Perbaiki Perahu, Nelayan Lamsel Manfaatkan Fasilitas Pengedokan

Editor: Satmoko Budi Santoso

303

LAMPUNG – Kondisi cuaca yang kurang bersahabat di perairan Selat Sunda ditambah erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) membuat sejumlah nelayan memilih tidak melaut.

Erupsi GAK dengan dominasi gempa tremor dan material abu vulkanik yang sudah mengarah ke sejumlah wilayah di antaranya Desa Kunjir dan Way Muli, membuat nelayan memilih istirahat. Faktor keselamatan bahkan menjadi pilihan bagi nelayan untuk beristirahat.

Keputusan istirahat melaut tersebut, diakui Rukin (56) salah satu nelayan di Desa Maja, Kecamatan Kalianda, yang memilih memperbaiki perahu. Perahu jenis bagan mini berukuran panjang 12 meter dan lebar 2 meter tersebut, diakui Rukin, menjalani proses pengedokan sejak sepekan terakhir.

Perbaikan memanfaatkan fasilitas pengedokan di dekat dermaga Bom Kalianda yang dikelola oleh Dinas Kelautan dan Perikanan.

Sejumlah perahu yang tengah menjalani proses pengedokan di Kalianda Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
“Fasilitas pengedokan saya gunakan untuk perbaikan sejumlah bagian perahu mulai dari bagian lunas, lampu dan sejumlah peralatan untuk kapal bagan mini penangkap teri,” papar Rukin salah satu nelayan di Desa Maja, Kecamatan Kalianda, saat ditemui Cendana News, Selasa (7/8/2018).

Rukin menyebut, fasilitas yang digunakan sejumlah nelayan pesisir Kalianda tersebut berupa dok tarik (slipway dock). Dok tarik merupakan fasilitas dok yang digunakan pada tepi perairan untuk menaikkan kapal yang akan diperbaiki melalui rel.

Slipway dock yang digunakan menjadi fasilitas perbaikan perahu bahkan kerap menjadi pilihan untuk perbaikan perahu. Alat pengedokan tersebut berbentuk memanjang dengan sistem tarik menggunakan tari seling baja.

Fasilitas dok tarik tersebut, bisa dipergunakan untuk sekitar empat hingga lima kapal berukuran kecil. Bagi sejumlah nelayan biaya penggunaan pengedokan tersebut sangat membantu karena perahu bisa dipergunakan untuk perbaikan secara menyeluruh.

Pengedokan tanpa menggunakan sistem kolam tersebut bahkan cukup menguntungkan untuk perbaikan perahu.

“Perahu yang diperbaiki cukup ditarik dengan tali seling sehingga lebih mudah dipergunakan langsung oleh nelayan,” beber Rukin.

Sebagian nelayan tangkap di Ketapang Lampung Selatan melakukan proses penangkapan ikan [Foto: Henk Widi]
Biaya pengedokan, sesuai dengan ukuran perahu mulai dari Rp250.000 hingga Rp300.000. Biaya tersebut, belum termasuk biaya pembelian peralatan perbaikan di antaranya cat, perbaikan mesin serta sejumlah peralatan lain.

Ia menyebut, dalam sekali pengedokan sejumlah nelayan bisa mengeluarkan biaya sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta. Meski demikian, ia menyebut, biaya pengedokan tersebut bisa tergantikan jika mendapat hasil tangkapan yang lumayan.

Sejumlah nelayan lain yang memanfaatkan kondisi cuaca tak bersahabat di antaranya Hendri (30) menyebut memilih melakukan perbaikan perahu. Perbaikan perahu jenis kasko  memanfaatkan pengedokan yang ada di Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan.

Fasilitas pengedokan tersebut, dikelola secara mandiri oleh warga untuk perbaikan perahu yang dimiliki oleh nelayan.

Nelayan di Ketapang melakukan proses pengedokan di pesisir Kalianda [Foto: Henk Widi]
“Saya melakukan perbaikan perahu selama kondisi cuaca tidak bersahabat untuk memperkuat kondisi kapal,” terang Hendri.

Hendri menyebut, sebagian nelayan pesisir Ketapang memilih melakukan pengedokan di wilayah tersebut karena lokasi yang cukup dekat. Perbaikan perahu pada fasilitas pengedokan milik warga kerap dikerjakan dengan cara gotong royong.

Penarikan perahu bahkan dilakukan mempergunakan tali selanjutnya diberi bantalan kayu untuk mengangkat perahu ke lokasi perbaikan. Khusus untuk lokasi pengedokan milik warga, ia menyebut, nelayan tidak harus membayar biaya sewa lokasi pengedokan.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.