedangkan mencari HaKI Merek harus diumumkan di negara-negara sehingga memerlukan waktu yang cukup lama,” tambahnya.

Dengan kondisi tersebut, Erwin berharap, UMKM di Denpasar segera mendaftarkan produk karyanya. Mengingat, UMKM di Denpasar sering mengikuti pameran di luar daerah maupun luar negeri. Produk yang sering di pamerkan di luar negeri, harus dilindungi, untuk menghindari kemungkinan ditiru. “Sudah banyak terbukti, banyak hasil produk asli Denpasar ditiru, dan diakui oleh negara lain,” tandasnya.

Kabid UMKM, Dinas Koperasi dan UMKM Kota Denpasar, Ngakan Putu Widnyana menambahkan, UMKM di Denpasar maupun Bali, masih sangat enggan untuk mendaftarkan produknya. “Dalam kesempatan sosialisasi, kami juga mensosialisasikan tentang KUR yang disampaikan langsung oleh bank,” pungkasnya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk