Pertumbuhan Ekonomi 5,27 Persen, Temporer

Editor: Satmoko Budi Santoso

221

JAKARTA – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,27 persen Year on Year (YoY) pada triwulan II 2018 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) hanya bersifat temporer.

Direktur Eksekutif INDEF, Enny Sri Hartati mengatakan, pencapaian 5,27 persen pada triwulan II 2018 lompatannya cukup signifikan dibandingkan triwulan I 2018 tercatat 5,06 persen.

“Pertumbuhan ekonomi 5,27 persen itu kan nyaris 5,3 persen tapi secara ekonomi dampaknya tidak terasa dari lompatan itu. Ini bersifat temporer yang mengejutkan di tengah kelesuan sektor riil,” kata Enny pada diskusi bertajuk “Ekonomi Tumbuh : Temporer atau Berlanjut” di kantor INDEF, Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Bersifat temporer, jelas dia, karena konsumsi rumah tangga sebagai sumber pertumbuhan terbesar hanya didorong belanja pemerintah yang tidak berkesinambungan. Sehingga ada ketidakcocokan berupa peningkatan konsumsi yang tidak dibarengi dengan peningkatan produksi.

Padahal, sebut dia, belanja pemerintah seharusnya dapat menjadi stimulus untuk peningkatan sektor produktif maupun konsumtif. Contohnya, kata Enny, bantuan sosial untuk mendorong konsumsi tidak masalah sebagai stimulus, tapi tentunya harus paralel dengan produksi.

Enny berpendapat bahwa peningkatan konsumsi yang tidak dibarengi laju pertumbuhan di sektor produksi. Ini terjadi karena uang dari program padat karya tunai tidak dibelanjakan ke sektor industri dalam negeri. Begitu juga stimulus belanja dari impor tidak memberikan efek berganda bagi sektor produksi.

Menurutnya, adanya produksi yang masuk ke inventori atau cadangan yang tidak terjual. “Inventori dapat dihitung dari selisih antara Produk Domestik Bruto (PDB) pengeluaran dengan PDB sektoral,” ujarnya.

Namun, demikian jelas dia, laju pertumbuhan PDB komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2018 tercatat 5,14 persen (yoy). Angka tersebut lebih besar dibandingkan triwulan I 2018 4,95 persen (yoy).

Sedangkan laju pertumbuhan PDB untuk komponen industri pengolahan pada triwulan II 2018 tercatat 3,97 persen (yoy), atau lebih rendah dibandingkan 4,56 persen (yoy) pada triwulan I 2018.

Enny menegaskan, variabel ekonomi itu saling berkaitan atau sinergi. Sehingga ketika konsumsi meningkat, maka idealnya produksi juga meningkat. Namun, sayangnya, kata dia, ada perbedaan berupa peningkatan konsumsi, tapi produksinya justru tidak naik malah menurun.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang temporer pada triwulan II 2018 tersebut berdampak memberikan beban pada triwulan III 2018 karena minimnya sumber pendapatan untuk konsumsi.

Meskipun pada triwulan II 2018 dikuatkan oleh momentum bulan puasa dan lebaran, dan percepatan realisasi belanja pemerintah menjadi kontributor utama terjadinya peningkatan pertumbuhan.

Tapi, menurut Enny, terdapat sejumlah paradoks atas kinerja variabel makro ekonomi yang menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Baca Juga
Lihat juga...