Petambak Vannamei Dambakan Listrik

Editor: Mahadeva WS

234

LAMPUNG – Petambak udang putih (vannamei), di Kecamatan Sragi dan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, mendambakan fasilitas jaringan listrik. Listrik dibutuhkan untuk menjalankan sejumlah fasilitas usaha tambak tersebut.

Widodo (40), Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan), Harapan Maju menyebut, listrik dari PLN sangat dibutuhkan petambak. Aliran listrik dibutuhkan untuk proses sirkulasi air di lahan tambak. Dari 100 hektare lahan tambak milik anggota kelompok, sebagian masih dikelola secara tradisional. Proses sirkulasi untuk menjaga kestabilan air tambak dilakukan dengan sistem kincir.

Kincir digerakan dengan mesin diesel berbahan bakar solar. Imbasnya warga harus mengeluarkan biaya ekstra, untuk membeli solar. Selain untuk menjaga sirkulasi air, mesin diesel digunakan untuk memompa air, dari saluran kanal terhubung dengan Sungai Way Sekampung.

“Mesin diesel untuk sirkulasi air juga kami gunakan untuk menggerakkan aerator untuk pasokan oksigen agar suhu udara air tambak stabil karena udang sangat sensitif terhadap suhu,” terang Widodo saat ditemui Cendana News, Minggu (26/8/2018).

Widodo menyebut, anggota Pokdakan Harapan Maju rata-rata memiliki lahan tambak dua hingga sepuluh hektare perorang. Satu hektare lahan tambak, dijadikan dua petak tambak, untuk membudidayakan udang vannamei dan bandeng secara tradisional. Sistem budidaya semi intensif, dilakukan oleh petambak tradisional karena pasokan listrik dari PLN masih terbatas.

Rata-rata, petambak menggunakan mesin diesel untuk menyedot air dan sirkulasi tambak. Biaya operasionalnya mencapai Rp200.000 hingga Rp300.000 perhari. Untuk efisiensi bahan bakar untuk sirkulasi air, tambak pemeliharaan bandeng kerap dilakukan sebagai tumpang sari budidaya udang vannamei. Bandeng memiliki peranan mengatur pergerakan air, karena memiliki pola kebiasaan memutari tambak yang dibuat lebih dalam pada bagian tepinya.

“Meski sebagian menggunakan kincir air apung namun petambak masih memelihara bandeng membantu sirkulasi udara dan menjadi simbiosis mutualisme,” beber Widodo.

Usulan pemasangan instalasi jaringan listrik disebutnya, sudah disampaikan anggota Pokdakan Harapan Maju. Kendati demikian, proposal pengajuan masih belum mendapat respon dengan alasan membutuhkan waktu. Sebagian warga yang memiliki lahan di dekat rumah, terpaksa menyalurkan listrik dari rumah.

Keberadaan aliran listrik, mempermudah petambak untuk meningkatkan produktifitas budidaya udang vannamei di Kecamatan Sragi dan Ketapang. Sesuai dengan perhitungan kelompok, alokasi kebutuhan kelompok meliputi jaringan listrik tegangan menengah. Sepuluh tiang listrik untuk luasan lahan seratus hektare, satu trafo, dan akan disalurkan ke tambak tambak warga dengan sistem swadaya.

Sistem swadaya dilakukan dengan membuat tiang listrik cor beton, menggunakan pipa pvc agar menjangkau lahan tambak yang jauh. “Sementara kami masih menggunakan sistem diesel agar tambak tetap beroperasi meski sebagian tidak beroperasi karena kekeringan dampak kemarau,” beber Widodo.

Petambak lain, Jasman (40), warga Ketapang yang berbatasan dengan Kecamatan Sragi menyebut, ada area tambak milik warga yang belum teraliri listrik. Imbasnya ratusan hektare tambak, harus dikembangkan dengan sistem tradisional, dan pemilik modal bisa menggunakan mesin diesel.

Masa budidaya udang vannamei selama 100 hari, cukup menjanjikan. Dengan tebaran 150 ribu benur (benih udang), bisa menghasilkan 1.5 ton udang saat panen. Harga udang vannamei saat ini di tingkat petambak sebesar Rp60.000 per kilogram. Dengan demikian, omzet yang diperoleh bisa Rp90juta.

Kendati demikian, dengan asumsi penggunaan mesin diesel bertenaga solar berbiaya Rp200ribu perhari, satu kali kegiatan pemeliharaan biaya Rp20juta. Biaya tersebut bisa ditekan hingga Rp10juta perbulan, jika menggunakan listrik PLN. “Kami memang berharap ada jaringan listrik tapi sebagian masih sampai di wilayah yang banyak penduduknya sementara tambak kerap tidak ada penduduk,” terang Jasman.

Adi Wiyanto (33), petugas kantor jaga PLN rayon Kalianda, Wilayah Ketapang menyebut, sudah mendengar keluhan petambak. Meski demikian, sesuai dengan mekanisme yang ada, pengajuan harus disampaikan secara resmi oleh kelompok.

Selain itu, saat ini prioritas kebutuhan listrik untuk masyarakat masih diutamakan. Yaitu untuk sejumlah kawasan yang memiliki perumahan. Sebagian petambak masih memanfaatkan saluran listrik, dengan cara menyalurkan dari perumahan warga termasuk menggunakan genset. “Saya juga berharap secepatnya harapan petambak mendapat akses jaringan listrik segera terealisasi,” beber Adi Wiyanto.

Koordinasi lintas sektoral disebut Adi Wiyanto, juga diperlukan. Hal itu untuk mendapatkan alokasi listrik seperti yang diharapkan petambak. Petambak yang sebagian merupakan binaan dari Dinas Perikanan Kabupaten, bisa mengusulkan ke PLN, dengan alasan pemenuhan kebutuhan sektor perikanan budidaya.

Adi Wiyanto menyebut, sejumlah wilayah Kecamatan Sragi dan Ketapang, untuk kebutuhan listrik perumahan, masih belum ada yang tercover. Terutama kawasan yang jauh dari trafo. Sebagian warga menyalurkan listrik dengan cara membeli kabel sendiri hingga jarak satu kilometer untuk bisa teraliri listrik.

Baca Juga
Lihat juga...