Posdaya Angkat Usaha Kreatif Sendal Batik Solok

Editor: Koko Triarko

2.528
SOLOK – Kreativitas Daita Nosi, anggota Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di Kota Solok, Sumatera Barat, yang satu ini sekiranya patut diacungi jempol. Meski dengan berbagai keterbatasan, ia mampu bertahan bahkan perlahan berkembang dengan menekuni usaha sendal batik.
Meski masih menggunakan peralatan serba sederhana, namun semangatnya yang luar biasa mampu menghasilkan karya yang membanggakan. Bahkan, produk sendal batiknya sering diikutkansertakan dalam pameran oleh Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kota Solok.
Sudah banyak pula peminat sendal batik produksi wanita di Kota Solok ini. Namun, kondisi Daita Nosi yang menekuni usaha sendal batik bersama suaminya, Lasrial, masih memprihatinkan.
Ketua Umum Lembaga Koordinasi Kesehahteraan Sosial (LKKS) Provinsi Sumatera Barat Nevi Zuairina/Foto: M. Noli Hendra
Tempatnya memproduksi yang sekaligus menjadi pusat pemasarannya di RT01/ RW02 Tanah Garam, Kota Solok, masih berupa warung kecil. Di tempat yang sempit inilah Daita Nosi bekerja memenuhi permintaan para pelanggannya. Setiap bulan, Daita Nosi mampu memproduksi maksimal 10 kodi sendal batik, yang bahannya terdiri dari kertas karton, serta bahan baku yang sebagian merupakan daur ulang.
Ketika, tim dari Lembaga Koordinasi Kesehahteraan Sosisal (LKKS) datang ke warungnya, seorang anak wanita yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar yang melayani. Wanita kecil itu tak lain adalah putrinya Daita Nosi.
Sepintas, usaha sendal batik itu tampak berjalan lancar. Namun, sebagaimana usaha kecil pada umumnya, usaha sendal batik Daita Nosi masih menghadapi masalah permodalan dan pemasaran.
Meski sendal batik Kota Solok ini sudah banyak tampil di berbagai pameran, tapi nasib perajinnya seperti Daita Nosi, masih tergolong dhuafa. Sangat kurang dukungan berkaitan pamasaran dan permodalan.
Hal demikian pun, tampak dari belum munculnya Sendal Batik Labo produksi putra daerah di permukaan.
“Kita pun tentu tidak perlu saling salah menyalahkan. Bagaimana pun juga, Daita Nosi masih terbilang dhuafa dalam banyak hal. Dhuafa dalam komunikasi, dhuafa dalam permodalan, dhuafa dalam lobbiying, dhuafa dalam pemasaran,” kata, Ketua Umum LKKS Provinsi Sumatera Barat, Nevi Zuairina, Jumat (24/8/2018).
Ia menyebutkan, persoalan yang dihadapi oleh Daita Nosi itu pun kemudian mendapatkan bantuan dari Baznas dan LKKS Sumatra Barat, yang didukung oleh Yayasan Damandiri.
Bahkan, katanya, LKKS juga telah turun tangan mendongkrak pemodalan, namun masih belum mencukupi. Sementara kemandirian warga dhuafa, pasangan suami-istri dari Tanah Garam ini, masih perlu sokongan banyak pihak.
“Mereka, meski sudah mengangkat nama Kota Solok melalui kegiatan pameran produksi daerah, namun masih meratapi nasibnya.  Modal usaha yang masih kurang, manajemen pemasaran butuh dukungan. Tentu saja, lembaga terkait masih dibutuhkan untuk membebaskan Daita Nosi dari kehidupan dhuafa,” jelasnya.
Nevi meyakini, jika lembaga terkait bersama pimpinan daerah Kota Solok menggenjot maksimal usaha yang dilakukan Daita Nosi tersebut, maka usaha kreatif yang demikian akan membuat Solok lebih dikenal banyak orang.
“Solok yang selama ini populer dengan berasnya, akan semakin populer kalau Daita Nosi berhasil diatasi. Kota Solok dengan berasnya yang ternama, akan lebih populer dengan produksi sendal batiknya,” ujarnya.
Istri Gubernur Sumatera Barat ini mengatakan, hal tersebut bisa menjadi kenyataan, jika Daita Nosi meninggalkan statusnya dari dhuafa, dan beralih ke kelompok muzaki, warga mampu yang berzakat, karena usahanya berkembang pesat.
Menurutnya, peralihan kehidupan Daita Nosi dari dhuafa ke muzaki bisa menjadi kenyataan, kalau semua unsur punya keikhlasan maksimal mendongkrak kehidupan perajin dari Tanah Garam ini.
“Selain dhuafa, Daita Nosi juga anggota Posdaya kita di Solok ini. Untuk itu, kita dari LKKS perlu membantu,” ungkapnya.
LKKS pun juga telah memotivasi Daita Nosi, untuk menjadi pengusaha tangguh, yang ujung-ujungnya nanti akan membuatnya masuk dalam kelompok muzaki, mampu dan membayar zakat.
Baca Juga
Lihat juga...