Pesan-Pesan Presiden Soeharto kepada Olahragawan

Editor: Mahadeva WS

201

JAKARTA – Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, berlangsung begitu dramatis. Pada 29 Agustus 2018, perolehan medali emas ke-30 oleh Kontingen Indonesia begitu sangat mengharukan.

Hasil tersebut menjadi, sebuah pencapaian yang luar biasa. Target yang telah ditetapkan dapat terlampaui. Dalam berbagai event olahraga yang diadakan pada zaman Orde Baru, Presiden Soeharto selalu menyampaikan pesan-pesan mengharukan kepada olahragawan.

Seperti di antaranya, pada saat menerima kontingen yang akan mengikuti pesta olah raga Asian Games V di Bangkok, dan Ganefo II di Phnom Penh, pada 19 November 1966. Sebagaimana dilansir dalam http://www.soeharto.co, mengutip buku Jejak Langkah Pak Harto, 01 Oktober 1965 – 27 Maret 1968, hal 126-127.

Di buku yang ditulis Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin, diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta, 2003, Jenderal Soeharto, yang waktu itu sebagai Ketua Presidium Kabinet Ampera menyampaikan pesan-pesan mengharukan kepada olahragawan.

Dalam pesannya dikatakan, prestise suatu bangsa diukur dari prestasi yang dapat dicapainya. Mengaitkan, perlunya prestasi olahraga dengan keadaan ekonomi Indonesia, Jenderal Soeharto mengatakan, melihat keadaan keuangan yang cukup serius, para atlit harus berjuang keras di kedua arena tersebut. “Setelah itu, barulah dengan demikian, anggota-anggota kontingen dapat mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan rakyat, dan biaya yang dikeluarkan pun tidak akan sia-sia,” tandas Jenderal Soeharto secara tegas.

Presiden Soeharto di Asean Summit (Foto Istimewa Soeharto.co)

Pada saat menerima kontingen Indonesia yang akan berpartisipasi dalam Asian Games VI di Bangkok, Muangthai, 28 November 1970, Presiden Soeharto mengamanatkan, para olahragawan tidak hanya menjadi duta-duta olahraga Indonesia, melainkan juga wakil bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu, mereka hendaknya menjaga nama baik dan martabat bangsa Indonesia, dalam usaha untuk mencari kemenangan. Dalam kesempatan tersebut, Presiden Soeharto menyerahkan selembar Bendera Merah Putih, yang akan dibawa ke Bangkok sebagai pemupuk semangat bertanding.

Pada saat menerima Ketua Umum KONI Pusat Surono, Ketua Bidang Pembinaan Luar Negeri Bob Hasan di Bina Graha, pada 6 Agustus 1990, yang melaporkan persiapan pengiriman Kontingen Indonesia ke Asian Games XI yang akan berlangsung bulan September-Oktober di Beijing, Cina, Presiden Soeharto meminta para pimpinan dan pembina organisasi olahraga agar mawas diri terhadap prestasi atletnya.

Jangan memaksa kehendak untuk terjun ke kejuaraan olahraga besar seperti Asian Games, serta jangan lalai melakukan pembinaan bagi atlet muda berbakat untuk penerus generasi pendahulunya. “Asian Games bukanlah kegiatan hura-hura, melainkan memburu prestasi demi nama bangsa dan negara, karena itu cabang-cabang olahraga yang atletnya sulit berprestasi jangan memaksa diri untuk berangkat ke Beijing,” kata Presiden Soeharto.

Pada saat pembukaan Lokakarya Nasional tentang Pembangunan Olahraga di Bina Graha, pada 6 Sptember 1983, Presiden Soeharto menegaskan, pembangunan keolahragaan tidak berdiri sendiri. Bukan asal berolahraga. Olahraga mempunyai misi luas dan dalam, yakni membina kesehatan jasmani dan rohani setiap anggota masyarakat.

Sekalipun lapangan ekonomi tetap menjadi pusat medan juang di tahun-­tahun mendatang, pembangunan segi-segi lain dari kehidupan bangsa dan negara tidak akan diabaikan. Khusus di olahraga, tampak jelas dalam GBHN, dalam Repelita IV dicantumkan, pemerintah akan meningkatkan dan memasyarakatkan pendidikan jasmani dan olahraga.

Presiden Soeharto menandaskan, salah satu unsur penting dalam olahraga adalah sportivitas dan sikap kesatria. Ini berarti, jika lawan menang, maka keunggulan lawan harus diterima dengan rasa hormat. Kekalahan kita dari lawan, tidak perlu membuat rendah diri. Kekalahan harus dijadikan cambuk untuk berlatih lebih tekun, agar dapat berprestasi lebih baik. “Berjuang untuk mencapai prestasi merupakan unsur terpenting untuk menggerakkan pembangunan masyarakat modern,” ujar Presiden Soeharto.

Jika sikap kesatria dan tekad untuk berprestasi dapat berkembang di tengah-­tengah masyarakat, maka dinamika pembangunan akan terus-menerus memperoleh dorongan yang tidak habis-habisnya. Menurut Presiden Soeharto, unsur penting dari olahraga adalah disiplin. Di sini langsung atau tidak langsung, sedikit atau banyak, pengembangan disiplin dalam olahraga akan dapat mengembangkan disiplin pribadi, yang dapat berkembang menjadi disiplin bangsa.

Disiplin sangat penting untuk pertumbuhan bangsa yang tertib dan dinamis. Dalarn rangka melaksanakan misinya sebagai unsur pembinaan bangsa, Presiden Soeharto mengingatkan agar prestasi olahraga di Indonesia ditingkatkan. “Pengalarnan kita sehari-hari menunjukkan dengan jelas, betapa prestasi tinggi yang dicapai olahragawan pada pertandingan tingkat regional atau internasional telah ikut menaikkan semangat kebangsaan, kebanggaan nasional dan persatuan. Sebaliknya,  kegagalan yang menyakitkan tidak jarang mengecilkan hati seluruh rakyat Indonesia, “ imbau Presiden Soeharto.

Pada akhir sambutannya, Presiden Soeharto meminta, diberikan perhatian terhadap pengembangan olahraga tradisional. “Seperti pencak silat, merupakan bukti yang meyakinkan bahwa dengan cara-cara modern, ternyata olahraga tradisional mampu berkembang di tengah-tengah olahraga modern bangsa-bangsa di dunia sekarang,” pungkas Presiden Soeharto.

Apa yang disampaikan Presiden Soeharto di 6 Sptember 1983, kini terlihat nyata pada torehan Asian Games 2018. Dari 30 medali emas yang diperoleh Indonesia, paling banyak didapat dari cabang olahraga pencak silat dengan 14 emas.

Lihat juga...

Isi komentar yuk