hut

Pestisida Pabrikan, Membuat Biaya Perawatan Bawang Merah, Tinggi

Editor: Satmoko Budi Santoso

 

YOGYAKARTA – Ketergantungan terhadap bibit, pupuk serta pestisida buatan pabrik, masih menjadi kendala utama para petani Indonesia selama ini. Hal itu membuat keuntungan petani semakin berkurang, seiring tingginya biaya perawatan yang harus mereka keluarkan.

Seperti diungkapkan sejumlah petani bawang merah, salah satunya Lanjar, asal Dusun Gadingharjo, Srigading, Sanden, Bantul. Dalam sekali siklus masa tanam bawang merah, ia mengaku, harus mengeluarkan biaya perawatan minimal hingga Rp5 juta.

Biaya itu harus dikeluarkan Lanjar untuk membeli bibit, mengolah lahan, membayar tenaga tanam, membeli pupuk hingga membeli pestisida.

Jumlah itu belum termasuk biaya membeli alat pompa air serta penyemprot berikut bahan bakar untuk menyiram tanaman setiap harinya.

“Untuk lahan seluas kurang lebih 560 meter persegi seperti milik saya ini minim butuh biaya Rp5 juta. Untuk bibit saja sudah habis Rp1,25 juta, karena butuh 50 kilo dengan harga Rp25 ribu per kilo. Lalu biaya membuat bedengan sekitar Rp1,2 juta, pupuk Rp1 juta, pestisida Rp800 ribu, lalu biaya tanam Rp200 ribu,” ungkapnya, Senin (13/8/2018).

Sementara, untuk biaya penyiraman, Lanjar mengaku, membutuhkan dana cukup besar untuk membuat sumur bor yang mencapai Rp300 ribu per 1 pipa sepanjang 4 meter, membeli pompa air dan alat penyemprot sekitar Rp2,7 juta, hingga membeli bahan bakar berupa premium setiap harinya.

“Semua petani bawang merah di sini harus punya pompa air. Karena saat musim kemarau irigasi tidak mengalir. Jadi harus dipompa. Kalau yang jauh dari sungai seperti saya, harus bikin sumur bor. Dalamnya minim 6 meter. Sedangkan rata-rata bahan bakar butuh 1 liter setiap harinya,” katanya.

Dengan masa panen sekitar 65 hari, berarti seorang petani bawang merah seperti Lanjar membutuhkan biaya mencapai Rp500 ribu lebih, hanya untuk membeli bahan bakar pompa air. Sementara, dari lahan seluas kurang lebih 560 meter persegi, Lanjar mengaku, biasa mendapatkan hasil panen bawang merah mencapai 7 kuintal.

“Kalau hasil panen bagus dan harga sedang lumayan, misalnya Rp15 ribu per kilo, keuntungan bersih yang kita dapat bisa mencapai Rp2-3 juta. Tapi, kalau hasil panen buruk atau gagal panen, jelas kita rugi. Baik itu rugi biaya, modal, rugi tenaga, dan rugi waktu,” katanya.

Untuk menambah penghasilan, para petani seperti Lanjar mengaku, biasa menerapkan sistem tumpang sari pada lahan pertanian bawang merah mereka. Disamping menanam bawang merah dengan usia panen 65 hari, di saat bersamaan mereka juga menanam cabai dengan usia panen sekitar 90 hari.

Dengan begitu, saat bawang merah selesai dipanen, mereka masih bisa mendapatkan tambahan pemasukan dari cabai yang ditanam di antara bawang merah, sebelum masa tanam padi tiba. Tak hanya cabai, mereka biasanya juga menanam sayur jenis lain, seperti tomat atau terong di pinggir lahan bawang merah sebagai tanaman sampingan.

“Kalau tidak begitu, hasil kita sangat minim. Itu pun belum tentu bisa panen, karena sangat tergantung pada musim, hama penyakit, dan sebagainya,” katanya.

Kawasan Bantul bagian selatan, seperti Kecamatan Sanden sendiri, selama ini memang dikenal sebagai daerah penghasil bawang merah. Saat musim kemarau, atau masa tanam ketiga, mereka biasanya menanam tanaman palawija seperti bawang merah di lahan pertanian.

Hal itu dikarenakan kondisi saluran irigasi menyusut dan tak memungkinkan ditanam padi.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!