Kaki Seribu Potensial Sebagai Obat Antikanker Payudara

. Foto: Jatmika H Kusmargana

220

YOGYAKARTA — Kaki seribu selama ini mungkin kerap dipandang sebagai hewan menjijikkan sehingga seringkali dihindari. Namun siapa sangka, hewan ini ternyata dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker ataupun obat penyakit kanker payudara.

Hal itu diungkapkan sejumlah mahasiswa farmasi UGM yakni Gemilang Sekar Hapsari, Alya Lulu’ah dan Firda Ridhayani di bawah bimbingan drh. Retno Murwanti, M.P., Ph.D.

Mereka mengungkapkan, dari sejumlah literatur yang ada, kaki seribu diketahui mengandung zat Para-Benzoquinon yang diduga memiliki aktivitas antikanker. Dimana kandungan senyawa ini dapat menyebabkan apoptosis atau kematian sel secara simultan.

Dari situlah mereka kemudian memulai penelitian dengan mengumpulkan Kaki Seribu yang diperoleh di daerah Ajibarang, Banyumas. Selanjutnya, kata Sekar, tim melakukan dideterminasi untuk mengetahui spesiesnya.

“Kaki Seribu dimaserasi dengan etanol 96 persen untuk mendapatkan ekstraknya,” ujarnya.

Kemudian, untuk mengidentifikasi senyawa dilakukan uji Kromatografi Lapis Tipis. Adapun uji sitotoksisitas (MTT Assay) untuk mengetahui aspek biologisnya dan molecular docking berbasis komputer untuk mengetahui interaksi senyawa yang diduga memiliki aktivitas antikanker untuk berikatan secara molekuler dengan protein target.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak kaki seribu (EKS) mengandung senyawa benzoquinon. Hasil ekstral kaki seribu memiliki kadar penghambatan 50% pada sel penyebab kanker payudara.

“Diketahui Kaki Seribu tidak toksik terhadap sel kanker payudara dan senyawa benzoquinon pada kaki seribu, mampu berinteraksi dengan native ligand untuk berikatan pada enzim,” kata Firda Ridhayani, anggota tim peneliti lainnya.

Dari situlah mereka menyimpulkan kaki seribu dengan kandungan benzoquinon berpotensi sebagai agen kemoprevensi pada pengobatan kanker payudara tertarget.

Sebagaimana diketahui jumlah kasus kematian yang disebabkan oleh kanker di Indonesia sangat tinggi. Pada 2012 saja tercatat mencapai 8,2 juta orang, dimana kanker payudara menjadi kasus yang menempati posisi pertama dengan persentase 43,10 persen kasus baru dan 12,90 persen kasus kematian.

Namun begitu, pengobatan kanker payudara hingga saat ini masih mengandalkan kemoterapi memiliki banyak kelemahan pada permasalahan resistensi, efek samping hingga efikasinya.

Baca Juga
Lihat juga...