Pembelian Dikoordinir, OP Gas Lancar

Editor: Mahadeva WS

344

LAMPUNG – Operasi Pasar (OP) gas bersubsidi tiga kilogram di Lampung Selatan  memasuki hari kedua. Di hari pertama, operasi pasar berlangsung di empat titik.

Qori Nilwan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lampung Selatan saat meninjau pelaksanaan operasi pasar gas elpiji subsidi ukuran 3 Kg [Foto: Henk Widi]
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lampung Selatan, Qori Nilwan menyebut, OP gas bersubsidi melibatkan Pertamina, Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Lampung, dan sejumlah agen.

Dari pemetaan kejadian kelangkaan gas bersubsdi, serta harga yang mahal, OP digelar di tujuh kecamatan. Wilayah yang dalam beberapa bulan terakhir mengalami kelangkaan gas diantaranya, Kecamatan Penengahan, Palas, Kalianda, Bakauheni, Sidomulyo, Way Panji dan Sragi. Mekanisme pembelian, sudah diatur oleh setiap aparat desa.

Hal tersebut untuk menghindari kecurangan serta memenuhi upaya pemerataan. “Kami juga tengah melakukan pendataan terkini, jumlah agen, pengecer yang menjual gas elpiji bersubsidi. Serta melihat peruntukannya, agar tepat sasaran jangan sampai elpiji untuk masyarakat miskin justru dipakai untuk usaha besar atau golongan mampu,” ujar Qori Nilwan, Selasa (28/8/2018).

Selama pelaksanaan OP, selain agen, dan Pertamina, sejumlah petugas dari Disperindag Lamsel juga dikerahkan untuk memantau kondisi di lapangan. Selain kelangkaan, yang diamati adalah harga gas bersubsidi di masyarakat, yang disebut-sebut di sejumlah wilayah dijual hingga Rp30ribu pertabung.

Beberapa pekan sebelum OP digelar, Hiswana Migas telah melakukan sidak ke sejumlah lokasi. Dari upaya tersebut ditemukan, penggunaan gas tidak untuk peruntukan, diantaranya untuk bahan bakar mesin sedot air sawah.

OP gas bersubsidi digelar hingga Kamis (30/8/2018), untuk membantu masyarakat miskin yang kesulitan mendapat gas. Diimbau masyarakat yang sudah tergolong mampu, bisa beralih menggunakan gas non subsidi ukuran 5,5 kilogram yang juga disediakan dalam OP gas. Meski demikian, Qori Nilwan menyebut, belum bisa memastikan apakah OP gas murah masih akan digelar hingga bulan depan, saat di pengecer masih terjadi kelangkaan gas.

Didik, agen dari PT Nyala Lampung, salah satu agen yang dilibatkan pada OP menyebut, selama ini distribusi ke pengecer cukup lancar. Dia memastikan, stok dan pasokan selalu terpenuhi, sehingga saat terjadi kelangkaan, ada yang perlu dievaluasi.

Sebagai upaya memenuhi kebutuhan masyarakat, Didik memilih ikut berpartisipasi dalam OP gas yang digelar oleh Pemkab Lamsel dan Hiswana Migas. “Sesuai arahan, kami dari PT Nyala Lampung dilibatkan dalam operasi pasar murah gas di Desa Gayam untuk alokasi lima desa dengan jumlah 560 tabung,” beber Didik.

Distribusi gas bekerjasama dengan aparat desa, sehingga pendistribusian gas elpiji berjalan tertib. Salah satu cara yang diterapkan adalah, pihak desa meminta warga membawa fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) saat akan membeli. Pembelian gas ukuran tiga kilogram dikoordinir di setiap desa, sehingga tidak terjadi kecurangan karena pembelian melebihi kuota. Jika pada awalnya diberi kesempatan membeli dua tabung, akibat tingginya permintaan, pembelian hanya dibatasi satu tabung per satu KK.

Khozali, salah satu aparatur Desa Banjarmasin menyebut, sebanyak 112 warga desanya mengikuti OP gas elpiji ukuran tiga kilogram. Dia menyebut, sesuai hitungan jumlah setiap desa dijatah, satu tabung per KK. Sistem penyerahan KK berikut tabung, dikoordinir untuk menghindari warga membeli di luar jumlah yang telah ditentukan. “Pelaksanaan OP sangat tertib karena setiap warga dipanggil sesuai nomor urut kupon sekaligus nama sesuai kartu keluarga,” beber Khozali.

Indah, salah satu warga Desa Gayam menyebut, selama hampir dua bulan membeli gas elpiji subsidi ukuran tiga kilogram dengan harga Rp25ribu pertabung. Di beberapa warung gas, harga jualnya mencapai Rp30ribu pertabung. Indah menyayangkan, OP digelar hanya satu kali, dan jumlah yang dibeli dibatasi. Diharapkannya, setelah menggelar OP dengan harga Rp17ribu, pemerintah diminta membenahi pendisribusian gas dari distributor hingga pengecer. “Pihak agen menyebut distribusi lancar,tapi sampai pengecer harga mahal bahkan barang langka,” beber Indah.

Indah menyebut, penjualan tabung gas elpiji yang tidak dikontrol, membuat warga yang secara ekonomi mampu, masih memakai tabung untuk masyarakat miskin tersebut. Meski sosialisasi dilakukan, masih banyak warga yang secara ekonomi mampu, mau beralih membeli gas non subsidi. Sementara dari penggunaan, tabung gas 5,5 kilogram bisa digunakan untuk 45 hari. Gas 5,5 Kg oleh sejumlah pengguna dianggap lebih efesien, dan bisa dibeli di pangkalan dan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina.

Baca Juga
Lihat juga...