Posdaya Sadewo Olah Limbah Jadi Produk Bernilai Jual

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

147

YOGYAKARTA — Meski berada di daerah cukup terpencil, masyarakat dusun Pereng, Bumirejo Lendah, Kulonprogo, Yogyakarta, ternyata memiliki kualitas SDM yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Buktinya, secara kreatif mereka mampu berinovasi memanfaatkan potensi yang ada untuk memajukan desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan seluruh warga.

Memanfaatkan limbah rumah tangga, limbah usaha kecil, maupun limbah usaha peternakan yang ada, warga dusun Pereng, mampu menghasilkan sejumlah produk yang bisa dijual untuk menambah penghasilan.

Semua itu berkat keberadaan Posdaya Sadewo, sebagai induk hampir semua kegiatan warga dusun Pereng.

Lewat bank sampah misalnya, warga secara bersama-sama rutin mengumpulkan barang bekas tak terpakai setiap bulannya. Setelah terkumpul, kemudian dijual ke pengepul, dan hasilnya ditabung untuk keperluan warga.

“Setiap sebulan sekali, warga kumpulan barang bekas seperti botol bekas, kardus. Sekali kumpul dapat mencapai 50 kilo. Selain jadi tabungan warga, sebagian hasil masuk kas kelompok,” kata ketua Posdaya Sadewo, Wasino.

Ketua Posdaya Sadewo Wasino. Foto: Jatmika H Kusmargana

Dari kegiatan bank sampah tersebut, warga dusun Pereng bahkan juga mampu membantu warga lain yang kurang mampu atau sedang terkena musibah. Hal ini sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas pada warga lainnya.

“Biasanya dana yang terkumpul, sebagian kita manfaatkan untuk membantu warga miskin atau warga yang sedang terkena musibah. Seperti saat ada orang meninggal,” katanya.

Selain mengolah sampah bekas, warga dusun Pereng melalui Posdaya Sadewo juga melakukan pengolahan limbah produksi tempe benguk, menjadi produk kecap.

“Di sekitar sini banyak yang buat tempe benguk. Sementara limbahnya hanya dibuang. Dari situ kita coba manfaatkan untuk dibuat kecap. Biasanya satu botol kita jual Rp7-12 ribu,” katanya.

Banyaknya warga yang memelihara ternak seperti sapi, juga dimanfaatkan untuk menghasilkan produk berupa pupuk. Kotoran sapi diolah sedemikian rupa dengan cara difermentasi, untuk kemudian menjadi pupuk cair tanaman.

“Pupuk cair yang dihasilkan itu kita tempatkan dalam botol. Kemudian kita jual Rp12 ribu per botol,” ungkapnya.

Menurut Wasino, berbagai upaya inovasi pemanfaatan limbah tersebut dilakukan Posdaya Sadewo, dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan pada seluruh warga. Yakni dengan bekerjasama dengan Universitas yang memiliki program KKN di dusun Pereng.

“Hingga saat ini, sejumlah program itu masih berjalan. Meskipun untuk produksi kecap benguk dan pupuk cair agak menurun, karena kesulitan memasarkan produk. Tapi untuk bank sampah tetap berjalan,” katanya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk