Polisi Ungkap Dugaan Pemerasan di Kawasan Ruko Seribu Cengkareng

Editor: Koko Triarko

2.112
JAKARTA – Jajaran Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, mengungkap kasus dugaan pemerasan berkedok uang jasa keamanan dan kebersihan di kawasan Kompleks Ruko Seribu, Cengkareng, Jakarta Barat.
“Modusnya berkedok jasa keamanan dan kebersihan. Namun pada faktanya, ada pemaksaan karena tarif ditetapkan sepihak,” ujar Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Hengki Haryadi, di Mapolres Jakarta Barat, Senin (27/8/2018) sore.
Hengki menceritakan, awal mula informasi dari  keresahan masyarakat adanya tindak pidana premanisme yang dilakukan oleh sejumlah preman berkedok security di Ruko Seribu Cengkareng, Jakarta Barat, yang melakukan perusakan, perbuatan tidak menyenangkan, meminta sejumlah uang yang bervariatif kepada pemilik ruko setempat.
Selain itu, kata Hengki, pemilik ruko yang melaporkan dan mengaku dimintai uang sebesar Rp42 juta oleh para pelaku. Dengan berdalih ada tunggakan uang keamanan sebelum korban membeli ruko tersebut.
“Ya, kalau korban tidak membayar tokonya akan dirusak, seperti yang kita lihat di video itu. Mereka mematok Rp350 ribu per bulan untuk jasa keamanan,” ujarnya.
Menurutnya, hingga saat ini sudah ada 13 korban yang melapor.
Hengki mengatakan, banyaknya tindak premanisme yang tumbuh lantaran korban tidak melaporkannya ke polisi. Karena itu, dia mengimbau masyarakat untuk berani melapor, bila menjadi korban premanisme.
“Kami tidak akan mundur dan terus akan memberantas aksi premanisme di wilayah hukum Polres Metro Jakarta Barat. Jika mereka mengancam, kita ancam balik, jika mereka melawan kita tembak,” pungkasnya.
Dalam kasus ini, polisi telah menahan delapan tersangka, yakni VY (46), MG (43), FY (50), SI (46), MN (36), MA (38), HMN (33) dan AA (33).
Hengki menuturkan, proses penangkapan berlangsung dramatis. Terlihat saat petugas Kepolisian dari Unit Jatanras Polres Metro Jakarta Barat masuk dengan menyamar sebagai warga biasa, nyaris mendapatkan kekerasan dari para pelaku preman berseragam tersebut.
“Anggota kami sempat mendapatkan kekerasan dari para pelaku saat penyamaran,” imbuhnya.
Dia menjelaskan, pemberantasan para pelaku premanisme merupakan salah satu program prioritas Kapolri. Menurutnya, fenomena dalam kasus ini yang dinamakan sillent sound atau suara senyap, di mana masyarakat takut untuk melaporkan kepada pihak berwajib, tetapi masyarakat resah sehingga menimbulkan fire of crime.
Dia mengimbau kepada masyarakat luas, jika ada kejadian serupa jangan sungkan-sungkan melaporkan kepada aparat kepolisian untuk segera ditindaklanjuti. “Siapa pun itu pelakunya akan kami tindaklanjuti. Kami ingatkan, tidak ada tempat bagi preman di Jakarta Barat,” paparnya.
Atas perbuatannya, kedelapan pelaku dijerat Pasal 170 KUHP tentang Kekerasan Terhadap Orang atau Barang dan Pasal 368 KUHP tentang Pemerasan.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.