Peternak Ayam KUB Butuh Suntikan Indukan Baru

Editor: Mahadeva WS

479
Ayam milik anggota kelompok Ternak Sawung Maju, Sleman - Foto Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Turunan ternak yang sudah terlalu banyak, menjadi salah satu kendala pengembangan usaha ternak Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) di Sleman. Seperti yang dialami kelompok ternak ayam KUB, Sawung Maju di Desa Jogotirto Brebah Sleman Yogyakarta. 

Ketua Kelompok Ternak Ayam KUB Sawung Maju, Jogotirto, Brebah, Sleman, Sumarjo mengatakan, sejak berdiri di 2015 silam, ternaknya telah sampai pada turunan ke-5. Hal itu mengakibatkan penurunan kualitas indukan, yang mempengaruhi tinggat produksi telur di kelompoknya.

“Saat ini ayam kita sudah f5. Sehingga kualitasnya menurun. Karena itu kita butuh indukan yang masih murni minimal f1, agar tingkat produktivitas telur tetap bagus. Kita sebenarnya sudah ajukan permintaan indukan, tapi sampai saat ini belum turun,” ujarnya kepada Cendananews, Senin (6/8/2018).

Selain persoalan turunan ternak yang sudah terlalu banyak, kendala lain yang dihadapi adalah keterbatasan modal. Tidak meratanya kemampuan seluruh anggota, hingga keterlambatan peremajaan ayam ternak menjadi kendala penghambat pengembangan usaha tersebut. “Kendala utama tentu modal. Kita masih kekurangan lahan, serta jumlah indukan. Apalagi semua anggota menjalankan usaha ternak ayam KUB ini secara swadaya murni. Tidak ada bantuan sama sekali. Balitbangtan hanya mendampingi soal teknologi nya saja,” ungkapnya.

Sebagai salah satu kelompok binaan dan percontohan budidaya ayam KUB di Sleman, Yogyakarta, Kelompok Ternak Sawung Maju rutin memproduksi bibit ayam KUB. Memiliki delapan anggota, Kelompok Ternak Sawung Maju mampu memproduksi 300-400 bibit ayam KUB setiap minggunya.

Ketua Kelompok Ternak ayam KUB, Sawung Maju, Jogotirto, Brebah, Sleman, Sumarjo – Foto: Jatmika H Kusmargana

Jumlah tersebut menurun jika dibandingan dengan kondisi di awal pembentukan kelompok. Saat itu, mereka mampu memproduksi 1.000 bibit setiap minggu.  “Awalnya dulu kita miliki 25 anggota dengan produksi mencapai 1.000 bibit per minggu. Namun karena berbagai kendala mulai dari serangan penyakit hingga keterbatasan modal, kini anggota yang aktif tinggal delapan orang saja,” katanya.

Memanfaatkan mesin penetas, kelompok ternak ayam KUB Sawung Maju, menjual bibit ayam KUB umur tiga hari dengan harga Rp6.500 per ekor. Dengan harga yang relatif stabil, mereka mampu mengantongi omset hingga Rp2,6 juta per minggu. Usaha budidaya ayam KUB semakin banyak diminati karena, memiliki harga jual stabil yakni Rp60ribu per kilogram, ayam KUB juga lebih tahan penyakit jika dibandingkan dengan ayam broiler.

Pertumbuhan ayam KUB juga tidak kalah bila dibanding ayam broiler, baik untuk pedaging atau pun petelur. Ayam KUB memiliki pertumbuhan sembilan ons hingga satu kilogram dalam kurun waktu 70 hari. Sementara untuk jenis petelur mampu menghasilkan 180 telur per tahun.

Kendati demikian, banyaknya kendala yang dihadapi membuat kelomok ternak Sawung Maju tak mampu memenuhi permintaan bibit ayam KUB setiap harinya. Padahal permintaan pasar terhadap bibit ayam KUB sebenarnya sangat tinggi. Bisa mencapai 10ribu ekor per hari. “Saat ini kita sedang mulai lagi, dengan menyiapkan sejumlah calon indukan baru. Meskipun dengan ayam turunan f5,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.