Pertemuan Teater Mahasiswa Nusantara XVI, Angkat Tema Matrilinial

182
Logo event Temu Teater Mahasiswa Nusantara - Dok. temuteatermahasiswanusantara16padang.wordpress.com

PADANG — Pertemuan teater mahasiswa dalam rangkaian kegiatan Temu Teater Mahasiswa Nusantara ke XVI di Padang Sumatera Barat (Sumbar), mengangkat tema matrilinial atau sistem kekerabatan dengan garis keturunan ibu.

Ketua panitia pelaksana, Gustin Eliza, mengatakan tema matrilinial dipilih karena hal tersebut merupakan sistem kekerabatan khas Minangkabau atau Sumbar.

“Matrilineal merupakan budaya kekerabatan khas Minangkabau, sementara pada umumnya di Indonesia masyarakat menganut sistem patrilinial atau garis keturunan ayah,” katanya, Minggu (5/8/2018).

Ia menyebutkan, melalui kegiatan ini pihaknya ingin memperkenalkan lebih banyak kepada sesama pegiat teater mahasiswa dari seluruh Indonesia terkait keunikan sistem kekerabatan yang ada di daerah tersebut.

“Pada kegiatan ini kita juga dapat saling berbagi informasi tentang kearifan lokal dari daerah masing-masing,” ujarnya.

Ia mengatakan kegiatan tersebut diselenggarakan mulai dari tanggal 2 hingga 12 Agustus 2018 dengan berbagai agenda dan diikuti oleh pegiat seni kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni yang ada pada setiap kampus di Indonesia.

Beberapa kegiatan tersebut diantaranya adalah pertunjukan teater, panggung apresiasi serta pasar seni dan budaya, pertunjukan seni kolaborasi, temu wicara, talkshow budaya serta lokakarya.

Kegiataan tersebut menurutnya diikuti oleh sebanyak 54 UKM Seni Kampus dari berbagai pulau di Indonesia, seperti dari Pulau Jawa, Bali, Madura, Sulawesi, Kalimantan dan Sumantera.

Salah seorang peserta asal Palu Sulawesi Tengah, Farid mengatakan pada kesempatan tersebut ia mencoba menampilkan sebuah pementasan teater dengan mengambil tema tentang matrilinial sebagaimana yang telah ditetapkan panitia.

Ia menyebutkan, dalam pertunjukan tersebut ia mencoba mengambil makna yang lebih luas dari matrilinial itu sendiri, tidak hanya garis keturunan ibu, akan tetapi lebih kepada konteks Ibu Pertiwi atau Tanah Air.

“Pada pertunjukan teater yang dipentaskan kami mencoba menampilkan bagaimana tanah air yang kita cintai ini dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab,” katanya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...