Pencak Silat Ganda Putra Dedikasikan Emas untuk Masyarakat Lombok

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

361

JAKARTA — Pencak silat kembali mempersembahkan medali emas kedua di Asian Games 2018 yang digelar di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (27/8/2018).

Medali emas kali ini diraih oleh duet pesilat Yola Primadona Jumpil dan Hendy, yang tampil di nomor ganda putra dengan sukses menorehkan 580 poin.

“Alhamdulillah medali emas ini, kami dedikasikan untuk Lombok. Medali emas ini dipersembahkan untuk masyarakat Lombok, karena mereka layak untuk merayakan pesta olahraga ini. Kalian juga harus tetap semangat dan berjuang,” kata Prima ditemui usai pertandingan.

Meraih poin 580 menurutnya, adalah nilai tertinggi yang dicapainya selama tanding di berbagai event pencak silat, baik di tingkat dunia. Bahkan, kata Prima, semua lawan untuk nomor ganda putra di Asian Games 2018 ini, memang sebelumnya pernah ditemui menjadi lawan di berbagai kejuaraan dunia dan Sea Games di Malaysia belum lama ini.

Hanya saja, kata dia, memang ketika Asian Games mereka menaikkan level, dan tentunya dirinya bersama Jampil, juga harus menaikkan level. Kombinasi keduanya melakukan berbagai variasi gerakan silat tangan kosong dan memakai senjata yang memukau para juri. Sehingga meraih poin tertinggi mengalahkan Vietnam yang mendapatkan medali perak dan Malaysia dengan medali perunggu.

“Permainan di ganda putra pada kejuaraan dunia dan Sea Games itu kita rombak total. Alhamdulillah espektasi yang kami perlihatkan juga tinggi dinilai wasit dan juri,” ucap Prima bersemangat.

Hendy menambahkan, gerakan baru yang diciptakannya itu harus sesuai antara dirinya dan Prima dalam laga tanding, baik itu dalam sikut dan sabetan. Jika tidak, maka akan berdampak cedera, jatuh dan mengena ke pinggang.

Keduanya mengaku, menyerasikan gerakan baru ini fokus dilakukan setelah berlatih penuh. Hingga beberapa sabetan dan tusukan sukses terhindari. Namun demikian, kata Puspa, terasa aneh manakala saat berlatih tidak terkena sabetan dan tusukan yang berdampak luka.

“Tapi bagi kami, kalau nggak kena sabetan atau luka, berarti ada sesuatu yang salah. Berarti kita mainnya masih agak jauh,” ujarnya.

Dia menjelaskan, yang mereka pertontonkan pada laga nomor ganda putra ini adalah seramnya gerakan dan tipisnya gerakan. Sehingga ekspetasi terhadap nomor ganda putra itu tetap serem dengan perhitungan matang.

 

“Kami ucapakan terimakasih kepada PB IPSI dan Pak Prabowo yang telah mendukung memberi semangat. Dengan berjuang melawan diri sendiri, deg-degan, dengan kualitas gerakan kami yang sangat sulit. Alhamdulillah medali emas ini sangat mengobati,” ucap Hendy.

Menurutnya, lima tahun belakang ini pencak silat memang sulit. Dan selama lima tahun itu dirinya dan pesilat lainnya giat berlatih tanpa putus dengan bimbingan PBSI dan Ketua Umum IPSI, Prabowo Subiakto.

“Kita latihan lima tahun tanpa putus, dan hari ini kita berhasil merebut kembali medali emas dari Vietnam. Kami tak ingin dikotak-kotakan bahwa pencak silat tidak lebih baik dari karate dan wushu. Kita sama-sama berjuang untuk Indonesia,” tegas Prima.

Target kedepan setelah meraih medali emas ini, keduanya berharap dapat tampil di kejuaraan pencak silat dunia di negara Arab Saudi.

“Saya tidak tahu, apakah kita masih dipakai atau tidak, karena setelah ini pasti ada seleksi lagi,” ujar Prima merendah.

 

Baca Juga
Lihat juga...