Petambak Udang Tradisional di Lamsel Terdampak Kemarau

Editor: Koko Triarko

1.458
LAMPUNG – Sejumlah pemilik usaha tambak udang vaname di Kecamatan Ketapang dan Sragi, Lampung Selatan, memilih berhenti beroperasi selama musim kemarau.
Hal itu dibenarkan oleh Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lampung Selatan, Meizar Melanesia, yang menyebut petambak udang vaname yang berhenti operasi umumnya berada jauh dari lokasi kanal pemasok air Sungai Way Sekampung, yang terhubung dengan laut pesisir Timur. Sebagian petambak sistem intensif memilih menggunakan sumur bor air payau, sehingga tetap bisa berproduksi.
Meizar Melanesia menyebut, budi daya air payau di wilayah Lampung Selatan masih didominasi oleh udang vaname. Berdasarkan pemantauan di lapangan yang dilakukan oleh petugas penyuluh perikanan, pada musim kemarau ini sektor budi daya tambak hanya mengalami pengurangan produksi sekitar 30 persen, yang didominasi oleh petambak tradisional. Sejumlah tambak intensif, masih beroperasi, dan sebagian memanfaatkan sumur bor bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Widodo, petambak intensif di Kecamatan Sragi, Lamsel, menggunakan mesin sedot dari air sumur bor [Foto: Henk Widi]
“Sebagian petambak tradisional sangat terpengaruh kondisi kemarau, namun sebagian lainnya masih beroperasi, terutama di wilayah yang dekat dengan laut,” terang Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lampung Selatan, Meizar Melanesia, saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (11/8/2018).
Budi daya air payau di Lampung Selatan dengan sistem tradisional, kata Meizar Melanesia, saat ini tersebar di Kecamatan Ketapang, Bakauheni, dan Sragi. Potensi luas lahan tambak tradisional udang dan bandeng di wilayah tersebut mencapai 5.000 hektare, dan yang dikembangkan sebanyak 3.500 hektare.
Budi daya tambak udang tradisional, kerap dikombinasikan dengan bandeng sebagai pengatur sirkulasi air tambak.
Meizar Melanesia juga menyebut, selama kemarau diperkirakan tambak tradisional yang masih beroperasi sekitar 2.800 hektare. Keputusan petambak untuk berhenti beroperasi, diakibatkan pasokan air yang mengalir melalui kanal tradisional tidak bisa menjangkau ke area pertambakan. Akibatnya, potensi produksi sekitar 2.000 ton pe rtahun dipastikan berkurang menjadi sekitar 1.700 ton per tahun
“Bagi petambak yang dekat laut, tentunya tidak begitu terpengaruh dengan datangnya kemarau, hanya produksi bisa menurun akibat penyakit,” terang Meizar Melanesia.
Upaya pencegahan penyakit saat kemarau dengan perubahan suhu air tambak, menurut Meizar, sudah dilakukan dengan mengerahkan sejumlah penyuluh perikanan.
Ada 12 penyuluh perikanan yang langsung berada di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendampingi petambak. Beberapa penyakit potensial yang terjadi saat kemarau, meliputi penyakit myo dan white spot atau bintik putih penyebab kematian pada udang.
Meizar Melanesia mengatakan, sesuai data potensi tambak intensif di Lamsel, memiliki luas sekitar 5.000 hektare, namun yang beroperasi hanya 300 hektare. Kapasitas produksi sekitar 15.000 ton per tahun, bisa dipertahankan dengan pola budi daya menggunakan alat modern.
Wilayah Lamsel yang mulai menerapkan sistem intensif, di antaranya Kecamatan Kalianda, Bakauheni, Sidomulyo, Sragi dan Ketapang.
“Meski tambak intensif tidak terdampak, namun terus kami pantau dampak langsung musim kemarau ini,” terang Meizar Melanesia.
Sementara itu Widodo (40), petambak di Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi, mengaku terpaksa menghentikan operasional lima hektare tambak tradisional miliknya, dan hanya mengoperasikan dua hektare tambak intensif.
Berkurangnya pasokan air, membuat petambak bergotong royong membersihkan saluran air, agar lahan tambak bisa difungsikan.
Widodo menyebut, dua hektare lahan tambak miliknya berkapasitas 600  ribu benur udang vaname atau per hektar masing-masing 300 ribu benur. Dampak kemarau meski sudah menggunakan sistem intensif, benih udang usia 15 hari miliknya terserang penyakit White Spot (WS), sehingga terpaksa dimusnahkan. Imbasnya, ia mengalami kerugian sekitar Rp20 juta untuk pembelian benur dan biaya operasional.
Meizar Melanesia, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
“Dua hektare lahan tambak intensif terpaksa ditebar ulang setelah diberi obat khusus menghilangkan penyakit,” terang Widodo.
Menurutnya, harga udang vaname saat musim panen semester kedua tahun ini, mencapai Rp80.000 per kilogram. Asumsi hasil panen sekitar dua ton, dirinya masih bisa mendapatkan omzet sekitar Rp160 juta, belum dipotong kerugian tebar pertama dan biaya operasional.
Sekali panen, ia memastikan bisa memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp40 juta. Pasalnya, biaya operasional cukup tinggi dengan penggunaan listrik PLN untuk pemutar kincir, pakan dan upah tenaga kerja.
Widodo mengatakan, hasil tersebut bisa lebih banyak, namun dampak kemarau membuat dirinya ‘mengistirahatkan’ lima hektare lahan tambak tradisional miliknya.
Dengan memanfaatkan sumur bor dengan kedalaman ratusan meter, katanya, sistem tambak intensif masih bisa dijalankan dengan sirkulasi air yang lancar menggunakan kincir. Bak-bak penampungan disalurkan dengan mengggunakan mesin pompa untuk dialirkan ke kolam intensif, yang dominan menggunakan sistem terpal tambak.
Selain terkendala kemarau, Widodo menyebut harga pakan udang rata-rata mengalami kenaikan hingga Rp20.000 per karung, kapasitas 20 kilogram. Harga pakan udang semula Rp350.000 per karung, naik menjadi Rp370.000 untuk merk A, merk B semula Rp360.000 naik menjadi Rp380.000, dan merk C semula Rp250.000 menjadi Rp270.000.
Kenaikan harga pakan tersebut ikut menambah beban biaya operasional tambak para petambak intensif di musim kemarau ini.
Baca Juga
Lihat juga...