Posdaya Anyelir Butuh Pendampingan dan Pembinaan Lanjutan

Editor: Mahadeva WS

201

JAKARTA – Astuti (30), seorang ibu satu anak, melihat secara detil dan seksama, arahan dari anggota Posdaya yang bertugas di Posyandu, Anyelir, Cikoko Timur, Jakarta Selatan. Setelah melakukan timbang, ukur tinggi badan, Nathan Rafa, putranya yang berusia tiga tahun, dibawa menuju salah satu petugas posdaya lain yang bertugas memberikan imunisasi.

“Saya rutin membawa anak untuk imunisasi. Kalau Imunisasi Campak, Polio itu sebelumnya sudah dilakukan di Bidan, sedangkan di Posyandu ini imunisasi yang disarankan Pemerintah yakni imunisasi Polio lagi yang bulan lalu dilakukan dan sekarang imunisasi MR. Alhamdulillah sudah semuanya tinggal imunisasi MR ketiga, dan itu bulan depan,” ujar Astuti, saat ditemui di Posyandu Anyelir, Cikoko Timur, Jakarta Selatan, Rabu (29/8/2018).

Ibu Noer Satriyana, Ketua Posdaya Anyelir, foto M. Fahrizal

Posdaya Anyelir yang diketuai Noer Satriyana dibantu Umiyati, Lismawati, Sarniti Sarwana, Nurhayati, dan Juriah, bahu membahu melayani warga Cikoko Timur, Jakarta selatan di Posyandu.

Noer Satriyana, kepada CendanaNews mengatakan, Posdaya Anyelir berdiri pada 2 Juli 2015. Posdaya Anyelir memiliki empat program kerja (pokja). Pokja satu fokus dibidang keagamaan (majelis ta’lim), Pokja dua dibidang pendidikan (paud), Pokja tiga di bidang pertamanan, dan Pokja keempat kesehatan (posyandu).

28 orang yang berkecimpung didalam posdaya, menggerakan organisasi tanpa ada bantuan atau berjalan mandiri. “Alhamdulillah dengan kerja sukarela dari kader-kader posyandu, kader RW, semuanya bahu-membahu memajukan pokja yang ada, dan memang posdaya ini diketahui dan dibawah naungan ketua RW,” ungkap Noer Satriyana.

Noer yang biasa disapa Ibu Upi menyebut, Posdaya Anyelir dalam menjalankan kegiatan, tanpa bantuan dari pihak luar. Posdaya anyelir muncul dari kegiatan mahasiswa Universitas Trilogi, yang datang memberikan sosialisasi tentang program Pos Pemberdayaan Masyarakat (Posdaya).

Meski sudah berjalan, saat ini anggota Posdaya Anyelir belum mengenal program Tabur Puja, yang pernah diperkenalkan para mahasiswa. Anggota belum mengetahui secara detail program tersebut. “Jadi begitu mereka melakukan pelatihan dan selanjutnya pembentukan, setelah itu dilepas begitu saja, tanpa mendapatkan bimbingan lagi. Menjalankan posdaya secara mandiri. Akhirnya setelah berjalan setahun lebih, barulah mendapatkan undangan-undangan kegiatan pelatihan di kampus Trilogi. Baru tiga kali mendapatkan undangan pelatihan,” jelas Ibu Upi.

Ibu Upi mencatat, warga menyambut baik Posdaya. Namun, karena berjalan secara mandiri, kegiatan dilakukan secara gotong royong. Dengan demikian, apa yang dilakukan, terlihat datar tanpa ada greget sama sekali. H berbeda dengan posdaya lainnya yang mungkin melakukan kegiatan begitu meriah dan sangat greget.

Ibu Upi menyebut, apa yang dilakukan Posdaya Anyelir dari awal terbentuk hingga saat ini mengalir begitu saja. Hal tersebut berbeda dengan posdaya lain, yang bisa lebih memiliki greget ketika menggelar sebuah acara. Posdaya Anyelir bisa dikatakan masih terbelakang, dan untuk maju seperti posdaya lainnya masih memerlukan proses.

Ibu Upi pernah mengikuti studi banding ke beberapa Posdaya, diantaranya Posdaya yang berada di Rawajati dan Pengadegan. Kedua posdaya tersebut juga memiliki nasib serupa, belum berkembang. Dengan melihat kondisi tersebut, Ibu Upi memiliki harapan, kelompoknya bisa mendapatkan bimbingan lagi secara intens.

Harapannya, Posdaya Anyelir juga bisa memiliki program tabur puja seperti posdaya lain yang sudah lebih maju. Di lingkungan sekitar Posdaya Anyelir, masih banyak yang membutuhkan dana untuk mengembangkan usaha. Walaupun Posdaya Anyelir terbilang masih terbelakang, namun kelompok tersebut sudah memiliki ciri khas, berupa kerajinan daur ulang. Namun, usaha tersebut terkendala penjualan. Hal itu berimbas, pengerjaan kerajian dilakukan dengan santai.

“Keinginan banyak, namun yang menjadi kendala diseputar pemasaran. Mesin penggilingan untuk pembuatan kompos, mesin jahit untuk daur ulang, sudah ada di posdaya Anyelir, dan kita juga belajar banyak dari posdaya-posdaya lainnya yang sudah maju, namun yang menjadi kendala kita masih belum bisa untuk pemasarannya. Untuk itulah saya meminta dari pihak Trilogi untuk memberikan pembinaan, pelatihan perihal teknik pemasaran,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...