Pemkot Mataram Imbau Warga Bertahan di Luar Rumah

1.443
Warga Lombok di pengungsian, ilustrasi -Dok: CDN
MATARAM – Pemkot Mataram melalui Wakil Wali Kota, H Mohan Rolisakana, mengimbau warga di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat tetap bertahan di tempat terbuka atau di luar rumah, guna mengantisipasi gempa susulan yang masih terus terjadi.
“Selama belum ada kepastian terhadap kondisi gempa bumi susulan, sebaiknya warga tetap berada di tempat terbuka atau tidak berlama-lama di dalam ruangan/rumah,” katanya, kepada sejumlah wartawan di Mataram, Sabtu (11/8/2018).
Pernyataan itu disampaikan, menanggapi anjuran pulang ke rumah yang disampaikan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati. Namun, karena adanya gempa susulan 6,2 skala richter pada Kamis (9/8) siang, pemerintah kota tetap meminta masyarakat berada di tempat terbuka, sampai alam benar-benar kondusif.
Mohan mengatakan, dalam hal ini pemerintah kota memahami kondisi dan suasana psikologis masyarakat, sehingga sampai saat ini mereka memilih berkumpul di ruang terbuka.
“Sesekali masyarakat berani pulang ke rumah untuk mengambil beberapa kebutuhan mereka, itu pun tidak lama. Semoga bencana ini bisa segera selesai, agar semuanya kembali normal,” katanya.
Akibat gempa bumi susulan pada Kamis siang itu, menyebabkan jumlah korban meninggal dunia menjadi 11 orang. Di mana pada gempa bumi 7,0 SR (5/8) tercatat 6 orang warga Mataram meninggal dunia, sedangkan gempa bumi 6,2 SR tercatat lima orang meninggal dunia.
Selain itu, dampak dari gempa bumi susulan tersebut terjadi kerusakan pada sejumlah fasilitas pemerintah, fasilitas umum dan rumah warga.
Berdasarkan data terakhir, tercatat 533 unit fasilitas umum, pemerintah dan milik pribadi rusak berat, 1.526 unit rusak sedang dan 2.386 unit rusak ringan.
“Selain itu, jumlah pengungsi di Kota Mataram hingga saat ini tercatat 66.674 jiwa, diprediksi akan terus meningkat seiring dengan masih adanya gempa susulan,” katanya.
Menurutnya, pengungsi yang ada di Kota Mataram bukan pengungsi permanen seperti kasus-kasus korban gempa bumi di Kabupaten Lombok Utara, karena bangunan rumah mereka dan fasilitas umum runtuh total. Pengungsi di Mataram hanya untuk penyelamatan sementara, sehingga jumlah pengungsi pada malam hari meningkat signifikan.
“Tetapi, memang kami juga mengimbau masyarakat untuk tidak berada di dalam rumah untuk antisipasi gempa susulan, jadi mau tidak mau mereka berada di luar rumah,” katanya. (Ant)
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.