Petani Sayur di Tawangmangu Untung Berlipat 

Editor: Koko Triarko

273
SOLO – Sejumlah petani sayur di Tawangmangu, Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, mengaku mendapat untung yang juah lebih banyak, setelah memanfaatkan musim kemarau panjang dengan bertanam sayur kembang kol.
Salah satu petani Tawangamangu, Sadinem, mengatakan, kondisi cuaca yang cerah justru menjadi berkah tersendiri bagi petani sayur. Pasalnya, musim kemarau membuat harga sayur di pasaran melonjak tinggi.
“Harga sayur baru bagus-bagusnya. Jadi, petani bisa untung lebih,” kata Sadiyem, Senin (27/8/2018).
Diungkapkan dia, saat ini harga sayur bunga kol mencapai Rp10.000 per kilogram. Padahal, harga normal sayur bunga kol di pasaran berkisar Rp5.000 per kilogram. “Tapi kalau lagi jatuh, satu kilo hanya dua ribu saja,” ucap dia.
Tingginya harga jual sayur kol di musim kemarau ini menjadikan untung petani lebih dari dua kali lipat. Jika rata-rata per petak sekitar 5.000 meter persegi, petani bisa menjual Rp20 juta, saat ini petani mampu menjual di harga Rp40 juta.
“Kalau musim kemarau panjang ini, harga sayur kembang kol bisa turun kalau di pasar barangnya banyak. Kebetulan kemarau ini tidak begitu banyak petani yang tanam,” terangnya.
Tak hanya musim kemarau  yang menjadikan petani sayur di Tawangmangu banyak mendapat untung. Ketersediaan air yang melimpah dari kaki gunung Lawu mempermudah untuk saluran irigasi.
Serangan hama di musim kemarau juga bisa lebih mudah ditanggulangi daripada di musim penghujan. “Di samping airnya banyak, hamanya juga berkurang. Ini yang menjadikan tanaman sayur bagus-bagus dan tidak banyak yang diserang hama,” imbuh Waluyo, petani sayur lainnya.
Menurutnya, sayur dari petani Tawangmangu banyak diminati dari berbagai daerah di Solo maupun sekitarnya. Selain dijual di pasar-pasar tradisional, sayur juga dikirim ke ibu kota.
“Bahkan, petani juga menyediakan untuk mereka yang tengah melintas di Tawangmangu dan ingin membeli sayur. Ada cukup banyak petani yang menjual dengan cara petik sendiri,” tandasnya.
Menjadi petani sayur memiliki keuntungan tersendiri. Selain mudah ditanam dan tidak memerlukan waktu lama untuk panen, risiko yang ada juga dapat diminamalisir.
Jika pada tanaman padi, misalnya, harus rutin dilakukan penyemprotan pestisida, berbeda dengan petani sayur. “Apalagi kalau sayur dua bulan sudah panen. Ini bisa lebih singkat dan risikonya kecil,” pungkasnya.
Lihat juga...

Isi komentar yuk