Peneliti: Deforestasi Perlu Pendekatan Multisektor

155
Ilustrasi -Dok: CDN
JAKARTA – Masalah perubahan penggunaan lahan hutan menjadi non-hutan atau deforestasi, memerlukan pendekatan dan kerja sama multisektor untuk menemukan solusi yang menyeluruh dan efektif.
“Disadari atau tidak, deforestasi tidak hanya mengubah nasib tanaman atau pun binatang yang hidup di atasnya, tapi juga berdampak luas pada lingkungan sekitarnya dan manusia dalam segi kesehatan maupun ekonomi,” kata Agus Suwandono, periset senior INDOHUN (Indonesia One Health University Network) dalam siaran persnya, Sabtu (4/8/2018).
Menurut Agus, riset terkait deforestasi dan dampaknya terhadap kesehatan sangat penting untuk dilakukan, terutama di Indonesia yang sangat sering dilakukan pembukaan hutan tanpa memperhatikan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.
“Dalam pembukaan hutan, yang pertama perlu diperhatikan adalah pemanfaatan hasil analisis dampak lingkungan secara maksimal. Yang kedua, perlu memperhatikan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat”, katanya.
Saat ini, analisis dampak lingkungan untuk pembukaan hutan sudah banyak dipenuhi, namun follow-up pelaksanaan hasilnya masih kurang dan tidak konsekuen, seperti yang banyak terjadi pada kasus pembukaan lahan baru untuk pertambangan, perkebunan, dan sebagainya.
Untuk menemukan solusi yang menyeluruh dan efektif, diperlukan studi lebih lanjut, tidak hanya sekadar melarang manusia memanfaatkan lahan untuk industri atau pun kepentingan ekonomi lainnya, namun untuk memberikan alternatif penggunaan lahan secara maksimal, dengan dampak negatif minimal terhadap biodiversitas.
Salah satu bentuk pendekatan dan kerja sama multisektor, pada 2018 ini telah dijalin kerja sama antara INDOHUN, University of Minnesota, AS dan Eco Health Alliance (EHA), untuk melakukan riset yang diberi nama Disease Emergence and Economics Evaluation of Altered Landscapes (DEAL).
Riset ini bertujuan untuk meringankan dampak negatif akibat perubahan lahan yang mungkin terjadi pada masyarakat Indonesia, baik dari segi kesehatan maupun ekonomi.
Tak hanya melakukan studi mengenai perubahan penggunaan lahan dan dampaknya terhadap kesehatan dan ekonomi, riset DEAL juga berupaya menginformasikan hasil studinya kepada masyarakat, untuk meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap alam Indonesia.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Wiku Adisasmito, mengungkapkan, studi mengenai perubahan lahan saat ini lebih banyak ditekankan kepada untung ruginya dalam segi ekonomi dan lingkungan, namun pendekatan ilmiahnya terhadap kesehatan masyarakat masih kurang diperhatikan.
“Pembangunan yang baik dimulai dari sumber daya manusia yang sehat, sehingga perlu adanya mitigasi ancaman pembangunan kepada kesehatan masyarakat,” kata Wiku.
Menurut Wiku, perubahan penggunaan lahan memiliki dampak terhadap kesehatan, selain terkait perubahan lingkungan vektor penyebar penyakit zoonotik di alam, juga dapat memicu berbagai permasalahan kesehatan lain, seperti gangguan pernafasan akibat asap hasil pembakaran lahan yang juga berdampak lintas negara.
Degradasi lingkungan dan perubahan penggunaan lahan menjadi ancaman bagi manusia, berkaitan dengan peningkatan kontak manusia dengan satwa liar sebagai penghuni lahan yang terganggu habitatnya. Hal ini berpotensi mengakibatkan terjadinya infeksi dari satwa liar ke manusia.
Selain itu, perubahan penggunaan lahan juga memiliki dampak ekonomi terkait dengan biaya yang dibutuhkan untuk konversi penggunaan lahan dari hutan menjadi non-hutan, kerugian akibat kerusakan alam, dan biaya perawatan kesehatan akibat penyakit zoonotik yang ditimbulkan. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...